Goldman Sachs: AI Pangkas Gaji Pekerja hingga 10 Tahun Usai PHK
MEDIASERUNI.ID – Goldman Sachs memperingatkan bahwa pekerja yang kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi kecerdasan buatan berpotensi menanggung kerugian finansial dan karier selama satu dekade penuh.
Data 40 Tahun Jadi Landasan Peringatan Goldman Sachs
Bank investasi asal Amerika Serikat itu merilis analisis berbasis data pasar tenaga kerja selama 40 tahun terakhir. Penelitian ini menelaah survei terhadap 20.000 pekerja sejak 1980 untuk memetakan dampak nyata dari pergantian tenaga manusia oleh teknologi.
Hasilnya tidak menggembirakan. Para peneliti menemukan bahwa pekerja yang digantikan teknologi menanggung akibatnya jauh melewati momen kehilangan pekerjaan itu sendiri.
“Analisis kami menunjukkan bahwa, mirip dengan gelombang perubahan teknologi sebelumnya, penggantian oleh AI dapat menimbulkan biaya jangka panjang bagi pekerja yang terdampak, memperburuk hasil pasar tenaga kerja selama beberapa tahun. Dampak ini bisa jauh lebih besar ketika penggantian itu bertepatan dengan resesi,” tulis para analis Goldman Sachs.
Gaji Turun, Pemulihan Pendapatan Jauh Lebih Lambat
Rata-rata Minus 3 Persen Saat Kembali Bekerja
Secara historis, pekerja yang kehilangan pekerjaan akibat teknologi rata-rata mengalami penurunan gaji sebesar 3 persen saat berhasil mendapat pekerjaan baru, dibandingkan mereka yang kehilangan pekerjaan dari sektor yang lebih stabil.
Angka itu baru permukaan. Dalam kurun satu dekade setelah PHK, pertumbuhan pendapatan riil kelompok ini rata-rata 10 poin persentase lebih rendah dibandingkan pekerja yang tidak pernah kehilangan pekerjaan.
Kesenjangan Bertahan Satu Dekade
Bahkan jika dibandingkan sesama pekerja yang mengalami PHK, mereka yang digantikan teknologi tetap tertinggal. Pertumbuhan pendapatan riil mereka 5 poin persentase lebih rendah dibandingkan pekerja yang kehilangan pekerjaan karena alasan lain — bukan karena disrupsi teknologi.
Artinya, jenis PHK ini meninggalkan luka yang lebih dalam dan lebih lama sembuhnya di kantong para pekerja.
Susah Cari Kerja dan Kualitas Pekerjaan Merosot
Satu Bulan Lebih Lama Mencari Kerja
Selain soal gaji, durasi pengangguran pun turut terdampak. Para peneliti Goldman Sachs mencatat bahwa pekerja yang kehilangan pekerjaan akibat teknologi membutuhkan waktu sekitar satu bulan lebih lama untuk menemukan pekerjaan baru, dibanding mereka yang kehilangan pekerjaan di bidang yang lebih stabil.
Risiko pengangguran yang lebih tinggi itu tidak berhenti di titik awal. Selama 10 tahun berikutnya, kelompok ini cenderung mengalami masa menganggur lebih panjang dibanding pekerja yang tidak terdampak teknologi.
Pindah ke Pekerjaan Minim Keahlian
Masalah tidak berhenti di soal durasi mencari kerja. Dikutip dari Business Insider, Goldman Sachs juga menyebut bahwa pekerja yang digantikan teknologi cenderung beralih ke pekerjaan dengan tingkat keahlian yang lebih rendah — terutama pada kemampuan analitis dan interpersonal.
Penyebabnya jelas. Nilai keahlian yang mereka miliki sebelumnya sudah diisi oleh teknologi, sehingga posisi tawar mereka di pasar kerja melemah drastis. Pertumbuhan kekayaan mereka pun ikut melambat dalam jangka panjang.
PHK Terkait AI Sudah Terasa di Berbagai Sektor
Ancaman ini bukan sekadar proyeksi masa depan. Pemutusan hubungan kerja yang berkaitan dengan AI sudah mulai terasa di sejumlah sektor. Banyak perusahaan aktif memangkas biaya operasional dengan mengadopsi AI sebagai pengganti tenaga manusia.
Goldman Sachs sebelumnya memperkirakan bahwa penggantian dan peningkatan berbasis AI telah memangkas pertumbuhan lapangan kerja baru sekitar 16.000 pekerjaan per bulan dalam setahun terakhir di Amerika Serikat.
Dalam proyeksi jangka panjang untuk pasar kerja AS, bank tersebut memperkirakan AI berpotensi menggantikan hingga 7 persen dari seluruh tenaga kerja AS dalam 10 tahun ke depan.
Pelatihan Ulang Jadi Jalan Keluar
Goldman Sachs tidak hanya memaparkan ancaman tanpa solusi. Bagi pekerja yang sudah terlanjur terdampak disrupsi teknologi, pelatihan ulang atau reskilling terbukti memberi perbedaan nyata.
Mereka yang mengikuti pelatihan ulang setelah kehilangan pekerjaan akibat teknologi mencatat peningkatan rata-rata 2 poin persentase dalam pertumbuhan upah riil kumulatif selama 10 tahun berikutnya. Potensi pengangguran jangka panjang kelompok ini juga menurun sekitar 10 poin persentase dibandingkan yang tidak mengikuti pelatihan apa pun.

Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, dan pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK). Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.

