HAMPARAN Perak sebetulnya kota setengah kampung. Letaknya lebih dakat ke Kerajaan Labuhan ketimbang Kesultanan Deli, yang tersambung jalan besar melintasi daerah bernama Kampung Besar. Kampung inilah yang menjadi tujuan Haji Usman.
Jalan besar berbatu namun rata itu menuju kearah Belawan, dahulu namanya Gudang Arang sebelum berubah jadi Pelabuhan Belawan, pelabuhan utama Kompeni Belanda kala itu yang sudah bermarkad di Deli Serdang.
Dari Hamparan Perak cuma berjarak kurang lebih delapan Kilometer dan hanya beberapa kilometer dari Kerajaan Labuhan. Itulah sebebnya Hamparan Perak menjadi daerah yang ramai pada masa Kerajaan Labuhan.
Namun sejak kompeni Belanda bermarkas di wilayah Kesultanan Deli, Hamparan Perak pun kalah pamor. Ditambah lagi ketika itu pengaruh Kerajaan Labuhan pun mulai memudar.
Saat itu, tak jauh dari jalan besar disebuah surau, di Kampung Hamparan Perak, sedang berlangsung pengajian besar. Seorang pria berusia 30-an tampak diantara para kalifah, sebutan ulama kala itu di Melayu.
Pria bertubuh tinggi tegap, berhidung mancung, dengan sorot mata tajam, mengenakan peci hitam dan seragam hitam berbalut sarung, terlihat tenang.
Dia, Haji Usman, hadir di majelis tersebut atas undangan Kalifah Akhmad, sesepuh Kampung Hamparan Perak. Belakangan ini, Haji Usman memang jadi pembicaraan luas masyarakat Deli. Pria perantauan Jawa itu memang suka diundang berceramah di majelis-majelis pengajian. Hampir setiap ceramahnya, isinya selalu menyudutkan Pemerintahan Kompeni.
Di Kampung Hamparan Perak Haji Usman memang sudah dua kali berkunjung. Pertama ketika kemalaman dalam perjalanan dan bermalam di masjid di kampung itu, dan kedua, kali ini diundang sesepuh kampung Hamparan Perak, Kalifah Akhmad.
Dewasa itu Kompeni Belanda telah menancapkan cakarnya di Kesultanan Deli. Menguasai pula jalur perdagangan rempah rempah dan hasil bumi. Tak puas menguasai rempah rempah dan hasil bumi, Sultan Delipun ditekan pula dipaksa menyerahkan are lal perkebunan tembakau.
Lalu memaksa penduduk kampung membuka lahan lahan baru perkebunan.
Mulailah orang orang belanda itu mengeruk sebanyak banyaknya hasil bumi tanah Deli. Kemudian terus menjalar sampai keujung ujung tanah Sumatera.
Gubernur Jenderal Belanda yang memerintah ketika itupun sangat pintar. Ia menarik simpati rakyat dengan membuka kebun-kebun baru, lalu mengupah tenaga tenaga pribumi. Tidak heran kalau kemudian rakyat mërasa senang. Apalagi janji kompeni untuk mengangkat mandor-mandor dari kalangan pribumi.
Perkebunan-perkebunan yang dibuka pun disebut perkebunan milik orang-orang pribumi, dan orang-orang pribumi juga yang merasakan keuntungan dari perkebunan perkebunan itu. Luar biasa memang. Ucapan-ucapan kompeni pada waktu itu telah menarik simpati masyarakat pribumi.
Padahal perkebunan itu milik kompeni. Mereka mengajak orang pribumi seakan-akan ikut memiliki. Padahal penduduk diupah, dan tentu saja dengan upah yang tidak sepadan. Dan kompeni yang untung besar. Hasil kebun yang dipetik penduduk pribumi mereka angkut ke pelabuhan Belawan. Lalu dibawa ke negerinya dengan kapal-kapal besar.
Fakta-fakta itu yang disampaikan Haji Usman mengenai kelicikan kompeni belanda, yang membuat sekalian mata melotot. Para Kalifah di majelis itu yang selama ini menilai kompeni baik. Kompeni menciptakan lapangan pekerjaan bagi penduduk pribumi. Kompeni memberi harapan kehidupan lebih baik bagi penduduk Deli Serdang.
Dan, kompeni menjamin keamanan dan keselamatan penduduk pribumi. Makanya, mendengar Haji Usman menyampaikan ucapan-ucapan yang menyudutkan kompeni, sekalian kalifah yang langsung bergusar, dan menilai anak muda didepannya sengaja memfitnah.
Beberapa kelihatan saling pandang. Dan nampak sekali kalau mereka semua gelisah, meski mereka membenarkan dan tak menampik semua kebenaran yang disampaikan Haji Usman.
“Saya sadar yang hadir disini merupakan sesepuh-sesepuh serta kalifah-kalifah terhormat. Itulah mengapa saya berani bicara benar. Untuk menerangkan kebenaran seorang khalifah tak mengenal kata takut. Karena sebenar-benarnyalah itu perintah Allah!”
Haji Usman menghela napas sebentar, menyapu pandangannya ke kalifah-kalifah didepannya. “Saya merasa apa yang saya katakan benar. Dan saya melihat dengan mata kepala sendiri mereka memuati rempah-rempah ke kapal-kapal besar itu, dan rempah-rempah itu hasil bumi tanah ini!”
Hening sejenak sebelum seorang berucap keras. “Saudara Kiai, meski kami belum mengenalmu namun kami memahami ucapanmu. Apakah saudara Kiai tahu, belum pernah seorang kalifah berpolitik.”
Orang yang bicara Kalifah Kasim, dia sesepuh kampung sebelah dengan sorot mata tajam. Haji Usman, menanggapi tenang. “Saya tidak berpolitik tapi menerangkan apa yang saya lihat!”
Kalifah lainnya menyahuti. “Dengan ikut memikirkan urusan pemerintah, sama artinya berpolitik!” Haji Usman pun menjawab. “Apakah kompeni tahu tanah Deli banyak menyimpan khalifah?”
Inilah jawaban yang sungguh mengena. Sekalian kalifah yang hadir semua terdiam. Menunduk, merasa malu. Mereka tahu, Allah pun telah memerintahkan untuk memerangi kebatilan sampai tetes darah penghabisan. (bersambung)
Cerita ini fiksi semata. Bila ada kesamaan nama ataupun tempat merupakan sebuah faktor kebetulan.