MEDIASERUNI – Dua tokoh sakti bayaran kompeni belanda, Tengku Aba dan Tengku Layang, seperti tak percaya, Haji Usman, manusia yang dicari-cari tahu-tahu muncul dihadapan mereka.
Haji Usman saat itu terlihat tenang, hanya melirik kearah Mahisa yang saat itu sudah tempelkan Parang Setan dibagian tubuh yang terkena ajian Tapak Setan Tengku Aba.
Parang Setan memang senjata mustika hebat. Selain mengandung racun mematikan mustika parang inipun dapat digunakan menarik racun, dan membantu mempercepat pemulihan aliran darah yang gerganggu.
Sesaat Haji Usman menatap tajam dua manusia didepannya. “Kabarnya kalianlah datuk-datuk hebat dari Minang yang bermukim di Aceh. Ilmu kepandaian kalian tinggi, tapi berkelakuan memalukan main keroyok.”
Tengku Layang malah mengekeh. “Hehee, makin cepat kerjaan makin bagus. Nah, untukmu, kami memberi pilihan, menyerah dan kami bawa hidup-hidup kehadapan kompeni atau mampus bersama pelarian Aceh ini.”
Tengku Layang melirik kearah Mahisa yang masih duduk bersilah menormalkan aliran darahnya. Belum semua racun tersedot, namun kondisinya sudah mulai membaik. Haji Usman tertawa kecil. “Lakukan, kalau kalian mampu.”
Selesai bicara Haji Usman renggangkan kaki berbarengan Tengku Layang sambarkan Cakar Setan, disusul Tengku Aba hantamkan Tapak Setan ke dada. Namun mudah saja dielakkan Haji Usman. Bahkan, dalam gerakan berikutnya, tubuh seperti berputar tahu tahu meluncur ke depan laksana seekor naga sambil mematuk.
Tengku Aba yang menyangka Haji Usman bakal meluncur gelagapan. Namun, dari arah samping Tengku Layang memotong, kuku kuku beracunnya memyambar ganas ke leher.
Tapi diluar dugaan, gerakan mematuk tadi mengarah ke Tengku Aba berubah arah ke punggung tangan Tengku Layang. Inilah ilmu silat Delapan Tapak Naga tingkat pertama bernama Pantek Bumi dan dikenal juga dengan sebutan Pedang Fisabillah.
Didahului gerakan lurus keatas, tahu-tahu dua tapak tangan membentuk lapaz Allah berpisah, sedikit terangkat dan buat gerakan mematuk. “Tukk!”
Tengku Layang kontan melengking tinggi. Tangannya laksana terbakar dan tampak membiru. Tengku Aba persis disampingnya justru dalam posisi ragu-ragu, setelah tadi gerakan berubah arah Haji Usman, tak disangka-sangka malah berbalik menyambar pinggangnya. “Baakkk!”
Tengku Aba langsung tersungkur. Tengku Layang masih kibas-kibaskan lengannya yang terasa terbakar. “Setan! Ilmu apa kau gunakan!”
Haji Usman tersenyum. “Namanya Delapan Tapak Naga, datuk. Dan barusan tadi tingkatan pertama dari ilmu silat itu.”
“Delapan Tapak Naga…” Tengku Layang dan Tengku Aba melotot matanya. “Apa hubunganmu dengan Pertapa Tua Puncak Merapi.”
Haji Usman tak menyahut. “Sebaiknya kalian pergi, dan sampaikan pada tuan kalian, suatu saat rakyat Tanah Aceh, Deli dan Tanah Batak akan bersatu, untuk menghancurkan mereka.”
“Keparat! Mampuslah kau!” Berbarengan Tengku Layang keluarkan ajian Cakar Setan disebelah Tengku Aba lakukan hal sama menggelar Tapak Setan. Dari tangan kedua orang itu seketika berpendar-pendar asap hitam pekat.
Wajah Haji Usman langsung membeku. “Hmm, ini rupanya ilmu iblis yang terkenal itu.” Selesai bicara, Haji luncurkan dua tangan kedepan, lalu dibuka dan membentuk lapaz Allah. Setelah ditarik kebelakang pinggang, laksana orang berenang, dua tangan mendadak dilapisi cahaya kebiruan sebatas siku.
Didahulu gerakan bibir menyebut ‘Naga Geni’ dua tangan berwarna kebiruan didorong kedepan. Dan… “Blaarrrr!”
Tengku Layang dan Tengku Aba terpental tiga tombak, terbanting ketanah. Dari mulut keduanya menyembur darah segar. Namun, keduanya masih bisa berdiri. “Setan! Jahanam ini punya ilmu-ilmu aneh. Sebaiknya kita tunda meringkus mereka.”
Selesai bicara begitu, Tengku Layang langsung berkelebat disusul Tengku Aba. (bersambung)