HAJI USMAN sadar, cakar kompeni belanda pada saat itu sudah demikian kuatnya di Tanah Deli. Namun Sultan Deli pun bukanlah sultan kacangan, yang begitu mudahnya ditipu dan ditaklukan. Sultan sadar orang-orang berambut jagung itu licik. Maka melawannya harus dengan kecerdikan.
Sultan sadar, kompeni punya banyak bedil dan meriam-meriam besar. Kalau diusir tentu terjadi perang. Menang? Belum tentu, dan yang iya, rakyatnyalah menjadi korban. Makanya, Sultan Deli pun menganut politik Kemitraan, dengan catatan sama-sama untung.
Sultan berpikir orang-orang berambut jagung itu cuma memikirkan hasil bumi dan rempah-rempah. Silahkan buka perkebunan seluas-seluasnya, tapi yang mengelola rakyat Deli.
Dengan cara begitu rakyatnya pun punya sumber penghasilan, disamping mengelola kebunnya sendiri. Daratan Deli pun jadi semakin luas. Hutan-hutan akan berkembangan menjadi daerah-daerah pemukiman baru.
Selanjutnya, biarlah orang-orang berambut jagung itu yang membersihkan perampok – perampok hutan yang meresahkan rakyatnya. Dengan demikian Sultan Deli tak perlu bersusah payah mengirimkan pasukannya, karena besar juga resikonya.
Gerombolan-gerombolan rampok itu rata-rata tinggi ilmunya. Terutama yang namanya Begal Sungai Ular, bukan saja sadis tapi tubuhnyapun kebal senjata tajam. Ditambah lagi, menurut telik sandi, hampir semua anggotanya merupakan bekas prajurit-prajurit perkasa Sisingamangaraja XII, yang masih mendendam kepada kompeni.
Terhadap Haji Usman, kiai muda pendatang dari Jawa itu, Sultan pun bukan tak mengetahui. Dia kagum terhadap keberanian kiai muda itu, yang terang-terangan menyebut kompeni belanda perampok. Merampok tanah, merampok martabat, dan merampok tenaga rakyat.
Secara diam-diam, sultan pun menebar telik-telik sandinya yang hebat, dan mereka pendekar-pendekar pilih tanding Melayu. Dari mereka Sultan pun tahu pertemuan akbar kalifah dan Hamparan Perak, yang diam-diam mulai mendukung kiai muda dari Jawa itu.
Secara pribadi sultan pun tak meragukan kehebatan kiai muda itu. Terlebih Hamdan, diantara telik sandinya pun melaporkan kehebatan kiai itu, seorang diri memporak-porandakan tangsi kompeni belanda di Aceh. Semoga yang terjadi di Aceh terjadi juga di Deli. Demikian harapan Sultan Deli.
Dan, pagi itu, di Surau Kampung Persatuan, sesepuh Kampung Persatuan bernama Wak Hamdan menghela napas. Dari bagian hidung terdengar dengusan keras. “Huh! Kompeni belanda itu licik dan culas! Mereka memasukan orang-orangnya ke kesultanan. Gerak-gerik sultan diawasi. Tapi untungnya sultan seorang yang cerdik, dan tahu akal bulus mereka.”
Belasan anak muda saat itu menyimak penjelasan Wak Hamdan. “Pendekar Alam Saka dan keluarganya pun terusir dari istana lantaran difitnah kompeni. Tapi ini memang rencana hebat Sultan. Sultan bukan termakan fitnah tapi membiarkan Pendekar Alam Saka diluar istana supaya lebih leluasa melawan kompeni.”
“Alhamdulillah, kalau memang begitu ceritanya,” terdengar suara Salim, tokoh pemuda Kampung Persatuan. “Tapi yang ini, apa Wak tahu tentang itu, kiai yang datang dari Jawa itu, saudara saya di Hamparan Perak bilang namanya Haji Usman.”
Mendengar nama Haji Usman Wak Hamdan langsung tersenyum. “Kiai muda itu dalam perjalanan ke Tanah Batak. Insyaallah, akan menyinggahi kampung kita…”
Baru saja usai bicaranya mendadak terdengar derap kuda. Meski kuda belum kelihatan namun derapnya sudah terdengar ramai. Agaknya kuda kuda itu dilarikan dengan kecepatan tinggi dan bukan lima tujuh ekor saja kedengarannya seperti puluhan.
“Hai! Serdadu serdadu kompenikah?!” teriak Amat, dia tokoh pemuda Kampung Hamparan Perak bersama temannya Saleh. Mendengar teriakan itu yang lain lantas terkesiap. “Harap tenang! Jangan membuat mereka bercuriga!” menyahut Salim.
Saleh persis disebelah Amat nyeletuk. “Jangan jangan bukan kompeni, tapi Begal Sungai Ular!” Salim kembali menenangkan kawan – kawannya. Wak Hamdan terlihat tenang. “Diam, lihat dan tunggu.”
Sesaat kemudian puluhan serdadu kompeni sudah berada didepan surau. Kebanyakan dari mereka serdadu pribumi. Mereka dipimpin Kapten Sutan Adang Alang, lelaki bergelar Datuk Tapak Besi. Dua serdadu disampingnya Sersan Yono Sukirman dan Sersan Samiun.
Sutan Adang Alang teriak meminta Haji Usman keluar. Namun yang keluar Wak Ahmad didampingi Salim dan kawan – kawannya. “Tuan-tuan pengawal kota rupanya. Mengapa tuan-tuan berteriak begitu, tidakkah tuan-tuan lihat kami sedang beribadah. Dan, siapakah orang yang tuan cari itu.”
Tetapi yang menyahut malah Sersan Yono Sukirman. “Heh! Anak muda! Siapa engkau, lancang bicaramu!” Orang yang menghardik sersan Yono Sukirman. “Sadar engkau sedang bicara dengan siapa!?”
“Maaf tuan, kami cuma penduduk kampung biasa. Saya mewakili kawan-kawan saya. Andai pun jawaban saya dianggapkan salah, saya minta maaf.” Salim membungkuk dalam-dalam.
“Bagus!” Sutan Adang Alang tertawa lebar. “Nah, yang mana orang bernama Haji Usman!”
“Tuan sedari tadi menyebut Haji Usman. Kami tidak kenal dengan Haji Usman.”
Raut wajah Sutan Adang Alang langsung berubah tak suka, lantas mengerling kesamping. “Jiungsoro, yang mana Haji Usman!”
Dari arah samping, melangkah lelaki bernama Jiungsoro, dan langsung menyapu pandang. Namun, sesaat kemudian menggeleng, sehingga membuat Sutan Adang Alang kecewa. Namun, Jiungsoro mendadak membisiknya sembari menunjuk kepada Amat dan Saleh.
“Kalian berdua benarkah orang Hamparan Perak?!” Amat menyahut setelah saling pandang dengan Saleh. “Benar! Kami orang Kampung Hamparan Perak. Ada apakah tuan?”
Yang menyahut malah Jiungsoro, mata-mata bayaran kompeni. “Belagak tolol! Kalian masih ingat aku. Aku yang kalian curigai sewaktu berlangsung pertemuan para kalifah di Hamparan Perak. Nah, akui saja, kalau kalian kesini mau bertemu kiai dari Jawa itu.”
“Fitnah! Kau menuduh tanpa bukti!” Amat bergeser sambil melirik Saleh yang saat itu sudah siap menghadapi yang terjadi. Sutan Adang Alang tak sabar, lantas memberi perintah menangkap Amat dan Saleh.
Lima serdadu paling dekat langsung bergerak hendak meringkus, namun semuanya dibuat terjungkal hanya dengan satu gerakan. Pemamdangan itu langsung membuat gusar Sersan Yono Sukirman dan Samiun yang lantas menerjang.
Tetapi gerakannya terhenti ketika mendadak terdengar suara keras. “Hai! Tuan-tuan terhormat. Tuan mau ketemu saya, mengapa yang tidak tahu menahu jadi sasaran.”
Menyaksikan orang yang baru datang Jiungsoro langsung melengak. “Tu-tuan.., itu… Itu Haji Usman!” Keseluruhan pemuda Kampung Persatuan terkesiap. Mereka tak berharap kehadiran Haji Usman saat ini. Serentak mereka raba pinggang menyentu golok. Namun Salim menenangkan.
Haji Usman tertawa kecil. “Tuan hendak bertemu saya… Sekarang sudah bertemu. Apa yang tuan-tuan inginkan.”
Sutan Adang Alang serasa tak percaya. Orang didepannya sama sekali tak seperti Kalifah, yang identik berseragam putih. Tapi Haji Usman ini berseragam hitam, meski ada peci kupluk hitam menutup kepala. “Tuan benarkah Haji Usman?”
Haji Usman cuma mengangguk. “Apa yang tuan inginkan dari saya.” Sutan Adang Alang tersenyum tipis. “Tuan diundang pemerintah kompeni.”
“Saya cuma orang biasa. Buat apa kompeni mengundang saya.”
“Soal itu saya tidak tahu. Sebaiknya tuan ikuti saja, bertanyanya nanti saja.”
Haji Usman cuma keluarkan suara didada. Dia sadar Salim dan teman-temannya sudah siap tempur. Namun bukanlah tandingan dua sersan itu, terutama Sutan Adang Alang. Menimbang kesitu Haji Usman lantas mengerlingi Wak Ahmad, yang lantas mengerti dan meminta agar Salim menahan diri. Haji Usman sendiri lantas ikut bersama para serdadu itu. (Bersambung)