MEDIASERUNI – Tengku Aba dan Tengku Layang ini memang tokoh-tokoh sakti bayaran kompeni. Mereka sebetulnya ditugaskan meringkus Haji Usman, namun dalam perjalanan malah bertemu Mahisa, pentolan pejuang Aceh paling diburu kompeni saat itu.
Makanya, mereka pun girang bukan kepalang. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Haji Usman dapat Mahisa pun diringkus. Begitu pikir mereka. Namun keduanya mendadak tercekat begitu sadar Mahisa itu ternyata pemilik senjata hebat Parang Setan.
Saat itu, Mahisa sudah mengelebatkan Parang Setan. Namun begitu mudahnya dielakan Tengku Aba. “Setan! Kau memilih mati!” Tengku Aba membentak keras. Cuma sekejap tubuhnya meliuk, tahu-tahu dua tangan membentuk cakar menyambar cepat.
Mengerikan. Aroma amis darah menebar dari kuku kuku Tengku Aba yang berwarna hitam pekat. Itulah Ajian Cakar Setan. Siapa pun manusianya jika terkena cakar beracun itu maka tubuhnya langsung membiru dan tewas seketika.
Tetapi yang di depannya adalah Mahisa, manusia berjuluk Pendekar Walet Putih. Sekejap mematahkan serangan membokong Tengku Layang, ayah remaja bernama Rebo alias Raden Erucakra Bagus Obong ini, langsung kitirkan Parang Setan.
Tengku Aba gelagapan tak mengira Mahisa secepat itu lakukan serangan balik. Tapi dia beruntung, Tengku Layang yang tadi mundur selangkah lancarkan serangan mematikan bernama Tapak Setan.
Bagian tapak tangan Tengku Layang berubah hitam pekat. Jangankan tubuh manusia batu karang sekalipun akan hancur lebur bila terkena pukulannya.
Mahisa tak mengira Tengku Layang lancarkan serangan mematikan jadi nanggung, Parang Setan yang siap merobek punggung Tengku Aba ditarik mundur, Mahisa sendiri melompat kesamping.
Tengka Aba melirik Tengku Layang. “Hmm nama besar Pendekar Walet Putih ternyata bukan bualan belaka. Dia mamang lihai.” Tengku Layang meringis. “Ya, ga bisa dianggap enteng. Sebaiknya berhati-hati.”
Usai berucap Tengku Layang hujamkan pandang ke Mahisa. “Mahisa, apa untungnya kau pertahankan surat itu. Lebih baik sarahkan pada kami dan kau bisa tenang kembali ke padepokanmu lalu mendidik murid-muridmu dengan tenang.”
Mahisa tak menyanut kecuali parangnya berkelebat dua kali. Kelebatan pertama menghantam udara kosong. Aroma menyengat berbau- belerang laksana ditaburkan menebar bagitu saja. Kelebatan kedua, ini yang membuat Tengku Layang terkesiap hebat.
Siapa mengira orang yang masih mengambung diudara tiba-tiba seumpama walet sudah menyambar begitu ganasnya. Tapi bukan ini yang buat Tengku Layang terkesiap, melainkan aroma belerang yang menebar justru menyerbu sebelum parang itu menyambar.
Akan tetapi Tengku Layang bukanlah toko silat biasa. Menerima kedasyatan Parang Setan cepat dia kibaskan lengan. Aroma bele rang yang sanggup menyumbat pernapasan buyar seketika.
Sama сеpatnya Tengku Layang mengibas, tubuh meliuk aneh, tangan kiri diguna kan buat meninju maju selengan. Sebuah pancingan. Sebab berbarengan itu tangan kanan sudah memukul. Itulah tipuan hebat luar biasa.
Andai saja bukan Mahisa yang jadi lawannya dalam kejap itu juga tentulah sudah terjengkang hebat dan muntah darah kena tinju Tengku Layang yang sanggup merontokkan batu besar sekalipun. (bersambung)