Karawang, MEDIASERUNI.ID – Inovasi menjadi salah satu bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Hal tersebut ditunjukkan mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Universitas Lampung (Unila) melalui karya inovatif.

Karya inovatif tersebut berupa aplikasi pendeteksi gempa dan buku digital ARCADE (Augmented Reality for Conceptual Advance in Digital Education): Buku Digital Solusi Problematika Kognitif Materi Geometri Peserta Didik Sekolah Dasar.

Karya tersebut dipresentasikan dalam ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang mempertemukan berbagai tim mahasiswa dari perguruan tinggi di Indonesia.

Perwakilan tim UPI, Muhammad Hari Fajar, menjelaskan bahwa timnya mengangkat tema mitigasi bencana di kawasan Sesar Lembang yang memiliki panjang sekitar 29 kilometer dan berpotensi menimbulkan gempa bumi.

“Kami melihat potensi ancaman dari Sesar Lembang. Karena itu, kami mengembangkan perangkat lunak dan perangkat keras untuk membantu masyarakat dalam menghadapi risiko gempa,” ujar mahasiswa yang akrab disapa Aray.

Aplikasi yang diberi nama Smart Escape tersebut dirancang untuk memberikan peringatan dini kepada warga. Saat getaran awal terdeteksi, sistem akan mengirimkan sinyal peringatan yang dapat menjangkau gang-gang kecil di kawasan permukiman.

“Tujuannya untuk mempermudah proses evakuasi warga. Dalam simulasi yang kami lakukan, waktu evakuasi yang semula sekitar tiga menit dapat dipangkas menjadi dua menit,” katanya.

Baca Juga:  Ketua PSSI Bandung Barat Resmi Tutup Kursus Kepelatihan Sepak Bola Lisensi D Gelombang 2

Selain sistem peringatan dini, tim juga mengembangkan teknologi yang mampu memantau pergerakan warga dan terintegrasi dengan Google Maps untuk membantu proses evakuasi secara lebih efektif.

Menurut Aray, pengembangan teknologi tersebut melibatkan mahasiswa Teknologi Pendidikan UPI yang berkontribusi dalam pengembangan perangkat lunak maupun perangkat keras.

Tim juga bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk melakukan identifikasi jalur evakuasi yang sering digunakan masyarakat.

“Selama sekitar satu bulan kami melakukan pemetaan jalan yang paling sering dilalui warga, termasuk jalan yang minim pencahayaan,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan tim Unila, Eva Mellinsy, memaparkan inovasi berupa buku digital berbasis Augmented Reality (AR) yang diberi nama ARCADE. Inovasi tersebut lahir dari hasil temuan selama kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP).

“Kami menemukan adanya zona merah pada literasi numerasi, khususnya pada materi geometri bangun datar segitiga dan bangun ruang limas,” kata Eva.

Menurutnya, buku digital tersebut membantu siswa memvisualisasikan bentuk-bentuk geometri secara lebih mudah sehingga konsep yang dipelajari dapat dipahami dengan lebih baik.

“Kami sudah mengimplementasikan media pembelajaran ini dan hasilnya menunjukkan peningkatan pemahaman siswa,” ujarnya.

Baca Juga:  Dorong Produktifitas Ekonomi Biru Presiden Prabowo Tebar Benih Ikan Nila Salin di Karawang

Eva menjelaskan bahwa fokus pembelajaran diarahkan pada bangun datar segitiga dan bangun ruang limas. Banyak siswa masih mengalami kesulitan membedakan sisi alas dan sisi tegak ketika objek diputar. Tentu, ini akan memengaruhi pembelajaran geometri tingkat lanjut.

“Ketika bangun ruang diputar, siswa sering beranggapan bahwa bagian bawah selalu menjadi alas, padahal belum tentu demikian. Karena itu kami fokus memperkuat pemahaman konsep geometri,” jelasnya.

Baik tim UPI maupun Unila berharap inovasi yang mereka kembangkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan dunia pendidikan.

Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan tersebut juga menjadi wadah mempererat hubungan antarmahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

“Kami baru bertemu di sini, tetapi suasananya sangat akrab. Terjalin pertemanan yang erat, saling mendukung, dan semoga bisa berlanjut ke depannya,” pungkas Aray. (Damar)