“Di balik senyum para lansia yang mengikuti senam sehat dan cek kesehatan gratis pada peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-30 di Pemalang, tersimpan kisah kepedulian yang setiap hari dihadirkan RPS Bisma Upakara. Tempat ini bukan sekadar panti sosial, melainkan rumah harapan bagi ratusan lansia terlantar yang membutuhkan perlindungan, perawatan, dan kasih sayang di masa senja mereka.”
PEMALANG, MEDIASERUNI.ID – Semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap para lanjut usia (lansia) terasa hangat dalam peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-30 Tahun 2026 yang digelar di Rumah Pelayanan Sosial (RPS) Bisma Upakara, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.
Mengusung tema “Lansia Sehat dan Mandiri untuk Indonesia Berdaya”, kegiatan yang dipimpin oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Pemalang tersebut dihadiri oleh Bupati Pemalang Anom Widiantoro, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Pemalang , dr. Noor Faizah Maenofie. Kadin Kesehatan Wiji Mulyati dan jajaran Dinas Sosial Kabupaten Pemalang, serta berbagai unsur masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan lansia.
Sejak pagi hari, ratusan lansia tampak antusias mengikuti senam sehat bersama. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) oleh tenaga medis dari Dinas Kesehatan Kabupaten Pemalang sebelum memasuki rangkaian acara seremonial peringatan HLUN ke-30.
Kepala Panti Pelayanan Sosial Bojongbata, Sri Kusuma Ningrum, SEMACC, mengatakan bahwa RPS Bisma Upakara merupakan bagian dari Panti Pelayanan Sosial Bojongbata yang selama ini menjadi rumah harapan bagi para lansia terlantar dan tidak mampu.
“Saat ini kami melayani sekitar 105 lansia di Bojongbata dan 110 lansia di RPS Bisma Upakara. Selain itu, masih terdapat daftar tunggu hampir 50 lansia yang membutuhkan pelayanan dan perawatan,” ungkapnya.
Menurut Sri, keberadaan panti bukan hanya sebagai tempat tinggal bagi lansia, tetapi juga menjadi ruang untuk meningkatkan kualitas hidup mereka melalui berbagai program pembinaan. Mulai dari bimbingan kesehatan, kegiatan keagamaan, keterampilan, hingga aktivitas sosial yang bertujuan menjaga kesehatan fisik dan mental para penghuni.
“Kami ingin para lansia tetap sehat, bahagia, dan tidak merasa jenuh. Karena itu berbagai kegiatan rutin terus kami hadirkan agar mereka tetap aktif dan memiliki semangat hidup,” katanya.
Tak hanya melayani lansia, Panti Pelayanan Sosial Bojongbata juga memberikan pelayanan kepada sekitar 50 penyandang tunanetra. Bagi penerima manfaat yang masih produktif, disediakan berbagai pelatihan seperti seni musik, keterampilan, dan pembinaan keagamaan guna mendukung kemandirian mereka di tengah masyarakat.
Sri menjelaskan bahwa tidak semua lansia dapat langsung menjadi penghuni panti. Ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi, di antaranya berusia 60 tahun ke atas, berstatus terlantar, serta tidak mampu secara ekonomi yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari pemerintah desa atau kelurahan setempat.
Sementara bagi lansia terlantar yang tidak memiliki identitas, proses penanganannya dilakukan melalui koordinasi antara pemerintah desa, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), Dinas Sosial, hingga Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil untuk memastikan identitas dan kebutuhan pelayanan yang tepat.
Sebagai bentuk inovasi pelayanan publik, Panti Pelayanan Sosial Bojongbata juga menghadirkan program digital bernama Lentera Bojongbata, sebuah sistem pelaporan lansia terlantar yang memudahkan masyarakat menyampaikan informasi tanpa harus datang langsung ke panti.
“Melalui Lentera Bojongbata, masyarakat cukup melaporkan secara digital. Tim kami kemudian akan melakukan asesmen di lapangan untuk memastikan kondisi lansia dan menentukan bentuk penanganan yang sesuai,” jelas Sri.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa penghuni panti ditempatkan berdasarkan kondisi kesehatan dan tingkat kemandiriannya. Lansia yang masih mampu beraktivitas ditempatkan di asrama potensial, sedangkan lansia yang mengalami ketergantungan penuh atau bed ridden mendapatkan perawatan khusus di asrama non-potensial.
Menurutnya, penanganan lansia terlantar membutuhkan kerja sama berbagai pihak melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, media, dan dunia usaha.
“Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional ini menjadi pengingat bahwa para lansia adalah bagian penting dari masyarakat yang harus mendapatkan perhatian dan penghormatan. Harapan kami, semakin banyak pihak yang peduli sehingga para lansia terlantar dapat menjalani masa tua dengan sehat, bahagia, dan bermartabat,” pungkasnya.
