MEDIASERUNI – Meski sudah ditinggalkan Sarmina ke dapur, namun Tuan Tanah Sarman masih berpenasaran hebat terhadap Pardjo kawan Mandor Surak. Terlebih diapun sempat mendengar serdadu kompeni menyebut Macan Hisbullah Aceh.

Sarman, walau seorang tuan tanah namun dia itu juga mantan pendekar yang berjuluk Penyihir Dari Kulon yang cukup disegani pada masanya. Nama Macan Hisbullah Aceh dia tahu, bahwa orang itulah yang disebut-sebut sebagai pewaris senjata mustka Parang Setan.

Senjata ini pun menyimpan misteri besar Tanah Batak, yang mengait-ngaitkan keberadaan Datuk Singa alias Syeh Putih alias Pertapa Tua yang dahulu kala membawa ajaran kebenaran ke tanah ini.

Pertapa itu disebut-sebut sebagai Datuk Singa karena perawakannya yang berewokan, alis mata dan rambut yang awut-awutan, sehingga menyerupai singa.

Kehadiran pertapa yang mengenakan jubah putih, alis mata tebal panjang berwarna putih dan rambut awut-awutan berwarna putih, sebetulnya ingin menyebarkan ajaran kebenaran, yang didapatnya melalui wisik.

Ajaran ini menyatakan tentang keesaan Tuhan Yang Maha Esa, bahwa hanya Satu Tuhan yang patut disembah. Namun ditampik oleh kepala suku batak.

Dalam sebuah pertempuran kepala suku batak kalah dan terbunuh. Si Pertapa kemudian mengangkat anak kepala suku tersebut menggantikan dirinya, dan menghadiahinya sebuah senjata pengusir setan yang kelak disebut Parang Setan.

Baca Juga:  HAJI USMAN (14)

Senjata yang memiliki kekuatan mistis sangat hebat itu kemudian menjadi pusaka suku dan menjadi bukti kepemimpinan kepala-kepala suku di tanah batak.

Setelah membimbing anak kepala suku jadi pemimpin yang baik, berbudi dan cakap memerintah rakyatnya, Pertapa itu meninggalkan tanah batak, melanjutkan siar ajaran kebenaran.

Konon menurut cerita, pada masa pemerintahan kepala-kepala suku generasinya, terjadi perdebatan diantara penerus kepala suku, yang tetap mempertahankan ajaran kebenaran dan kembali keajaran lama, warisan leluhur.

Perdebatan ini memicu perkelahian diantara keturunan kepala suku yang memperebutkan pusaka tanah batak. Namun tidak ada yang kalah dan menang, sampai kemudian kemunculan si pertapa secara gaib, dan mengambil kembali pusaka tersebut.

Ada anggapan yang berhak atas pusaka itu adalah yang meneruskan ajaran kebenaran. Alasannya karena pusaka itu memang peninggalan sang penitip tanah batak yang menghadiahi pusaka itu sebagai bukti ajarannya.

Sementara lainnya beranggapan meski pusaka itu bukti peninggalan ajaran kebenaran, tapi sudah menjadi pusaka tanah batak. Maka yang berhak memegang pusaka adalah kepala suku yang sah.

Karena tak ingin jadi bahan pertumpahan darah diantara anak keturunan kepala suku, si pertapa alias Datuk Singa menancapkan pusaka itu di batu besar, dan meminta dua anak kepala suku mencabutnya untuk menyatakan pemiliknya.

Baca Juga:  HAJI USMAN

Namun keduanya tak berhasil mencabut, hingga kemudian dicabut Datuk Singa. Cuma sayang, ujung senjata pusaka itu patah dan tertanam dibatu. Sedang badannya hilang secara gaib di tangan Datuk Singa.

Konon, setelah itu anak kepala suku yang tetap mempertahankan ajaran kebenaran pergi meninggal tanah batak. Sedang satunya kembali ke sukunya dan memerintah dengan bijak.

Konon dari peristiwa itu anak kepala suka yang pergi dikenal sebagai Orang yang Berani, berani menentang adat leluhur demi kebenarannya. Dari sebutan itu kemudian konon lagi memunculkan marga baru.

“Ah, benarkah, parang setan itu pusaka tanah batak yang hilang…” Tuan tanah Sarman menduga-duga. “Apabila benar, bukankah sebaiknya diserahkan secara sukarela kepada keturunan Sisingamangaraja…”

Menimbang-nimbang kesitu semakin membuat Tuan Tanah Sarman berpenasaran. Lantas, apakah manusia bernama Mahisa yang di kalangan persilatan dijuluki Pendekar Walet Putih ini benar saat ini ada di Tanah Batak….

“Hmm, agaknya bakal terjadi peristiwa besar di tanah batak ini…” Tuan Tanah Sarman tak mau menunggu, tanpa menghiraukan Sarmina didapur sedang mempersiapkan masakan diapun bergegas keluar dan langsung hilang di kedalam hutan. (Azhari/bersambung)