MEDIASERUNI.ID – Desa Kanekes, Banten, merupakan kampung halaman Suku Baduy Dalam. Sementara dunia sibuk memburu teknologi terbaru, masyarakat di sana tetap hidup seperti ratusan tahun silam.

Tak ada listrik, tak ada sepatu, tak ada sinyal. Bahkan televisi atau handphone pun dianggap pengusik keseimbangan. Bagi masyarakat Baduy Dalam, modernitas bukanlah kemajuan, melainkan godaan yang bisa membawa celaka.

Setiap bentuk kemajuan dianggap berpotensi mengganggu keharmonisan hidup. Mereka percaya, jika aturan adat dilanggar, entah itu memakai sandal, naik motor, atau membawa teknologi, bencana bisa datang, seperti gagal panen, penyakit, bahkan bencana alam.

Keyakinan ini bukan sekadar mitos, tapi sudah mendarah daging, menjadi semacam perjanjian spiritual antara manusia dan alam.

Baca Juga:  Jangan Lewatkan! Fenomena Langka Mempesona Supermoon

Kehidupan mereka berjalan dalam sunyi yang teratur. Rumah-rumah berdiri tanpa paku, hanya disusun dari bambu dan ijuk.

Mereka berjalan kaki ke kota menjual hasil bumi, menempuh belasan kilometer tanpa keluhan. Yang bikin merinding, mereka percaya sedang menjaga “mandala” atau kawasan suci yang jadi pusat harmoni semesta.

Konon, leluhur mereka adalah keturunan Batara Cikal, sosok mitologis yang dipercaya menjaga keseimbangan dunia. Pikukuh, aturan adat mereka, bukan hanya sistem sosial, tapi perintah langsung dari leluhur.

Melanggarnya dianggap mengkhianati tatanan alam. Inilah yang membuat mereka seolah hidup dalam dunia paralel, berjalan di sisi kita, tapi dengan waktu dan prinsip yang berbeda.

Meski berada di bawah satu komunitas besar, ada dua sisi dari suku ini, Baduy Luar dan Baduy Dalam. Yang Luar mulai bersentuhan dengan dunia, pakai sepatu, punya alat rumah tangga modern, bahkan menyekolahkan anak.

Baca Juga:  Jin Muslim Paling Doyan Bermukim di Batu Akik Sulaiman, Giok Hitam Nomor 2

Tapi yang Dalam tetap pada jalan leluhur, tak tergoyahkan, tak tertarik kompromi. Perbedaan ini menjadi batas tak kasatmata antara dunia lama dan dunia kini, yang hanya dipisahkan oleh sungai dan kepercayaan.

Namun, Desa Kanekes bukan sekadar desa larangan. Ia adalah perlawanan diam terhadap dunia yang semakin bising dan tergesa. Mereka menunjukkan bahwa hidup tak harus selalu berlari, bahwa kesederhanaan bisa menjadi sumber kekuatan.

Saat dunia kehilangan arah mengejar kemajuan, mungkin mereka yang tinggal di Kanekes justru sedang menjaga arah yang sebenarnya. (*)