MEDIASERUNI.ID – Di Indonesia ada Jayabaya atau Ronggowarsito, yang terkenal dengan ramalan-ramalannya, tapi Nostrodamus? Siapa yang tidak tahu, tokoh dunia yang meramal tanda-tanda langit menjelang kiamat, dan bikin hati mahluk di bumi bergetar.

Tokoh asal Prancis ini dikenal sebagai peramal legendaris abad ke-16 yang menuliskan ribuan nubuat dalam bentuk puisi misterius yang disebut quatrain.

Banyak orang percaya, ramalannya mampu menyingkap peristiwa besar di masa depan, mulai dari kebakaran besar di London, munculnya Hitler, hingga tragedi 9/11 di Amerika. Namun, salah satu ramalan yang paling menggetarkan adalah soal tanda-tanda langit menjelang kiamat.

Dalam salah satu quatrain-nya, Nostradamus menulis mengenai “langit yang terbakar” dan “bintang jatuh” yang dipercaya sebagai simbol bencana kosmik. Banyak penafsir mengaitkannya dengan fenomena luar angkasa seperti komet, meteor, atau bahkan tabrakan asteroid besar.

Gambaran ini seakan menjadi alarm bagi umat manusia tentang akhir dari kehidupan yang kita kenal sekarang. Yang membuatnya semakin misterius, Nostradamus kerap menuliskan ramalannya dengan bahasa puitis penuh simbol, sehingga terbuka untuk banyak tafsir.

Baca Juga:  DPUPR Pemalang Kebut Rekonstruksi Jalan Bunga Matahari, Joko Tri Asmoro Pastikan Pekerjaan Tepat Waktu dan Berkualitas

Misalnya, ada yang melihat nubuat itu sebagai pertanda perubahan iklim ekstrem, letusan gunung berapi raksasa, atau bahkan perang besar yang melibatkan senjata nuklir. Intinya, langit menjadi panggung dari gejala-gejala besar yang menandai kehancuran.

Beberapa penggemar teori konspirasi percaya, ramalan itu selaras dengan fenomena astronomi modern. Kita tahu NASA sering memantau objek dekat bumi (NEO) yang bisa menjadi ancaman.

Ketika ada kabar asteroid berpotensi melintas dekat bumi, banyak yang mengaitkannya langsung dengan “peringatan langit” ala Nostradamus. Hal ini tentu memicu rasa was-was, meski para ilmuwan biasanya menenangkan dengan data perhitungan yang akurat.

Namun, ramalan Nostradamus tidak selalu harus dipahami secara harfiah. Ada juga tafsir yang menganggap “tanda langit” hanyalah simbol dari krisis besar di bumi, seperti polusi udara, langit yang tertutup asap akibat kebakaran hutan, atau kabut akibat peperangan.

Baca Juga:  Aura Wibawa Batu Cincin Pancawarna akan Memancar Deras di Jari Bupati

Tafsir ini menekankan bahwa kehancuran bisa datang dari ulah manusia sendiri, bukan hanya dari fenomena alam semesta. Yang jelas, daya tarik ramalan Nostradamus ada pada kemisteriusannya.

Ia tidak memberikan tanggal pasti atau penjelasan detail, melainkan petunjuk samar yang bisa cocok di berbagai zaman. Inilah yang membuat nubuatnya selalu relevan, karena manusia cenderung mengaitkan peristiwa besar dengan kata-kata yang telah ditulis ratusan tahun lalu.

Akhirnya, apakah ramalan Nostradamus benar-benar menandai kiamat atau hanya cermin dari kecemasan manusia, itu masih menjadi tanda tanya.

Namun satu hal pasti: ramalannya mengingatkan kita bahwa langit di atas kepala bukan hanya pemandangan indah, melainkan juga saksi dari perjalanan bumi menuju masa depan yang penuh misteri.

Dan entah kita percaya atau tidak, setiap kali menatap ke langit malam, selalu ada rasa penasaran: mungkinkah itu pertanda? (*)