Jakarta, MEDIASERUNI.ID – Kunjungan delegasi Pangauban Gerakan Santri Gugus Lingkungan (PAGER SAGULING) ke Kementerian Lingkungan Hidup menjadi momentum penting dalam memperkuat gerakan lingkungan hidup berbasis pesantren, masyarakat, dan nilai-nilai spiritual. Dalam pertemuan tersebut, mengemuka gagasan Tobat Lingkungan sebagai fondasi moral dan spiritual dalam membangun kesadaran ekologis masyarakat Indonesia.

Gagasan tersebut disampaikan KH. Agus Ishak, yang menegaskan bahwa krisis lingkungan yang terjadi saat ini sesungguhnya berakar pada krisis kesadaran manusia terhadap amanah Tuhan sebagai penjaga bumi.

Menurut KH. Agus Ishak, manusia tidak diciptakan untuk mengeksploitasi alam tanpa batas, melainkan untuk menjaga, memelihara, dan mengelolanya demi keberlangsungan kehidupan seluruh makhluk serta generasi yang akan datang.

“Tobat lingkungan merupakan refleksi manusia yang sadar akan kesalahan dan kelalaiannya terhadap alam. Dari kesadaran itulah lahir tanggung jawab untuk memperbaiki, memulihkan, dan menjaga bumi sebagai amanah Allah SWT. Inilah yang menjadi dasar ekoteologi dan semangat gerakan PAGER SAGULING,” ujarnya.

Pernyataan tersebut mendapat perhatian karena sejalan dengan gagasan Tobat Ekologi yang terus didorong oleh Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Mohammad Jumhur Hidayat, sebagai gerakan nasional untuk membangun kesadaran kolektif bangsa dalam memperbaiki dampak eksploitasi alam yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Koordinator Delegasi PAGER SAGULING, Haris Bunyamin, menjelaskan bahwa semangat Tobat Ekologi yang disampaikan Menteri Lingkungan Hidup menjadi inspirasi penting bagi penguatan gerakan lingkungan berbasis pesantren dan masyarakat.

“Tobat Ekologi merupakan momentum nasional untuk melakukan refleksi bersama atas berbagai kerusakan lingkungan yang terjadi akibat perilaku manusia. Kita harus berani mengakui adanya dosa ekologis berupa eksploitasi berlebihan terhadap alam, pencemaran sungai, kerusakan hutan, dan berbagai bentuk perusakan lingkungan lainnya. Dari pengakuan itu lahir komitmen untuk memperbaiki keadaan secara nyata,” ungkap Haris Bunyamin.

Baca Juga:  Cerita Cut Nurlaila, Perempuan Tangguh Aceh yang Tinggalkan Tanah Kelahiran Demi Prabowo

Dalam kesempatan tersebut, Haris Bunyamin juga menyampaikan maksud dan tujuan kunjungan PAGER SAGULING ke Kementerian Lingkungan Hidup sekaligus memaparkan berbagai program yang sedang dikembangkan di kawasan DAS Citarum dan Waduk Saguling.

Program-program tersebut meliputi konservasi lingkungan, rehabilitasi lahan kritis, pengelolaan sampah, pemberdayaan masyarakat, pengembangan ekonomi hijau, pengelolaan eceng gondok, energi terbarukan, serta pengembangan kawasan Biosfer Saguling sebagai model pembangunan berkelanjutan berbasis kolaborasi multipihak.

Delegasi PAGER SAGULING yang hadir mencerminkan kekuatan kolaborasi lintas sektor yang menjadi ciri utama gerakan ini. Turut hadir Dr. Ir. Ali Budiman, M.T., Ketua Komando Resimen Mahasiswa Mahawarman Jawa Barat (Menwa Jabar), yang selama ini dikenal aktif dalam berbagai kegiatan kebencanaan, pemberdayaan masyarakat, dan pelestarian lingkungan.

Selain itu hadir pula Pengasuh Pesantren Gunung Manik yang selama bertahun-tahun mengembangkan program konservasi dan rehabilitasi kawasan hulu Daerah Aliran Sungai Citarum. Kehadirannya memperkuat sinergi antara gerakan pesantren dan upaya penyelamatan lingkungan di kawasan hulu sungai strategis nasional tersebut.

Delegasi juga diperkuat oleh Ketua Paguyuban Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Jawa Barat yang selama ini aktif dalam pengelolaan hutan berbasis masyarakat dan penguatan ekonomi kehutanan sosial. Kehadiran unsur LMDH menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan hutan.

Turut hadir pula Eyang Memet, yang dikenal luas sebagai salah satu tokoh konservasi Jawa Barat. Selama puluhan tahun, Eyang Memet konsisten menggerakkan masyarakat dalam pelestarian sumber daya alam, perlindungan mata air, dan pendidikan lingkungan berbasis kearifan lokal.

Dari sektor ekonomi masyarakat, hadir Asep Herian sebagai representasi Konsorsium Kakao Jawa Barat yang mengembangkan pendekatan agroforestri dan ekonomi hijau berbasis komoditas perkebunan rakyat. Model yang dikembangkan dinilai memiliki kontribusi penting dalam menjaga tutupan lahan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Baca Juga:  Hari Kedua Libur Paskah, Exit Tol Parungkuda Macet Parah hingga Cibadak–Sukabumi

Kehadiran para tokoh tersebut menunjukkan bahwa PAGER SAGULING bukan sekadar gerakan lingkungan biasa, melainkan wadah kolaborasi berbagai unsur masyarakat yang terdiri atas pesantren, akademisi, pegiat lingkungan, tokoh konservasi, komunitas kehutanan sosial, pelaku ekonomi rakyat, serta unsur kepemudaan dan kebencanaan.

Dalam pandangan para peserta, tantangan lingkungan yang dihadapi Indonesia saat ini tidak mungkin diselesaikan hanya oleh pemerintah semata. Diperlukan gerakan kolektif yang melibatkan seluruh elemen bangsa dengan landasan moral, spiritual, ilmiah, dan sosial yang kuat.

Melalui konsep Tobat Lingkungan, PAGER SAGULING ingin mengajak masyarakat untuk membangun hubungan yang lebih harmonis antara manusia dan alam. Gerakan ini menempatkan konservasi lingkungan sebagai bagian dari ibadah sosial, tanggung jawab kemanusiaan, dan wujud syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa.

Dengan semangat tersebut, PAGER SAGULING bertekad menjadi salah satu motor penggerak lahirnya gerakan lingkungan hidup berbasis pesantren dan masyarakat yang mampu berkontribusi bagi penyelamatan DAS Citarum, Waduk Saguling, dan lingkungan hidup Indonesia secara lebih luas menuju terwujudnya pembangunan berkelanjutan dan Indonesia Emas 2045. (Dadan)