Tangerang Selatan, MEDIASERUNI.ID – Rangkaian Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Angkatan ke-20 kolaborasi Lembaga Uji Kompetensi Wartawan (LUKW) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) dan Media Independen Online (MIO) Indonesia resmi berakhir. Acara penutupan berlangsung di Gedung FISIP UMJ, Cirendeu, Tangerang Selatan, Minggu 13 September 2026.
Kegiatan digelar selama dua hari (12–13 September 2026) tidak sekadar menguji kemampuan teknis jurnalistik, tetapi juga menekankan pentingnya etika, kedisiplinan, ketelitian, dan integritas dalam menjalankan tugas kewartawanan.
Ketua Umum MIO Indonesia, AYS Prayogie, menegaskan UKW bukan sekedar ajang formalitas mengejar sertifikat semata, tetapi lebih kepada pemahaman tentang profesi Wartawan.
“UKW bukan sekadar mengejar selembar sertifikat. UKW adalah cermin untuk melihat sejauh mana kita benar-benar memahami profesi yang kita jalankan,” ujar AYS Prayogie.
Prayogie juga menyoroti tantangan jurnalis di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI). Menurutnya, serbuan konten viral di media sosial tidak boleh mengesampingkan proses verifikasi dan kebenaran berita.
“Teknologi boleh semakin cerdas, tetapi wartawan tidak boleh kehilangan nurani. AI bisa membantu kita bekerja lebih cepat, tetapi AI tidak bisa menggantikan tanggung jawab moral seorang wartawan. Jika harus memilih antara menjadi wartawan yang terkenal atau dipercaya, pilihlah menjadi wartawan yang dipercaya,” tegas Prayogie.
Ketum MIO Indonesia ini juga menitipkan empat prinsip utama bagi insan pers, yakni kompetensi sebagai fondasi, etika sebagai pedoman, integritas sebagai marwah, dan kepercayaan publik sebagai tujuan.
Ujian Sejati Ada di Lapangan
Apresiasi juga disampaikan Direktur LUKW UMJ, Dr. Tria Patrianti, M.I.Kom. Menurut Tria, kelulusan ujian kompetensi bukanlah akhir dari perjalanan.
“UKW bukan tujuan akhir. Yang lebih penting adalah bagaimana kompetensi, etika, kedisiplinan, dan kemampuan yang diuji selama proses ini benar-benar diterapkan dalam pekerjaan jurnalistik sehari-hari,” ucap Tria.
Senada itu, Ketua Tim Penguji LUKW UMJ, Dr. Asep Setiawan, menggarisbawahi bahwa evaluasi UKW lebih memprioritaskan tingkat kompetensi ketimbang dikotomi “lulus atau tidak lulus” semata. Bagi peserta yang belum dinyatakan kompeten, pihak penyelenggara tetap memberikan kesempatan untuk mengikuti ujian pada angkatan berikutnya sebagai media evaluasi diri. (Humas MIO Indonesia)

