Film Korea I’m Popo Rilis 21 Mei: Sinema Buatan AI Penuh Picu Perdebatan Global

MEDIASERUNI.ID – Korea akan merilis I’m Popo pada 21 Mei — film panjang pertama Korea yang diproduksi sepenuhnya menggunakan generative artificial intelligence (AI) — sekaligus memantik pertanyaan besar soal masa depan industri sinema dunia.

Premis: Robot yang Memutus Nasib Calon Penjahat

Film ini mengangkat kisah Popo, sebuah robot yang dirancang untuk melindungi manusia, namun justru mulai membunuh orang-orang yang diidentifikasinya sebagai calon penjahat berdasarkan kalkulasi probabilitas statistik.

Premis tersebut menghadirkan benturan langsung antara logika mesin dengan harapan manusia bahwa seseorang selalu bisa berubah menjadi lebih baik. Di luar ceritanya, film ini mengangkat salah satu pertanyaan sosial paling mendesak saat ini: sejauh mana AI boleh menentukan nasib manusia.

Proses Produksi: AI dari Naskah hingga Suara

Dalam proses produksinya, AI mengambil peran di hampir setiap tahap — mulai dari menyusun naskah dan membuat storyboard, menghasilkan video, menciptakan efek khusus, merancang latar belakang, hingga mensintesis suara.

Keterlibatan manusia tetap ada di bawah arahan sutradara Kim Il-dong, termasuk dalam pengisian suara. Namun teknologi AI menjadi inti dari keseluruhan proses. Kim menyatakan bahwa era “produksi film oleh satu orang” telah tiba.

“Saya berharap ini menjadi kesempatan untuk merenungkan pengaruh AI, yang kini kita temui dalam kehidupan sehari-hari,” kata Kim, dikutip dari The Korea Times.

Dua Kubu: Optimisme vs Keraguan

Para pihak yang optimis melihat AI sebagai pembuka peluang baru bagi film independen dan kreator pendatang baru. Dengan anggaran terbatas, teknologi ini memungkinkan produksi dengan kualitas yang sebelumnya hanya bisa dicapai oleh studio besar.

Baca Juga:  Deklarasi Alumni Cipulus Dukungan Solid untuk Aep Syaepuloh dan Maslani di Pilkada Karawang 2024

Namun keraguan tidak kalah keras. Kritikus menilai AI — yang pada dasarnya menarik hasil dari data yang sudah ada — mustahil menciptakan perspektif atau emosi baru seperti yang dilakukan kreator manusia. AI tidak pernah mengenal penderitaan hidup, dan ketiadaan pengalaman itulah yang dianggap membuatnya tak mampu menangkap hakikat sejati sinema maupun zeitgeist sebuah era.

Academy Awards Perketat Aturan

Kontroversi semakin tajam seiring pengumuman standar baru dari Academy Awards yang melarang film-film menggunakan AI dengan cara tertentu untuk memenangkan penghargaan. Karya yang menampilkan aktor hasil AI atau naskah buatan AI tidak memenuhi syarat untuk nominasi.

Baca Juga:  5 AI Chatbot Pengganti ChatGPT Terbaik saat Layanan OpenAI Tiba-tiba Error

Sutradara Avatar James Cameron turut menegaskan posisinya: ia tidak menggunakan generative AI dalam filmnya dan menekankan pengalaman hidup serta penghormatan terhadap aktor sebagai elemen kunci dalam perfilman.

Sinyal Perubahan Industri

I’m Popo bukan fenomena tunggal. Video berdurasi pendek dan konten iklan berbasis AI sudah aktif diproduksi di pasar global, dan tren tersebut kini mulai merambah ke industri film panjang.

Pandangan yang berkembang saat ini menempatkan AI lebih dekat sebagai alat pendukung efisiensi produksi daripada pengganti kecerdasan manusia. Bagaimana hubungan keduanya akan berkembang ke depan masih belum jelas, terutama karena seni dan teknologi sudah mulai berdampingan secara lebih erat dari sebelumnya.