Bandung, MEDIASERUNI.ID – Peringatan HUT ke-81 Provinsi Jawa Barat menjadi momentum bagi seluruh elemen masyarakat untuk merefleksikan arah pembangunan daerah. Anggota Komisi II DPRD Provinsi Jawa Barat, Hj. Sri Dewi Anggraini, menilai semangat pembangunan Jawa Barat harus diwujudkan melalui pemerataan yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat, termasuk wilayah desa atau lembur.
Mengusung semangat “Lembur Diurus, Kota Ditata”, Sri Dewi menegaskan bahwa kemajuan Jawa Barat tidak boleh hanya terlihat dari pesatnya pembangunan di kawasan perkotaan. Desa harus menjadi bagian penting dari strategi pembangunan karena sebagian besar kekuatan sosial, ekonomi, pangan, budaya, dan gotong royong masyarakat Jawa Barat tumbuh dari lembur.
Menurutnya, pembangunan desa dan kota bukan sesuatu yang harus dipertentangkan. Keduanya justru harus dibangun secara beriringan sehingga terjadi konektivitas ekonomi dan sosial yang saling menguatkan.
“Lembur harus diurus, kota harus ditata. Artinya pembangunan Jawa Barat jangan hanya berpusat di perkotaan. Desa juga harus mendapatkan perhatian yang serius, baik dari sisi ekonomi, infrastruktur, pangan, pelayanan publik maupun pemberdayaan masyarakat,” ujar Sri Dewi Anggraini di sela-sela rangkaian kegiatan HUT ke-81 Jawa Barat di halaman Gedung Sate, Bandung, Rabu 19 Agustus 2026.
Tiga Hal Penting untuk Jawa Barat
Sri Dewi menyampaikan sedikitnya ada tiga hal penting yang perlu menjadi perhatian dalam mewujudkan pembangunan Jawa Barat yang lebih merata.
Pertama, pemerataan pembangunan desa dan kota. Infrastruktur dasar, akses transportasi, pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, serta akses terhadap teknologi dan informasi harus terus diperkuat agar masyarakat di desa memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.
Kedua, penguatan ekonomi masyarakat. Desa tidak boleh hanya dipandang sebagai wilayah penerima pembangunan, tetapi harus menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Potensi pertanian, peternakan, UMKM, ekonomi kreatif, pariwisata dan berbagai produk lokal perlu mendapatkan pendampingan serta akses pasar yang lebih luas.
Ketiga, menjaga budaya dan gotong royong sebagai identitas Jawa Barat. Menurut Sri Dewi, pembangunan yang maju tidak boleh membuat masyarakat kehilangan akar budayanya.
“Jangan sampai pembangunan membuat kita maju secara fisik, tetapi kehilangan karakter dan budaya. Gotong royong, kebersamaan dan kearifan lokal harus tetap menjadi kekuatan masyarakat Jawa Barat,” tegasnya.
Desa Bukan Halaman Belakang Pembangunan
Sri Dewi menilai desa memiliki posisi strategis dalam menjawab berbagai tantangan masa depan, khususnya ketahanan pangan dan penguatan ekonomi masyarakat.
Potensi desa, apabila dikelola dengan baik dan didukung kebijakan yang tepat, dapat menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus mengurangi ketimpangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan.
Karena itu, pemerintah daerah bersama pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah desa perlu membangun sinergi agar program pembangunan tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Desa bukan halaman belakang pembangunan. Desa adalah bagian penting dari wajah Jawa Barat. Kalau desanya kuat, ekonominya bergerak, pangannya terjaga dan masyarakatnya berdaya, maka Jawa Barat secara keseluruhan juga akan semakin kuat,” ungkapnya.
HUT ke-81 Jadi Momentum Evaluasi
Bagi Sri Dewi, HUT ke-81 Jawa Barat bukan hanya perayaan bertambahnya usia provinsi, tetapi juga momentum untuk mengevaluasi sejauh mana pembangunan telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ia berharap semangat “Lembur Diurus, Kota Ditata” dapat menjadi gagasan bersama untuk membangun Jawa Barat yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga kuat secara sosial dan budaya.
“Jawa Barat memiliki kekayaan yang luar biasa, baik sumber daya alam, manusia maupun budayanya. Tinggal bagaimana seluruh potensi itu kita kelola bersama agar manfaat pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat dari kota sampai pelosok lembur,” pungkas Sri Dewi.
Dengan semangat HUT ke-81, Sri Dewi mengajak masyarakat untuk menjadikan pembangunan sebagai kerja bersama. Kota ditata, lembur diurus, ekonomi diperkuat, budaya dijaga dan gotong royong dihidupkan kembali.
Sebab, Jawa Barat yang istimewa bukan hanya Jawa Barat yang memiliki kota-kota maju, tetapi Jawa Barat yang seluruh masyarakatnya memiliki kesempatan untuk tumbuh dan sejahtera. (Chandra)

