Karawang, MEDIASERUNI.ID – Tidak banyak yang mengetahui bahwa Kabupaten Karawang pernah memiliki jaringan trem pada masa kolonial Belanda. Moda transportasi yang kini identik dengan kota-kota di Eropa itu ternyata pernah beroperasi di Karawang, menghubungkan Stasiun Lama Karawang dengan dua jalur utama menuju Rengasdengklok dan Wadas.

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Karawang, Obar Subarja, menjelaskan keberadaan jalur trem tidak terlepas dari besarnya potensi pertanian Karawang pada masa itu. “Melihat potensi Karawang yang demikian besar dalam sektor pertanian, mayoritas masyarakat mendistribusikan hasil bumi melalui jalur air,” ujar Obar pada mediaseruni,Senin, 6 Juli 2026.

Ia menjelaskan, Stasiun Lama Karawang mulai beroperasi pada 14 Agustus 1898. Pembangunannya dilakukan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS).

Menurutnya, stasiun tersebut merupakan bagian dari pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan Batavia (kini Jakarta) menuju Kedunggedeh dan kemudian diteruskan hingga Karawang. “Jalur ini merupakan rangkaian rel yang menghubungkan Jakarta hingga Bandung,” katanya.

Baca Juga:  APIKI–MIO Indonesia Gelar Program Peduli Kasih Sambut Ramadhan 1447 H di Cempaka Putih Timur

Selain mengangkut hasil bumi, jalur kereta dan trem di Karawang juga dimanfaatkan sebagai sarana mobilisasi personel militer Belanda. “Menjelang kemerdekaan, stasiun ini menjadi saksi bisu mobilisasi para pejuang menuju Rengasdengklok,” ungkapnya.

Obar menambahkan, jalur trem juga pernah melintasi kawasan Jalan Tuparev hingga Rengasdengklok, dengan titik keberangkatan dari Stasiun Lama yang berada di dekat Pasar Lama Karawang.

Namun, seiring perkembangan zaman, operasional trem di Karawang mulai mengalami penurunan akibat terus merugi. “Seiring berjalannya waktu, trem di Karawang sudah tidak ditemukan lagi karena mengalami kerugian,” ucapnya.

Sebelum layanan dihentikan, masyarakat bahkan dapat menaiki trem dari jalur yang berada di pinggir area persawahan. Saat itu terdapat dua percabangan rel menuju Cikampek dan Rengasdengklok. “Melihat kondisi yang terus merugi, PT Kereta Api Indonesia (KAI) kemudian menarik seluruh unit trem pada 1970,” paparnya.

Baca Juga:  Rektor Universitas Muhammadiyah Bulukumba Lantik Kaprodi, Sekretaris Prodi dan Wakil Dekan

Selain mengalami kerugian, trem dinilai memiliki kecepatan yang lambat sehingga kalah bersaing dengan moda transportasi lain yang lebih efisien. (Damar)