MEDIASERUNI – Sosok berselubung kain hitam yang dikejar Ning Lestari memang Sarmina. Tetapi ilmu lari cepat isteri Mandor Surak ini tentu bukan tandingan Ning Lestari, sehingga dalam sekejap itu, dia kehilangan sosok yang dikejar.

Adik Raden Alam Sati yang menyingkir ke Minang bersama pamannya Pendekar Alam Saka, sejenak celingukan. Cahaya bulan purnama yang menerangi sekitar hutan sama sekali tak dapat membantu.

Dalam keadaan begitu mendadak dia menyaksikan empat perempuan berseragam hitam berlari sambil memegang obor. “Hai, siapa mereka, di dalam hutan berlari membawa obor…”

Karena penasaran Ning Lestari pun membuntuti. Namun pas melintasi bagian belukar agak lebat, lagi-lagi gadis itu hentikan lari. Boro-boro empat sosok yang dikejar, obornya saja sudah tak terlihat.

Selagi kebingungan begitu, mendadak dari arah belakang terdengar bentakan. “Wadon kesasar! Beraninya membuntuti orang yang tak kau kenal!”

Ning Lestari spontan menoleh ke belakang. “Gila! Ternyata aku pun dibuntuti…” sebut Ning Lestari dalam hati. Saat itu tiga orang yang juga berselubung hitam menyandang busur tegak dengan sorot mata tajam ke arahnya.

Untungnya Ning Lestaripun segera teringat ucapan Tjinten. Maka segera diapun berucap. “Salaam…” Mendengar itu, tiga sosok berselubung hitam saling lirik. Sosok paling depan kemudian berucap. “Ikuti dua orang didepanmu, mereka akan menuntun ke tempat yang engkau tuju.”

Selesai berucap tiga sosok itu berkelebat, tapi bukan ke depan melainkan balik kebelakang. Ning Lestari kembali kaget begitu menoleh ke depan. Entah dari mana didepannya sudah ada dua orang, juga berselubung kain hitam.

Dua orang itu tidak berlari, tapi berjalan. Namun jalannya persis orang berlari saking cepatnya. Tanpa pikir panjang, gadis itupun membuntuti. Akan tetapi dua orang yang dibuntuti pun tiba-tiba menghilang.

Ning Lestari pun kebingunan. Dan, seperti tadi, sekonyong-konyong suara orang menyapa. “Salam kembali manusia kesasar. Engkau datang membawa apa.”

Baca Juga:  Jaga Keandalan Listrik saat Banjir Dewi Setyaharini Wujudkan Peran Perempuan

Ning Lestari tak ragu menjawab. “Api dari tanah jawa.” Hening sesaat. Lalu… “Engkau datang bersama siapa?” Yang ini pun tegas dijawab Ning Lestari. “Utusan Sisingamangaraja.”

“Alhamdulillah… Masih saudara sendiri.” Kembali hening. “Melangkahlah tujuh tombak di depan, dibalik semak belukar itu ada pondok…” Hilang suara itu. Ning Lestari tak peduli, dia melanjutkan langkahnya.

Dan benar saja, selepas semak belukar dia menyaksikan sebuah pondok di lahan yang cukup luas. Puluhan orang berseragam hitam tampak memenuhi pondok itu. Mereka semua memegang obor.

Beberapa pasang mata menatap tajam kearah Ning Lestari. Namun gadis itu acuh, dan melangkah mendekati pondok. Pada saat itulah dari dalam pondok keluar sosok yang juga berselubung kain hitam.

Sejenak sosok itu menatap ke arah Ning Lestari. Meskipun bagian wajahnya tertutup kain hitam, namum dari sorot matanya memperlihatkan sosok itu tersenyum kearah Ning Lestari.

Belum lagi sosok itu bicara, sekonyong – konyong terdengar suara mingikik panjang. “Inilah namanya patah tumbuh ya tumbuh lagi. Mati satu yang lain tumbuh. Dan, agaknya yang tumbuh kali ini akan membuat kompeni belanda sadar, negeri ini tak mudah ditaklukan. Kik, kik, kik… Eh, tapi… Siapakah kalian ini…”

Sedetik itu, didahului hempasan angin sangat kencang, tegak sosok nenek berjubah hitam sambil totol-totolkan tongkat merah ke bumi. Tenaga dalamnya sungguh luar biasa. Ketawa saja mampu membuat gendang telinga terasa sakit.

Menyaksikan kemunculan si nenek sosok di pondok lantas menjurah hormat. “Ah, suatu kehormatan, mendapat kunjungan nenek hebat Gagak Merah. Siapa yang tak mendengar kegagahan penasihat Panglima Macan Hisbullah Aceh.”

Mendengar nama Macan Hibullah Aceh disebut nenek yang tak lain memang manusia berjuluk Nenek Gagak Merah, makin perdengarkan tawa mengekeh. Makin lama semakin keras. Dan, akibatnya luar biasa. Sontak orang-orang berselubung kain hitam rapatkan tangan ditelinga.

Baca Juga:  Hal Penting Ini Dibahas Dalam Rapat Paripurna ke 3 DPRD Sukabumi

Sosok di pondok pun segera sadar, dan berseru agak keras. “Hentikan tawamu Nek, bisa pecah gendang telinga orang-orang ini.” Tetapi Nenek Gagak Merah semakin keraskan kekehan.

Aksi si nenek akhirnya membuat sosok dipondok menggerendeng. “Dasar nenek sinting…!” Usai berucap, sosok di pondok susupkan tangan ke balik seragamnya. Dan, sekejap itu, tangannya sudah menggenggam benda berbulu sebesar kelereng berwarna kehitaman.

Menyaksikan benda tersebut si nenek pun lantas tersenyum. “Hmm, Mustika Pusar Naga.., sudah kuduga, engkau itulah Sarmina. Benar dugaanku, Ki Tapak Belamparan itu berada di Tanah Batak…”

Memang, sosok di pondok itu Sarmina adanya. Dan benda ditangannya memang Mustika Pusar Naga. Di dunia ini cuma manusia berjuluk Ki Tapak Blamparan pemiliknya. Dahulu Sarmina mendapat mustika itu dari ayahnya Tuan Tanah Sarman sebagai hadiah perkawinannya dengan Mandor Surak.

Kejap selanjutnya si nenek hanya sempat menyaksikan istri Mandor Surak itu angkat tapak tangan diatas kepala. Si nenek masih akan lipat gandakan tawanya, ketika mendadak Sarmina pukulkan tapak tangan ke udara.

Tak ada suara letupan pertanda benturan dua tenaga dalam hebat. Melainkan hembusan angin sejuk yang bergulung – gulung membalut tenaga dalam si nenek. Dan, hanya sekejap.

Si nenek pun tertawa terkekeh-kekeh. “Hik, hik… Wahai… Rasanya mati pun rela saat ini, kalau nyatanya pendekar hebat Pedang Daun Tebu memimpin langsung srikandi-srikandi tanah Batak…”

Selesai berucap Nenek Gagak Merah seperti terperangah. Tiba-tiba saja dia berseru tercekat. “Tu…, tuaan kiai…” Teriakan si nenek sontak membuat semua orang menoleh ke arah pandangan Nenek Gagak Merah. “Tunggu tuan… Aku membawa pesan Panglima….”

Sedetik itu, nampak kelebatan berwarna kelabu seperti melayang ke arah barat. Nenek Gagak Merah mengejar hingga sosoknya pun lenyap dibalik belukar. Sarmina yang ilmunya juga tak rendah dengan Nenek Gagak Merah ikut tersenyum. “Kakang Surak…” (azhari/Bersambung)