MEDIASERUNI – Meskipun tidak ada bukti empiris yang mengonfirmasi keberadaan Satrio Piningit, banyak orang masih mempercayai kesatria pengejawantah Ratu Adil ini akan muncul secara nyata.

Menurut banyak literatur, Satrio Piningit merupakan tokoh yang muncul dalam ramalan Prabu Jayabaya, seorang raja besar yang pernah memerintah di Nusantara atau Indonesia.

Satrio Piningit dikenal sebagai “Ksatria yang disembunyikan” dalam bahasa Jawa. Menurut ramalan Prabu Jayabaya, Satrio Piningit memiliki kesaktian atau pengetahuan yang melebihi zamannya.

Dalam cerita lain yang disampaikan oleh Prabu Siliwangi, raja terakhir Sunda dari Pajajaran, Satrio Piningit juga dikenal sebagai Budak Angon atau “Anak Pengembala”.

Disebutkan bahwa kedatangan Satrio Piningit atau budak angon yang menggembalakan daun kering dan ranting memiliki banyak interpretasi.

Baca Juga:  Dihadiri Bey Machmudin, Wapres Ma'ruf Amin Resmikan Universitas Darul Ma'arif

Beberapa kalangan masyarakat melihat ini sebagai upaya Satrio Piningit untuk mengumpulkan persoalan-persoalan dan solusi guna mendirikan “Ratu Adil”.

Makna Ratu Adil pun memiliki banyak interpretasi, namun dari semua interpretasi, keseluruhan sepakat bahwa Ratu Adil adalah bentuk kepemimpinan yang adil bagi seluruh umat manusia dan semesta alam.

Dalam pandangan masyarakat, Ratu Adil dianggap sebagai pemimpin yang akan merestorasi sistem kepemimpinan yang sebelumnya semena-mena, membawa bangsa dan negara ke zaman baru.

Syair lagu kuno dan pandangan dari Sunan Kalijaga, tokoh penyebar agama Islam di Nusantara, juga menggambarkan makna dalam kisah ini.

Sunan Kalijaga menyatakan bahwa bocah angon mencoba memanjat pohon belimbing untuk mengambil buahnya. Buah belimbing yang berbentuk bintang dengan lima arah diinterpretasikan sebagai kelima rukun Islam.

Baca Juga:  Keris Pusaka Majapahit Simbol Keanggunan dan Keindahan

Beberapa pandangan juga menyatakan bahwa bintang tersebut dapat dimaknai sebagai Nabi Muhammad SAW, sementara buahnya mencerminkan sifaturrosul, yaitu benar, dipercaya, menyampaikan, dan bijaksana.

Sedangkan pandangan mengenai apa yang digembalakan oleh bocah angon bervariasi di kalangan masyarakat. Namun, tiga tokoh di atas memberikan pandangan yang memiliki referensi akurat dalam menafsirkan kisah Satrio Piningit.

Jadi, meskipun Satrio Piningit adalah bagian dari mitos dan legenda, kisahnya tetap memikat dan kita wajib menghormatinya sebagai bagian dari warisan budaya dan spiritual Nusantara. (Ari/*)