MEDIASERUNI.ID – Krisis lingkungan di kawasan DAS Citarum dan Waduk Saguling menjadi salah satu tantangan besar pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Pencemaran air, sedimentasi waduk, kerusakan hutan, persoalan sampah, hingga menurunnya keanekaragaman hayati menunjukkan perlunya pendekatan baru yang mampu menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan kelestarian lingkungan.
Menjawab tantangan tersebut, Pangauban Gerakan Santri Gugus Lingkungan (Pager Saguling) hadir sebagai organisasi lingkungan hidup berskala nasional yang mendorong transformasi ekologis berbasis masyarakat.
Berangkat dari kawasan Saguling, organisasi ini mengembangkan model pembangunan yang mengintegrasikan rehabilitasi lingkungan, pemberdayaan masyarakat, pendidikan ekologis, ekonomi hijau, dan kolaborasi multipihak.
Pager Saguling memandang krisis lingkungan bukan sekadar persoalan teknis, melainkan krisis peradaban akibat pola pembangunan yang memisahkan manusia dari alam. Karena itu, organisasi ini mengusung paradigma pembangunan yang menempatkan kesejahteraan ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan keadilan sosial sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Sebagai laboratorium transformasi ekologis nasional, Saguling diproyeksikan menjadi pusat inovasi pembangunan berkelanjutan yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Pager Saguling mengembangkan lima pilar utama, yaitu pendidikan dan kaderisasi lingkungan, rehabilitasi dan restorasi ekosistem, pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular, pengembangan ekonomi hijau, serta tata kelola kolaboratif yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, pesantren, komunitas, media, dan masyarakat sipil.
Dalam konteks transisi menuju ekonomi hijau nasional, PAGER SAGULING juga dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung agenda Green Indonesia Future Initiative (GIFT).
Jika GIFT menyediakan arah kebijakan, investasi, dan pembiayaan hijau, maka PAGER SAGULING berperan sebagai penggerak implementasi di tingkat masyarakat melalui berbagai program konservasi, rehabilitasi lingkungan, pengembangan energi terbarukan, ekonomi sirkular, dan pemberdayaan komunitas.
Melalui roadmap jangka panjang hingga tahun 2045, Pager Saguling menargetkan terwujudnya kawasan Saguling sebagai pusat peradaban hijau Indonesia. Tahapan tersebut dimulai dari pemulihan ekologis, penguatan ekonomi hijau, pengembangan kawasan biosfer, hingga pembentukan Green Civilization Center yang mengintegrasikan lingkungan, teknologi, pendidikan, budaya, dan ekonomi berkelanjutan.
Dengan pendekatan yang partisipatif dan berbasis masyarakat, Pager Saguling menawarkan model transformasi sosial-ekologis yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian lingkungan, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Model ini diharapkan menjadi salah satu kontribusi nyata menuju Indonesia Emas 2045 yang maju secara ekonomi, tangguh secara ekologis, dan berkeadilan sosial. (*)
Haris Bunyamin
Pemerhati Lingkungan
