MEDIASERUNI.ID – Di berbagai belahan dunia, sungai bukan sekadar aliran air yang menghubungkan hulu dan hilir. Sungai adalah sumber kehidupan, penyangga keanekaragaman hayati, ruang budaya, penggerak ekonomi, sekaligus fondasi lahirnya peradaban manusia.

Namun, dalam beberapa dekade terakhir, paradigma pembangunan yang terlalu berorientasi pada eksploitasi sumber daya telah menyebabkan banyak sungai kehilangan fungsi ekologisnya.

Di tengah tantangan tersebut, lahirlah International Rivers, sebuah organisasi nirlaba internasional yang sejak 1985 konsisten memperjuangkan perlindungan sungai, hak-hak masyarakat adat, serta pembangunan yang lebih adil dan berkelanjutan.

Berkantor pusat di Oakland, California, organisasi yang sebelumnya dikenal sebagai International Rivers Network ini kini menjadi salah satu rujukan utama dalam advokasi lingkungan hidup di tingkat global.

Selama lebih dari empat puluh tahun, International Rivers membangun jaringan kolaborasi dengan ribuan organisasi masyarakat sipil di Asia, Afrika, Amerika Latin, hingga Eropa.

Pendekatan mereka tidak hanya berfokus pada penolakan terhadap proyek bendungan yang dinilai merusak lingkungan, tetapi juga menawarkan paradigma baru tentang bagaimana sungai harus dikelola sebagai ekosistem yang hidup dan memiliki nilai sosial, ekonomi, budaya, serta spiritual.

Sungai sebagai Ekosistem Kehidupan

International Rivers menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh mengorbankan keberlanjutan ekosistem. Banyak proyek bendungan skala besar memang menghasilkan listrik dan meningkatkan pasokan air, tetapi di sisi lain dapat menimbulkan dampak serius, seperti hilangnya habitat satwa, terputusnya migrasi ikan, perubahan kualitas air, sedimentasi, hingga relokasi paksa masyarakat yang telah turun-temurun menggantungkan hidupnya pada sungai.

Karena itu, organisasi ini mendorong setiap proyek pembangunan sumber daya air untuk memenuhi prinsip-prinsip keberlanjutan, transparansi, partisipasi publik, penghormatan terhadap hak asasi manusia, dan perlindungan lingkungan.

Pendekatan tersebut menjadikan International Rivers tidak sekadar organisasi lingkungan, tetapi juga bagian dari gerakan global yang memperjuangkan keadilan ekologis (ecological justice).

Dari Advokasi Menuju Solusi

Berbeda dengan anggapan bahwa gerakan lingkungan hanya berorientasi pada penolakan proyek pembangunan, International Rivers justru menawarkan berbagai solusi alternatif.

Baca Juga:  Petani singkong Lamtim, lakukan aksi demo jilid tiga

Organisasi ini mendorong pengembangan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan, konservasi daerah aliran sungai (DAS), restorasi lahan basah, perlindungan hutan, pengelolaan banjir berbasis alam (nature-based solutions), serta pemberdayaan masyarakat lokal sebagai aktor utama dalam pengelolaan sumber daya air.

Dalam menghadapi perubahan iklim, pendekatan tersebut dinilai lebih adaptif karena mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan pembangunan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.

Melindungi Para Pembela Lingkungan

Salah satu aspek penting yang menjadi perhatian International Rivers adalah perlindungan terhadap para pembela lingkungan.

Di berbagai negara berkembang, aktivis lingkungan, masyarakat adat, hingga kelompok nelayan sering menghadapi intimidasi bahkan kriminalisasi ketika mempertahankan hak atas wilayah hidup mereka.

International Rivers memberikan pendampingan hukum, dukungan internasional, peningkatan kapasitas, hingga membangun solidaritas global agar suara masyarakat lokal memperoleh perhatian dalam proses pengambilan keputusan.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa konservasi lingkungan tidak dapat dipisahkan dari penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Relevansi bagi Indonesia

Bagi Indonesia yang memiliki ribuan daerah aliran sungai, pelajaran dari International Rivers menjadi sangat relevan.

Persoalan sedimentasi, pencemaran industri, sampah domestik, kerusakan kawasan sempadan, hingga alih fungsi lahan masih menjadi tantangan besar dalam pengelolaan sungai nasional.

Sungai Citarum merupakan salah satu contoh penting bagaimana tekanan pembangunan, pertumbuhan penduduk, dan lemahnya tata kelola dapat menurunkan kualitas lingkungan secara signifikan. Upaya rehabilitasi yang telah dilakukan perlu terus diperkuat melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, organisasi masyarakat sipil, serta masyarakat sebagai pelaku utama konservasi.

Inspirasi bagi Wahana Lingkungan Citarum dan PAGER SAGULING

Bagi Wahana Lingkungan (Walungan) Citarum dan Pangauban Gerakan Santri Gugus Lingkungan (PAGER SAGULING), pengalaman International Rivers menjadi inspirasi strategis dalam membangun gerakan konservasi yang berakar pada ilmu pengetahuan, nilai-nilai keislaman, kearifan lokal Sunda, serta prinsip pembangunan berkelanjutan.

Baca Juga:  Penampakan Manusia Hijau Warnai Peringatan Isra Mikraj di Sukabumi

Konservasi tidak lagi dipahami sebagai kegiatan menanam pohon semata, tetapi sebagai gerakan membangun Peradaban Ekologi yang mencakup rehabilitasi kawasan sempadan, pengelolaan DAS, pertanian konservasi, ekonomi hijau, pendidikan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, pengelolaan sampah, serta penguatan kelembagaan masyarakat melalui kolaborasi pentahelix.

Pendekatan tersebut sejalan dengan visi Saguling Biosfer 2045, yaitu mewujudkan kawasan Waduk Saguling sebagai pusat konservasi, pendidikan lingkungan, ekonomi hijau, dan laboratorium hidup pembangunan berkelanjutan.

Masa Depan Sungai adalah Masa Depan Peradaban

Sejarah menunjukkan bahwa hampir seluruh peradaban besar dunia lahir di tepian sungai. Ketika sungai mengalami kerusakan, kualitas kehidupan manusia ikut menurun. Sebaliknya, ketika sungai dipulihkan, ekosistem, ekonomi, kesehatan masyarakat, dan kebudayaan lokal akan tumbuh kembali.

Pelajaran terbesar dari International Rivers adalah bahwa perlindungan sungai tidak boleh hanya dipandang sebagai agenda lingkungan hidup, melainkan sebagai investasi jangka panjang bagi keberlanjutan bangsa. Sungai merupakan warisan kehidupan yang harus dijaga bersama melalui tata kelola yang adil, partisipatif, dan berbasis ilmu pengetahuan.

Bagi Indonesia, khususnya kawasan DAS Citarum dan Waduk Saguling, semangat tersebut menjadi landasan penting untuk membangun gerakan konservasi yang mampu menyatukan pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, media, dan organisasi masyarakat sipil dalam satu tujuan, yakni menghadirkan sungai yang sehat sebagai fondasi menuju Indonesia yang maju, berdaya saing, dan berkelanjutan. (*)

Haris Bunyamin
Founder Wahana Lingkungan (Walungan) Citarum
Sekretaris Jenderal Pangauban PAGER SAGULING