Bandung Barat, MEDIASERUNI.ID – Nilai-nilai Pancasila dan semangat generasi muda menjadi sorotan dalam kegiatan Pendidikan Politik Program DPRD Provinsi Jawa Barat Komisi II yang dilaksanakan di Hegarmanah, Kecamatan Gunung Halu, Bandung Barat.
Kegiatan tersebut mengangkat tema Pancasila sebagai Pemersatu Bangsa dan diikuti masyarakat, dengan mayoritas peserta berasal dari kalangan generasi Z dan generasi Y.
Kegiatan ini menjadi ruang edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memahami bahwa politik tidak semata-mata berkaitan dengan pemilu maupun perebutan kekuasaan.
Politik juga merupakan bagian dari kehidupan bermasyarakat, termasuk bagaimana warga negara ikut menentukan arah pembangunan dan mengawal pemerintahan agar tetap berjalan sesuai kepentingan rakyat.
Dalam kesempatan tersebut, Hj. Sri Dewi Anggraini, anggota Komisi II DPRD Provinsi Jawa Barat, mengajak generasi muda untuk kembali memahami dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Pancasila harus terus ditempatkan sebagai titik temu di tengah keberagaman masyarakat. Perbedaan pilihan politik, latar belakang, maupun pandangan tidak boleh menjadi alasan untuk memecah persaudaraan sebagai sesama warga negara,” ucap Sri Dewi.
Pemuda Jangan Apatis terhadap Politik
Sri Dewi juga menyinggung persoalan kepercayaan publik yang dapat terganggu akibat ulah sebagian oknum pejabat maupun politisi yang tidak menjalankan amanah dengan baik.
Namun, kondisi tersebut menurutnya jangan sampai membuat generasi muda menjauh dari politik dan pemerintahan. Sebaliknya, pemuda justru harus hadir membawa semangat perubahan dengan berpegang teguh pada Pancasila dan konstitusi.
“Ketika masyarakat melihat ada oknum pejabat atau politisi yang nakal, jangan kemudian anak muda menjadi apatis terhadap politik. Justru pemuda harus kembali kepada UUD 1945 dan Pancasila sebagai ideologi serta cita-cita besar bangsa ini,” ujar Sri Dewi.
Ia menilai generasi muda memiliki posisi strategis sebagai ujung tombak perubahan di tengah masyarakat. Karena itu, keterlibatan pemuda dalam kehidupan pemerintahan tidak perlu menunggu usia matang atau jabatan tinggi.
Sri Dewi juga mendorong anak muda untuk mulai berkiprah dari lingkungan terdekat. “Jangan sungkan dan jangan segan untuk mulai berkiprah. Mulai dari RT, RW, desa, kemudian kecamatan, kabupaten, provinsi, bahkan sampai tingkat Indonesia. Perubahan besar bisa dimulai dari lingkungan kita sendiri,” tegasnya.
Semangat 45 Harus Menjadi Energi Perubahan
Momentum bulan kemerdekaan juga dimanfaatkan Sri Dewi untuk membangkitkan kembali semangat nasionalisme generasi muda. Ia mengingatkan bahwa semangat kemerdekaan tidak cukup hanya diwujudkan melalui upacara, perlombaan, maupun kegiatan seremonial.
Semangat tersebut harus diterjemahkan menjadi keberanian untuk belajar, bekerja, mengabdi, berorganisasi, serta ikut menyelesaikan persoalan masyarakat. “Hari ini, mumpung semangat 45 masih membara di bulan ini, jangan sampai padam. Kita jaga semangat itu sampai kita bisa merubah Gunung Halu, bahkan dunia sekalipun,” pungkas Sri Dewi.
Pernyataan tersebut disambut tepuk tangan meriah dari peserta. Suasana semakin bergelora ketika sejumlah peserta mengepalkan tangan sambil meneriakkan semangat kemerdekaan dan takbir.
Pancasila Bukan Sekadar Hafalan
Kegiatan pendidikan politik tersebut juga memberikan pesan penting bahwa Pancasila tidak boleh berhenti sebagai hafalan lima sila, melainkan harus menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi generasi muda, pengamalan Pancasila dapat dimulai dari hal sederhana: menghargai perbedaan pendapat, tidak menyebarkan hoaks, tidak mudah terprovokasi, menjaga persatuan, aktif dalam kegiatan sosial, menghormati hasil musyawarah, serta berani menyampaikan kritik dengan cara yang bertanggung jawab.
Dalam konteks pemerintahan, semangat Pancasila juga berarti menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Karena itu, ketika pemuda mulai terlibat dalam kepengurusan RT, RW, pemerintahan desa maupun organisasi kemasyarakatan, yang dibutuhkan bukan sekadar keberanian tampil, tetapi juga integritas, kemampuan, kepedulian dan kemauan untuk melayani.
Dari Hegarmanah untuk Masa Depan Bangsa
Pesan yang disampaikan dalam pendidikan politik di Hegarmanah menjadi pengingat bahwa masa depan demokrasi Indonesia sangat bergantung pada kualitas generasi yang akan meneruskannya.
Generasi Z dan generasi Y tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi dan konsumen informasi. Mereka juga harus menjadi warga negara yang kritis, cerdas, berintegritas dan aktif mengambil bagian dalam pembangunan.
Dari lingkungan RT dan RW hingga pemerintahan desa, kabupaten, provinsi dan nasional, ruang pengabdian selalu terbuka. Pancasila menjadi rumah bersama, UUD 1945 menjadi pijakan konstitusional, sementara generasi muda menjadi energi yang menggerakkan perubahan.
Dari Gunung Halu, semangat itu kembali dinyalakan. Jangan hanya mengeluhkan keadaan, jadilah bagian dari generasi yang memperbaikinya. (Chandra)

