Karawang, MEDIASERUNI.ID – Diperlukan pengujian laboratorium untuk memastikan ceceran padat berwarna hitam di pantai Cemarajaya merupakan pencemaran lingkungan.

Hal itu diungkapkan Akademisi Teknik Lingkungan Unsika, Wilma Nurrul Adzillah, Jumat 28 Agustus 2026. Ia ditanya soal potensi pencemaran lingkungan akibat ceceran minyak mentah di Pantai Cemarajaya.

Menurut Wilma, perubahan kondisi fisik air laut memang dapat menjadi penilaian awal atau first judging. Namun, hasil pengamatan secara kasatmata tetap harus dikonfirmasi melalui pengujian ilmiah.

“Kalau kita melihat kualitas air permukaan, baik air laut, sungai, danau maupun irigasi, kita bisa melakukan penilaian awal secara fisik,” kata Wilma, Jumat 28 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, perubahan warna air menjadi cokelat atau hitam tidak serta-merta menunjukkan adanya pencemaran. Kondisi tersebut juga dapat dipengaruhi faktor alami seperti sedimen, tanah, maupun material organik berupa dedaunan.

“Kondisi perairan laut memiliki kompleksitas tersendiri karena dipengaruhi berbagai aktivitas, baik yang berlangsung di wilayah pesisir maupun lepas pantai, serta keberadaan biota laut,” ucap Wilma. Ia juga menekankan pentingnya membedakan antara kontaminasi dan pencemaran.

Kontaminasi terjadi ketika keberadaan suatu zat di lingkungan belum menyebabkan parameter lingkungan melampaui baku mutu yang ditetapkan. “Dalam kondisi tertentu, lingkungan masih memiliki kemampuan untuk melakukan pemulihan secara alami atau self-purification,” kata Wilma

Sementara itu, pencemaran terjadi ketika parameter fisika atau kimia telah melampaui baku mutu lingkungan. Dalam kondisi tersebut, diperlukan intervensi manusia untuk membantu proses pemulihan lingkungan. “Kalau sudah tercemar, lingkungan membutuhkan bantuan manusia untuk pulih,” jelasnya.

Perlu Uji Hidrokarbon

Terkait dugaan tumpahan minyak mentah di Pantai Cemarajaya, Wilma mengatakan pemeriksaan tidak cukup dilakukan berdasarkan warna dan bau. Sejumlah parameter fisika-kimia serta biologi dan mikrobiologi perlu diuji secara komprehensif.

Baca Juga:  Polisi Amankan ODGJ Rengasdengklok Berkeliaran Sambil Tenteng Golok

Jika dugaan mengarah pada pencemaran minyak bumi atau hidrokarbon, salah satu parameter yang dapat diperiksa adalah Total Petroleum Hydrocarbons (TPH) untuk mengetahui kadar hidrokarbon minyak bumi secara keseluruhan.

Selain itu, pengujian menggunakan Gas Chromatography (GC) dapat dilakukan untuk mengidentifikasi senyawa kimia tertentu. Pemeriksaan Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH) juga dapat digunakan untuk menganalisis kelompok hidrokarbon aromatik.

Meski demikian, Wilma menegaskan pemeriksaan tidak boleh hanya berpatokan pada satu atau dua parameter.

“Untuk menentukan sumber pencemar, apakah dari aktivitas migas, kapal, limbah industri, atau sumber lain, kita perlu melakukan inventarisasi dan pemetaan aktivitas di sekitar lokasi kejadian,” tuturnya.

Potensi limbah dari berbagai aktivitas tersebut kemudian dapat dibandingkan dengan hasil pengujian laboratorium.

Dalam ilmu lingkungan, proses penelusuran sumber pencemar dapat dilakukan menggunakan metode chemical fingerprinting. Metode ini mempelajari pola atau profil senyawa hidrokarbon dari sampel lingkungan untuk kemudian dibandingkan dengan karakteristik material dari sumber pencemar yang potensial.

Penelusuran di Laut Lebih Kompleks

Menurut Wilma, penelusuran sumber pencemaran di laut memiliki tingkat kompleksitas lebih tinggi dibandingkan dengan lingkungan perairan seperti sungai.

Material pencemar dapat berpindah mengikuti berbagai faktor oseanografi dan meteorologi, seperti arah angin, arus laut, pasang surut, gelombang, hingga turbulensi.

“Penelusuran di laut jauh lebih kompleks dibanding di sungai karena air laut bergerak mengikuti arah angin, arus laut, pasang surut, dan gelombang,” katanya.

Karena itu, penanganan dugaan pencemaran di Pantai Cemarajaya membutuhkan kajian lintas disiplin, mulai dari bidang kelautan dan oseanografi, pemetaan, hingga teknik perminyakan.

Baca Juga:  Aksi Cepat Aparatur Batujajar: Sarang Tawon Raksasa Berhasil Dievakuasi, Warga Kini Tenang

“Apabila hasil pengujian laboratorium nantinya mengonfirmasi adanya pencemaran dan menunjukkan parameter telah melampaui baku mutu, dampaknya dapat terjadi pada aspek kimia, biologis, fisik, hingga sosial-ekonomi masyarakat,” tandas Wilma.

Dari sisi kimia dan biologis, proses self-purification membutuhkan oksigen terlarut. Kondisi tersebut dapat menimbulkan persaingan penggunaan oksigen antara proses pemulihan alami dengan kebutuhan biota laut.

Biota yang hidup di sekitar permukaan air juga berpotensi terdampak akibat kekurangan oksigen maupun paparan senyawa hidrokarbon yang bersifat toksik.

Dari sisi fisik, lapisan minyak yang berada di permukaan air dapat menghambat masuknya cahaya matahari dan oksigen. Pada ekosistem pesisir, termasuk mangrove, material minyak juga berpotensi merusak sistem perakaran.

Sementara dari aspek sosial-ekonomi, pencemaran dapat mengganggu aktivitas masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian pada wilayah pesisir, termasuk nelayan dan pengelola tambak.

Karena itu, Wilma menilai dugaan pencemaran di Pantai Cemarajaya perlu ditangani melalui pengambilan sampel dan pengujian laboratorium yang komprehensif.

“Arus laut, pasang surut, arah angin, gelombang, dan turbulensi sangat memungkinkan material minyak terbawa hingga ke lokasi yang jauh dari titik awal tumpahan,” pungkasnya. (Damar)