Pemalang, MEDIASERUNI.ID
Pekerjaan pasangan batu pada dinding perangganik yang menjadi bagian dari paket pekerjaan Istirahat Kendasari akan mulai dilaksanakan pada awal Juni 2026. Untuk mendukung proses pekerjaan tersebut, aliran air irigasi akan dilakukan sistem buka-tutup secara bergilir selama maksimal sembilan hari.

Sosialisasi terkait penutupan aliran air itu digelar di Kantor UPJI (Unit Pemeliharaan Jalan dan Irigasi) Petarukan, Kabupaten Pemalang, Rabu (20/5/2026). Kegiatan tersebut dihadiri para ulu-ulu, perangkat desa dari Widodaren, Petanjungan, Temuireng, Iser, hingga Kepala Desa Kalirandu.

Dalam pertemuan itu dijelaskan bahwa sistem penutupan dilakukan secara bertahap, yakni tiga hari aliran air ditutup lalu tiga hari dibuka kembali. Skema tersebut akan dilakukan hingga tiga putaran.

“Mulai hari Senin 1 Juni dilakukan penutupan tiga hari, kemudian tiga hari dibuka, lalu ditutup lagi tiga hari dan dibuka kembali,” ujar salah satu tim teknis dalam forum sosialisasi.

Pekerjaan pasangan batu tersebut berkaitan langsung dengan perbaikan konstruksi dinding perangganik yang dinilai perlu penguatan tambahan. Meski demikian, tim teknis memastikan konstruksi baru tidak sekadar menempel pada fondasi lama.

Baca Juga:  Tanam Ribuan Pohon, Kasdam III/Siliwangi Hadiri Peringatan HANTARU Jabar 2024

Tim Teknis Pastikan Fondasi Lama Masih Aman

Dalam wawancara dengan Media Seruni, Abdul Muis selaku tim teknis menjelaskan bahwa pihaknya terlebih dahulu akan membuka sebagian area untuk melihat kondisi fondasi di bawah bangunan.

Menurutnya, hasil survei awal menunjukkan fondasi lama sebenarnya masih cukup kuat. Namun ada kekhawatiran dari pihak terkait bahwa pasangan batu yang baru dianggap tidak sampai ke dasar fondasi.

“Sebetulnya pasangan baru itu sudah sampai ke fondasi lama, jadi bukan numpang. Kalau numpang itu justru berbahaya karena membebani konstruksi lama,” jelas Abdul Muis.

Ia menerangkan, konstruksi baru dibuat dari bawah lalu diperkuat naik ke atas sehingga berada di bagian dalam struktur lama.

Tim teknis juga menegaskan bahwa kondisi arus air di lokasi relatif tidak terlalu deras sehingga pekerjaan diyakini tetap aman dilakukan dalam waktu singkat.

“Kalau campurannya pas dan konstruksinya sesuai, insyaallah aman. Karena air di situ bukan seperti air gunung yang deras,” tambahnya.

Baca Juga:  Bey Machmudin Ajak Pasangan Nikah Massal Jaga Harmoni Tanpa Kekerasan

Pelaksana Optimistis Pekerjaan Rampung Tepat Waktu

Sementara itu, pelaksana kegiatan Sofan mengatakan sistem buka-tutup aliran air dipilih agar aktivitas pertanian masyarakat tetap bisa berjalan meski ada pekerjaan konstruksi.

Dengan pola tiga hari mati dan tiga hari mengalir, diharapkan pekerjaan dapat berjalan efektif tanpa mengganggu kebutuhan air warga secara total.

Pihak pelaksana menargetkan seluruh pekerjaan pasangan batu dapat selesai dalam kurun maksimal sembilan hari sesuai skema yang telah disepakati bersama dalam sosialisasi tersebut. (Opick)