MEDIASERUNI.ID – MALAM telah jatuh sepenuhnya di pusat Jakarta. Di salah satu sudut kota yang tak pernah benar-benar tidur, lampu-lampu bar dan diskotek berkelap-kelip di antara kepulan asap rokok, deru sepeda motor, dan suara musik yang tumpah dari balik dinding-dinding gedung hiburan.
Belasan motel megah berdiri angkuh dengan banhlgunan tinggi menjulang seperti hendak menghalangi malam yang datang merengkuh. Warung-warung tenda kaki lima menjadi tempat persinggahan mereka yang belum ingin pulang.
Di tengah hiruk-pikuk itu, sebuah lapak nasi goreng dengan tenda biru tampak sederhana, bahkan nyaris tak menarik perhatian. Namun malam itu, tempat sederhana itulah yang me jadi tujuan akhir Aria Laksana, wartawan media online paling berani di zamannya.
Gugun Gunawan, nama pemilik warung tenda nasi goreng itu, baru saja meletakkan tiga piring nasi goreng di atas meja pelanggan, ketika sorot matanya menangkap sepeda motor berhenti di halaman warung. Sesuatu yang membuat kedua matanya berbinar adalah ketika di pengendara melepas helmnya.
“Hai…, Aria…” Senyum kecil mengembang disudut bibirnya ketika Gugun memanggil nama Dindin, lelaki kurus yang sedang mencuci piring disamping tenda. “Kau lanjutkan Din, tuh, ada mas Aria, abang mau menemaninya.”
Dindin anggukan kepala, setelah sejenak tadi menoleh ke arah Aria. “Siap, Bang. Bereslah.” Dindin mengambil alih pekerjaan tanpa banyak bertanya. Gugun kemudian berjalan menuju sudut warung.
Aria sudah duduk sendirian di sana.
Dari tempat mereka berada, cahaya neon merah dan biru dari bar di seberang jalan sesekali menerpa wajah para pengunjung. Musik berdentum samar. Suara tawa bercampur deru kendaraan. Jakarta seperti sedang menyembunyikan sesuatu di balik keramaiannya.
Gugun duduk di hadapan Aria.Tak lama kemudian, Dindin datang membawa dua gelas kopi panas. “Apa kabar mas Aria, lama tak kesini dikira sedang liputan perang di Palestina.”
Aria tertawa renyah sambil menerima kopi panas Dindin. “Bisa aja neh mang Dindin, hehee. Mang Dindin nih yang terlihat makin menyala.” Aria tertawa..
“Waduh, kayak lampu petromak dong, menyala.” Dindin tertawa keras sebelum kemidian ngeloyor kembali ke warung.
Saat itu Gugun mengangkat gelas dan menyeruputnya perlahan. “Tumben malam-malam datang ke sini. Ada kasus baru?”
Aria tidak langsung menjawab. Ia menatap Gugun beberapa detik sebelum berkata pelan. “Kasus Darmono Subroto.”
Gerakan tangan Gugun terhenti. Nama itu seperti membawa udara dingin ke meja mereka. “Pengusaha yang ditemukan mati di mobil itu?”
“Iya.” Aria mendekatkan tubuhnya sedikit. “Polisi bilang belum ada petunjuk yang jelas. Tapi aku yakin Abang mendengar sesuatu.”
Gugun tersenyum kecil. “Abang sudah pensiun, dek.” Ia menunjuk warung di sekeliling mereka. “Sekarang lihat sendiri. Abang cuma tukang nasi goreng.”
Aria gantian tersenyum. “Aku tahu. Tapi jaringan Abang belum benar-benar hilang. Anak buah abang masih tersebar di hampir sudut-sudut ibukota.”
Senyum Gugun perlahan lenyap. Ia menoleh ke kanan dan kiri. Seorang pelanggan sedang sibuk dengan ponselnya. Dua pengunjung lain tertawa di meja sebelah. Udin tampak sedang melayani pembeli.
Gugun memastikan tidak ada yang terlihat memperhatikan mereka. Barulah Gugun kembali menatap Aria. “Kalau yang kau cari orang terakhir yang bersama Darmono sebelum dia ditemukan tewas, dialah Umar Khartayam.
Aria mengulang nama itu dalam hati. “Umar Khartayam…:
“Iya. Kau mengenalnya?”
“Belum pernah bertemu. Cuma saja nama itu pun terdaftar sebagai pemilik mobil yang meninggalkan lokasi kejadian sebelum Dsrmono ditemukan tewas.” Aria mengeluarkan ponselnya. “Mobil dengan nomor polisi atas nama Umar Khartayam sempat berada di lokasi kejadian.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Gugun tertawa kecil. “Kau ini memang cepat dan tangkas.”
“Insting wartawan, Bang.” Aria menyimpan kembali ponselnya. “Penasaran aku bang. Siapa sebenarnya Umar Khartayam?”
Gugun tak segera menjawab. Dia terlihat ragu-ragu, raut wajahnya memperlihatkan kecemasan. Setelah menghela napas terdengar suaranya pelan. “Kau yakin akan menelusuri orang ini, dek”
Gantian Aria yang terlihat heran. “Kenapa bang, apa Umar Khartayam ini termasuk orang yang tak boleh disentuh?”
Sejenak Gugun menatap Aria. Lalu alihkan pandang ke arah bangunan menjulang yang seakan menjadi benteng agar tidak ada malam di dalamnya. “Kau lihat bangunan-bangunan menjulang itu dek, dia termasuk orang-orang yang menjaga bangunan itu. Malam pun tak bisa masuk ke dalamnya.”
Aria langsung terdiam. Ucapan Gugun barusan cukup bagi Aria untuk menjelaskan betapa berbahayanya menyentuh Umar Khartayam. Tapi Aria adalah seorang Wartawan. Ketika dia memutuskan menjadi wartawan, pada saat itu dia pun sudah menggadaikan hidupnya demi rakyat.
“Bang, aku ini wartawan. Sumpah profesiku bekerja untuk kebenaran. Rakyat adalah bos ku. Aku tak mau mengkhinati rakyat dengan menggadaikan kebenaran.”
Gugun terperangah, lalu mencoba mendalami raut wajah disampingnya sebelum alihkan pandang kembali ke bangunan-bangunan megah didepannya. “Hmm, baiklah. Sepertinya tak ada yang bisa menghalangimu.” Mantan preman besar ini kembali menghela napas. “Umar Khartayam ini bukan pengusaha biasa. Dia juga tangan kanan big bos pengusaha bernama Subangkit.”
Dahi Aria sontak mengerenyitkan. “Subangkit… Pengusaha yang dijuluki Kepala Naga…”
Gugun anggukan kepala. “Ya, manusia paling berbahaya dan tak bisa disentuh. Perusahaannya tersebar dimana-mana. Bisnisnya mempengaruhi hampir separuhnya uang yang berputar di negeri konoha ini.”
Aria diam beberapa saat. Ia mulai memahami bahwa kematian Darmono mungkin bukan sekadar perkara pembunuhan biasa, tetapi ada yang jauh lebih besar, bahkan mengerikan. Ada jaringan yang jauh lebih besar dan bermain dibaliknya.
Aria semakin penasaran. “Menurut Abang, apa Umar terlibat dalam kematian Darmono?”
Gugun menggeleng pelan. “Abang tidak bilang begitu. Umar Khartayam itu pun mantan preman seperti abang. Sedikit banyak abang tahu wataknya. Dia lurus dan setia kawan, bukan tipe pengkianat. Meski kejam, dia tidak akan tega menghabisi kawan sendiri.”
“Maksud abang, Umar dan Darmono, saling kenal.”
“Lebih tepatnya, seperti paman sendiri. Ada jejak kekerabatan antara dirinya dan Darmono.”
“Saat ini dugaan kuat dialah pelakunya, dan aku yakin polisi pun sedang mengarah ke dirinya.”
Gugun sontak tertawa. “Bagaimana dengan mu, dek?!”
Aria gelagaoan, tak menyangka preman tobat disamping bakal bertanya begitu. “A-aku, bang?”
“Iya, kau dek, wartawan berani News Seruni, apakah kau yakin Umar Khartayam itu yang menghabisi Darmono.”
Aria nyengir. “Abang ini, labelnya aja preman, tapi wawasannya kebangsaan. Hehee. Biarlah kebenaran yang membuktikan.”
“Kebenaran atau keadilan, dek?”
“Kebenaran bang, adil belum tentu benar.”
Gugun hanya seorang mantan preman, mendengar jawaban diplomasi wartawan disebelahnya diapun tertawa keras. “Kalau narasinya abang balik begini, bos News Seruni otak dibalik pembunuhan ini, apa kau juga akan memberitakannya, dek?!”
Aria spontan tercekat, tak menyangka Gugun melontarkan kalimat itu. “Maksud abang…”
Aria menatap tajam. Namun raut wajah disebelahnya sama sekali tak berubah. Aria sadar, Gugun bukanlah preman kaleng – kaleng. Dunianya sebelumnya sangat pekat. Bahkan dialah yang pernah menjadi pelindung bangunan-bangunan menjulang di depannya agar malam tak sampai kesana.
Terhadap Umar Khartayam, dia pernah adu jago, dan mereka imbang, tak ada yang kalah dan menang. Dengan Subangkit, dia juga kenal bahkan pernah jadi tangan kanannya sebelum posisinya dugantikan Umar Khartayam. “Aku perlu klarifikasi ucapan abang tadi, jelaskan bang.”
Gugun gantian merasa terpojok, tapi mantan preman ini malah tertawa keras. “Hahaa, Bicara sama wartawan memang beda. Harus hati-hati dan pakai data.” Gugun kembangkan senyum, wajahnya yang kaku mencair. “Tadi abang cuma menguji soal kata kebenaran dan keadilan versi wartawan, hehee.”
Aria pun elus dada. “Abang ini bisa aja, sampai kaget aku. Soalnya, aku hafal banget, abang bukan tipe orang yang plin plan, A kata abang ya memang A bukan B.”
“Jadi, jawabanmu apa, dek?!”
“Lah! Abang serius ini…”
“Busyet, dek. Dua rius ini, bagaimana?!”
Aria mulai merasakan ada yang aneh pada pertanyaan Gugun. Ada yang tidak biasa. Sadar kesitu, diapun menarik napas panjang. “Kebenaran tetap jadi sandaranku bang, kalau kebenaran melihat keadilan itu bersalah, aku akan tetap mengejar.”
Gugun langsung terdiam. Dia mencermati dalam-dalam raut wajah wartawan muda disebelahnya. Tak ada manipulasi di wajah itu. Tegas dan lurus. “Ah, sudah, abang cuma bercanda. Abang cuma berharap kau berhati-hati dek untuk kasus kematian Darmono ini.”
“Aaciaap, abangku…” Aria pun tertawa renyah.
Angin malam berembus melewati sisi tenda. Api kompor di dapur bergoyang diterpa udara. Tak terasa hari sudah melewati setenah malam. Aria menyipitkan mata. “Lalu apa lagi yang Abang tahu, soal kematian Darmono.
Gugun menurunkan suaranya. “Beberapa jam sebelum mayat Darmono ditemukan ada seseorang yang keluar dari dlam mobil Darmono.”
“Umar?”
“Bukan.”
Jawaban itu jatuh begitu saja, tetapi dampaknya terasa lebih berat daripada suara musik dari diskotek di seberang jalan.
Aria mengerutkan kening. “Siapa?”
Gugun menggeleng. “Tak ada yang mengenalnya.”
Gugun menatap Aria. Yang Abang tahu orang itu bukan orang biasa. Dia sangat berbahaya dan pantas untuk dihindari.”
Gugun sontak hentikan ucapan. Sirene polisi tiba-tiba terdengar dari kejauhan. Suara itu semakin dekat, lalu perlahan menghilang ditelan malam. Gugun menunggu beberapa detik sebelum kembali berbicara. “Kalau kau mau mengusut kasus ini jangan cari siapa yang membunuh Darmono tapi temukan orang-orang yang dekat dengan Umar Khartayam.
Mata Aria menatap Gugun. Untuk sesaat, ia merasa baru saja membuka pintu menuju sesuatu yang jauh lebih besar daripada kasus kematian seorang pengusaha. Sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik nama-nama besar, perusahaan besar, dan kekuasaan yang tidak pernah terlihat di permukaan.
Aria bersandar di kursinya. Pandangannya perlahan beralih ke langit ibukota yang gelap. Beberapa bintang tampak samar di antara kabut cahaya kota.
Di kejauhan, sirene polisi kembali terdengar.
Kali ini lebih jauh.Lebih samar. Namun entah mengapa, suara itu terasa seperti sebuah peringatan.
Aria kembali menatap meja. Nama Umar Khartayam masih berputar di kepalanya. Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa mungkin bukan kematian Darmono yang harus ia pecahkan. Melainkan jaringan orang-orang yang berdiri di belakang kematian itu.
Satu pertanyaan muncul dalam benaknya.
Jika Umar bukan pembunuhnya, lalu siapa orang terakhir yang keluar dari mobil Darmono malam itu? Aria belum tahu. Tetapi malam itu, penyelidikannya telah menemukan jejak pertama. Dan jejak itu mengarah kepada sebuah nama yang jauh lebih besar.
Subangkit.
Tak berselang lama, Aria pun berpamitan, dia merasa tubuh dan otaknya perlu diistirahatkan. Gugun sang mantan preman besar yang beralih jadi penjual nasi goreng cuma tersenyum lebar melepas kepergian wartawan berani News Seruni lenyap digelapnya malam bersama motor tuanya.
“Hmm, Aria… Siapa sebenarnya kau. Inderaku tak bisa dibohongi, kau pun bukan manusia biasa. Aura yang memancar di tubuhmu sama persis aura yang aku miliki. Maafkan abangmu ini yang tak seberani dirimu. Abang percaya, hanya kau yang bisa memberi keadilan pada Darmono….” (bersambung)

