MEDIASERUNI.ID – Tentara Nasional Indonesia terus memperkuat kemampuan pertahanan nirawak dengan mengoperasikan tiga skuadron udara khusus UAV serta enam jenis pesawat tanpa awak dari berbagai negara, termasuk produksi dalam negeri.

Tiga Skuadron Drone TNI Angkatan Udara

TNI Angkatan Udara menjadi tulang punggung utama operasi drone nasional melalui tiga satuan yang masing-masing memiliki peran berbeda.

Skadron Udara 51 menjadi satuan drone pertama yang diresmikan, tepat pada 9 Juli 2015, bermarkas di Pangkalan Udara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat. Skuadron ini difokuskan untuk operasi pengintaian udara strategis dan pemantauan wilayah perbatasan darat, khususnya di koridor Kalimantan yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Satuan ini mengoperasikan UAV jenis Medium Altitude Long Endurance (MALE) seperti CH-4 Rainbow — drone yang mampu terbang dalam durasi panjang, menjangkau wilayah perbatasan luas, sekaligus membawa rudal atau persenjataan jika dibutuhkan.

Skadron Udara 52 menyusul enam tahun kemudian, diresmikan pada 2021 di Pangkalan Udara Raden Sadjad, Natuna, Kepulauan Riau. Posisi Natuna yang berada di titik strategis Laut China Selatan menjadikan skuadron ini krusial untuk pemantauan wilayah perairan terluar Indonesia.

Sama seperti Skadron Udara 51, satuan ini juga diperkuat dengan UAV jenis MALE untuk memastikan pengawasan berkelanjutan di salah satu zona maritim paling rawan geopolitik di Asia Tenggara.

Skadron Pendidikan (Skadik) 103 diaktifkan kembali pada 2023 di Pangkalan Udara Wiriadinata, Tasikmalaya, Jawa Barat. Peresmian dilakukan langsung oleh Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono, sebagai respons terhadap kebutuhan sumber daya manusia yang terlatih menghadapi pertempuran modern berbasis teknologi nirawak.

Skadik 103 tidak mengoperasikan drone secara tempur, melainkan berfokus pada pendidikan dan pelatihan penerbang UAV untuk memastikan regenerasi awak yang kompeten bagi dua skuadron operasional sebelumnya.

Drone Taktis TNI AD dan TNI AL

Di luar TNI Angkatan Udara, dua matra lain turut mengintegrasikan sistem nirawak ke dalam operasi masing-masing.

TNI Angkatan Darat mengoperasikan drone taktis di bawah koordinasi Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Puspenerbad) dan satuan intelijen. Jenis yang digunakan meliputi drone Vertical Take-Off and Landing (VTOL) serta mini-UAV yang diperbantukan langsung pada satuan tempur darat di lapangan.

Baca Juga:  Gubernur Jabar Dukung Penguatan Masyarakat Adat dan Pelestarian Budaya di Majalengka

Pusat Intelijen Angkatan Darat (Pusintelad) secara khusus memanfaatkan UAV taktis untuk deteksi posisi musuh dan peninjauan medan secara real-time, memungkinkan pergerakan pasukan dilakukan dengan data intelijen yang segar dan akurat.

TNI Angkatan Laut mengoperasikan drone melalui Pusat Penerbangan TNI Angkatan Laut (Puspenerbal) di bawah komando Wing Udara. Fokus penggunaannya meliputi pengawasan maritim, pemantauan pergerakan kapal di perairan Indonesia, dan dukungan udara pada operasi pendaratan amfibi.

Deretan UAV yang Dimiliki TNI

TNI saat ini mengoperasikan enam jenis pesawat nirawak dari berbagai negara asal.

CH-4 Rainbow adalah UAV MALE buatan China yang menjadi andalan TNI Angkatan Udara, dengan kemampuan terbang durasi panjang dan opsi persenjataan.

ANKA merupakan UAV MALE buatan Turki yang dihadirkan untuk memperkuat jangkauan pengawasan dan operasi intelijen strategis.

Bayraktar TB2, drone MALE produksi Turki yang namanya melambung setelah digunakan dalam konflik Ukraina-Rusia, juga telah masuk ke inventaris TNI Angkatan Udara. Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Mohammad Tonny Harjono meninjau langsung teknologi ini di Istanbul sebelum pembeliannya difinalisasi.

Rajata adalah drone kamikaze produksi dalam negeri yang dikembangkan oleh PT Dahana. Dirancang sebagai senjata penghancur sasaran otomatis, drone ini dapat dioperasikan oleh berbagai matra pertahanan.

Super Drone atau Smart Eagle II dioperasikan TNI Angkatan Darat melalui Puspenerbad untuk kebutuhan pengintaian jarak dekat dan deteksi posisi musuh di tingkat satuan tempur.

Target Drone S-70 dan LTD-Elang digunakan sebagai drone latihan menembak oleh Pusat Kesenjataan Artileri Pertahanan Udara TNI Angkatan Darat maupun Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara.

Pengembangan ke Depan

TNI Angkatan Udara merencanakan penambahan skuadron drone baru di Tarakan, Kalimantan Utara, dan Malang, Jawa Timur, untuk memperluas cakupan pengawasan udara nasional secara merata dari barat hingga timur.

Baca Juga:  Pemerintah Desa Sumberjaya Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Sungai Cikaso

Interoperabilitas antar-matra juga terus ditingkatkan agar data dari seluruh drone ketiga angkatan dapat diakses secara terpadu oleh pusat komando TNI — menjadikan sistem pertahanan nasional lebih responsif terhadap ancaman di masa depan.

FAQ

Q: Di mana saja markas skuadron drone TNI Angkatan Udara berada?
A: TNI AU mengoperasikan tiga skuadron drone: Skadron Udara 51 di Pangkalan Udara Supadio Pontianak (diresmikan 2015), Skadron Udara 52 di Pangkalan Udara Raden Sadjad Natuna (2021), dan Skadik 103 di Pangkalan Udara Wiriadinata Tasikmalaya (2023).

Q: Drone apa saja yang dimiliki TNI saat ini?
A: TNI mengoperasikan CH-4 Rainbow, ANKA, Bayraktar TB2, Rajata (buatan PT Dahana), Super Drone/Smart Eagle II, serta Target Drone S-70 dan LTD-Elang untuk latihan menembak.

Q: Apa fungsi Skadron Udara 52 di Natuna?
A: Skadron Udara 52 difokuskan untuk pemantauan wilayah perairan Laut China Selatan dan pengawasan terluar Indonesia menggunakan UAV jenis MALE, mengingat posisi strategis Natuna di zona maritim rawan geopolitik.

Q: Apa itu drone Rajata milik TNI?
A: Rajata adalah drone kamikaze produksi dalam negeri yang dikembangkan oleh PT Dahana, dirancang sebagai senjata penghancur sasaran otomatis yang dapat dioperasikan oleh berbagai matra pertahanan Indonesia.

Q: Bagaimana TNI Angkatan Darat menggunakan drone?
A: TNI AD mengoperasikan drone VTOL dan mini-UAV melalui Puspenerbad dan Pusintelad untuk deteksi posisi musuh, peninjauan medan, dan dukungan pergerakan pasukan tempur di lapangan.