PEMALANG, MEDIASERUNI.ID — Upaya mendeteksi kasus Tuberkulosis (TB) yang selama ini tersembunyi di masyarakat mulai membuahkan hasil nyata. Melalui inovasi skrining yang melibatkan kolaborasi lintas program dan lintas sektor, satu wilayah kerja Puskesmas di Kabupaten Pemalang berhasil menemukan puluhan kasus dugaan TB yang sebelumnya tidak tercatat dalam sistem pelayanan kesehatan.

Kegiatan skrining dan dialog publik tersebut digelar di wilayah kerja Puskesmas Mulyoharjo, Kecamatan Pemalang, dan dihadiri unsur Forum Komunikasi Kecamatan, perwakilan Dinas Kesehatan, jajaran Polsek Pemalang, serta para Lurah dari wilayah Sugihwaras, Widuri, dan Pelutan. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik yang transparan dan akuntabel,Rabu 26/8/2026

Dalam pemaparannya, terungkap bahwa dari ratusan anak yang diskrining di beberapa desa, ditemukan angka kasus yang cukup mengkhawatirkan. Di salah satu wilayah, dari 100 anak yang diperiksa, lebih dari 10 persen dinyatakan positif terinfeksi TB. Secara rinci, temuan kasus tersebar di beberapa wilayah: Mulhoharjo sebanyak 19 orang, Sugiwaras 14 orang, Widuri 8 orang, dan Danasari 10 orang. Secara keseluruhan, dari sekitar 400 anak yang diskrining, teridentifikasi 63 orang yang memerlukan penanganan lanjutan.

Kepala Puskesmas Mulyoharjo, dr. Noor Maenofie, menyampaikan bahwa angka temuan ini menunjukkan betapa besarnya kasus TB yang selama ini tidak terdeteksi, terutama pada anak-anak. “Ini bukan berarti kasus baru muncul begitu besar, melainkan selama ini banyak yang belum kita temukan. Melalui pendekatan skrining menyasar anak-anak dengan indikasi tertentu—seperti gizi buruk, demam berulang, batuk lama, maupun memiliki kontak dekat dengan penderita TB—kita berhasil menemukan kasus yang sebelumnya tidak terjangkau pelayanan,” ujarnya.

Baca Juga:  PLN UPT Karawang Sukses Antisipasi Gangguan Kelistrikan Selama Lebaran 2024

Skrining tersebut menggunakan metode tes tuberkulin, di mana anak-anak yang berisiko disuntikkan cairan khusus sebanyak 0,1 ml pada kulit lengan, lalu dievaluasi tiga hari kemudian. Jika terjadi pembesaran reaksi kulit di atas 0,5 cm, maka dinyatakan positif terinfeksi TB. Metode ini dikombinasikan dengan penilaian kondisi gizi, riwayat kontak dengan penderita, serta kondisi lingkungan tempat tinggal—terutama ventilasi rumah yang kurang baik, lembab, dan minim cahaya matahari.

Dampak TB yang tidak tertangani pada anak sangat serius, tidak hanya bagi kesehatan individu, tetapi juga bagi kualitas SDM di masa depan. TB dapat memperburuk status gizi anak dan berkontribusi terhadap terjadinya stunting. Anak yang menderita TB tanpa pengobatan berisiko mengalami gangguan pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif yang berlangsung jangka panjang.

“Kami tidak hanya memberikan obat kepada anak yang positif, tetapi juga melakukan penelusuran kontak di dalam rumah. Seluruh anggota keluarga diperiksa, kondisi rumah dievaluasi, dan bagi yang membutuhkan, kami berkoordinasi dengan Dinas Sosial untuk perbaikan rumah serta kepastian jaminan kesehatan melalui BPJS Kesehatan. Penanganan TB tidak bisa hanya soal obat, tetapi juga soal lingkungan dan dukungan sosial,” tambah dr. Noor.

Sementara itu, dalam forum komunikasi publik yang berlangsung bersamaan, ditekankan bahwa partisipasi masyarakat adalah kunci utama keberhasilan pelayanan kesehatan. Masyarakat berhak mengetahui standar pelayanan, prosedur, dan persyaratan yang jelas agar tidak berulang kali bolak-balik untuk melengkapi berkas yang tidak perlu. Masukan dari masyarakat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kecepatan, kemudahan, dan kualitas pelayanan di puskesmas maupun tingkat kabupaten.

Baca Juga:  Musdes Desa Wanamulya: Sinergi Bersama Susun Rencana Pembangunan yang Tepat Sasaran dan Partisipatif

“Kami ingin pelayanan tidak hanya cepat, tetapi juga adil dan mudah diakses siapa saja. Integrasi antara pelayanan manual dan digital akan terus diperbaiki agar antrean dan prosedur tidak menjadi beban bagi masyarakat,” ungkap perwakilan pemerintah daerah dalam forum tersebut.

Dengan temuan 63 kasus dalam satu wilayah kerja, tantangan penanggulangan TB di Kabupaten Pemalang masih terbilang besar. Namun, inovasi skrining yang menyasar anak-anak berisiko melalui kolaborasi lintas program ini membuktikan bahwa kasus yang selama ini tersembunyi bisa ditemukan lebih dini. Harapannya, pendekatan ini dapat diperluas ke seluruh kecamatan sehingga tidak ada satu pun anak yang terinfeksi TB terlewatkan dari pengobatan, dan cita-cita Indonesia bebas TB pada tahun 2030 dapat terwujud.

Penutupan forum oleh dr. Bani Zakiah menegaskan bahwa upaya penanggulangan TB bukan hanya tugas tenaga kesehatan semata, melainkan tanggung jawab bersama antara pemerintah, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat. “Keterbukaan, kolaborasi, dan kepedulian kita semua adalah obat terbaik untuk memutus rantai penularan TB, terutama di kalangan anak-anak kita,” tutupnya.