Bandung Barat, MEDISERUNI.ID – Fenomena fatherless atau kondisi ketika anak tumbuh tanpa keterlibatan ayah secara aktif menjadi salah satu persoalan pengasuhan yang patut mendapat perhatian di Indonesia. Berdasarkan pemberitaan ANTARA pada 11 Juli 2025, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, mengungkapkan bahwa 20,9 persen anak Indonesia tumbuh tanpa peran ayah yang aktif.
Kondisi tersebut dikaitkan dengan berbagai faktor, seperti perceraian, kematian ayah, maupun pekerjaan yang mengharuskan ayah tinggal jauh dari keluarga. Dalam pemberitaan yang sama, disebutkan pula data BPS tahun 2021 bahwa hanya 37,17 persen anak usia 0–5 tahun dibesarkan oleh kedua orang tuanya secara bersamaan (ANTARA, 2025).
Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Di baliknya, ada kehidupan anak-anak yang sedang bertumbuh, mencari teladan, belajar memahami perasaan, dan membangun cara pandang terhadap dunia. Ada anak yang tumbuh dengan ayah di sisinya, tetapi jarang merasakan kedekatan emosional dengannya.
Ada pula anak yang harus menjalani hari-hari tanpa kehadiran ayah karena keadaan yang tidak dapat dihindari. Situasi mereka tentu tidak sama, sehingga fenomena fatherless perlu dipahami secara bijaksana, tanpa terburu-buru menyalahkan ayah, ibu, ataupun keadaan keluarga.
Pada dasarnya, peran ayah dalam keluarga jauh melampaui tanggung jawab mencari nafkah. Ayah memang memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi kehadirannya juga dibutuhkan dalam memberikan rasa aman, membangun kedekatan emosional, menanamkan nilai-nilai kehidupan, serta mendampingi anak ketika menghadapi kesulitan.
Ayah tidak harus selalu memiliki jawaban atas setiap persoalan anak. Terkadang, kesediaan untuk mendengarkan cerita, menemani belajar, mengapresiasi usaha, atau sekadar hadir ketika anak membutuhkan teman berbicara sudah menjadi bagian berharga dari proses pengasuhan.
Bagi anak, sosok ayah dapat menjadi salah satu sumber belajar tentang tanggung jawab, keteguhan, kasih sayang, dan cara memperlakukan orang lain. Nilai-nilai tersebut tidak selalu ditanamkan melalui nasihat panjang.
Justru, anak sering belajar dari hal-hal sederhana yang dilihatnya setiap hari: bagaimana ayah berbicara kepada ibu, bagaimana ia menyikapi masalah, bagaimana ia meminta maaf ketika melakukan kesalahan, serta bagaimana ia memperlakukan orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian, mendidik anak bukan hanya perkara menyampaikan apa yang benar, melainkan juga berusaha menunjukkan kebenaran itu melalui perilaku sehari-hari.
Tentu, kehidupan modern menghadirkan tantangan tersendiri. Rutinitas pekerjaan, tuntutan ekonomi, perjalanan pulang-pergi yang melelahkan, dan tanggung jawab lainnya kerap membuat waktu bersama keluarga terasa semakin sempit. Tidak sedikit ayah yang berangkat ketika anak masih tidur dan pulang ketika anak sudah terlelap.
Ada pula ayah yang secara fisik berada di rumah, tetapi pikirannya masih dipenuhi pekerjaan dan tuntutan yang belum selesai. Semua itu merupakan realitas yang layak dipahami. Namun, di tengah kesibukan tersebut, barangkali ada pertanyaan sederhana yang patut direnungkan: sudahkah anak merasakan bahwa dirinya memiliki tempat dalam kesibukan kita?
Keterlibatan ayah tidak selalu harus diwujudkan melalui kegiatan besar atau waktu yang panjang. Percakapan singkat sebelum tidur, sarapan bersama, menemani anak mengerjakan tugas, menanyakan pengalaman mereka di sekolah, atau menyediakan waktu tanpa gangguan telepon genggam dapat menjadi kesempatan membangun kedekatan. Yang penting bukan semata-mata berapa lama ayah berada bersama anak, melainkan juga bagaimana kualitas perhatian yang diberikan. Waktu yang terbatas tetap dapat bermakna ketika anak merasa didengarkan, dihargai, dan diterima.
Tantangan tersebut semakin kompleks di tengah perkembangan teknologi digital. Anak-anak kini tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi gawai, media sosial, permainan daring, dan berbagai sumber informasi yang dapat diakses dengan mudah. Teknologi menawarkan banyak manfaat bagi pembelajaran dan kreativitas, tetapi juga membawa tantangan berupa paparan konten yang tidak sesuai usia, interaksi di dunia maya yang berisiko, serta kebiasaan penggunaan perangkat secara berlebihan.
Dalam situasi ini, ayah tidak cukup hanya melarang atau membatasi penggunaan teknologi. Anak juga membutuhkan pendampingan untuk memahami apa yang mereka lihat, memilah informasi, menjaga privasi, menghormati orang lain di ruang digital, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Pendampingan digital akan lebih bermakna ketika dibangun melalui komunikasi dan keteladanan. Sulit mengharapkan anak melepaskan gawai ketika orang dewasa di sekitarnya terus-menerus terpaku pada layar. Karena itu, orang tua, termasuk ayah, perlu bersedia mengevaluasi kebiasaan digitalnya sendiri.
Sesekali meletakkan telepon genggam ketika berbicara dengan anak, mendengarkan tanpa tergesa-gesa, serta mendiskusikan aktivitas mereka di internet merupakan langkah sederhana yang dapat memperkuat hubungan keluarga. Anak tidak hanya membutuhkan akses terhadap teknologi, tetapi juga membutuhkan orang dewasa yang dapat membimbingnya ketika berhadapan dengan dunia digital yang begitu luas.
Dalam konteks inilah, peran ayah tidak dapat begitu saja digantikan oleh teknologi, materi, ataupun kehadiran orang lain. Teknologi dapat menyediakan informasi, tetapi tidak sepenuhnya menggantikan kehangatan hubungan manusia. Uang dapat membantu memenuhi kebutuhan anak, tetapi tidak dengan sendirinya menghadirkan kedekatan. Nasihat dapat ditemukan dari berbagai sumber, tetapi keteladanan yang tumbuh melalui hubungan sehari-hari memiliki makna tersendiri.
Meski demikian, hal ini bukan berarti ibu atau pengasuh lain tidak mampu memberikan pengasuhan yang baik. Banyak ibu dan keluarga yang berjuang luar biasa dalam membesarkan anak ketika ayah tidak hadir. Pesan pentingnya bukan membandingkan siapa yang lebih berperan, melainkan menyadari bahwa keterlibatan ayah yang penuh kasih merupakan salah satu unsur berharga dalam pengasuhan dan tidak sepatutnya diabaikan.
Pada titik ini, kita dapat merenungkan sebuah ungkapan: ayah terasa, bahkan ketika tiada. Ungkapan tersebut bukan berarti kehadiran fisik ayah tidak penting. Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa pengaruh seorang ayah dapat menetap dalam diri anak melalui nilai-nilai yang diwariskan, kenangan yang dibangun, dan keteladanan yang ditanamkan. Ayah yang telah meninggal dunia mungkin tidak lagi dapat menemani anak secara langsung, tetapi kasih sayang, nasihat, kebiasaan baik, dan nilai kehidupan yang pernah diajarkannya dapat terus hidup dalam ingatan anak.
Bagi anak yang ayahnya tinggal jauh karena pekerjaan, kedekatan juga dapat dirawat melalui komunikasi yang konsisten dan perhatian yang nyata. Sementara itu, bagi anak yang ayahnya hadir secara fisik tetapi kurang terlibat secara emosional, ungkapan tersebut dapat menjadi pengingat bahwa kehadiran yang benar-benar dirasakan membutuhkan usaha, bukan sekadar keberadaan.
Dengan demikian, makna ayah terasa walau tiada bukanlah pembenaran atas ketidakhadiran atau pengabaian tanggung jawab. Makna yang lebih mendalam justru terletak pada bagaimana seorang ayah membangun hubungan yang meninggalkan jejak kebaikan dalam kehidupan anak.
Jejak itu dapat berupa keberanian untuk mencoba, kebiasaan bersikap jujur, kemampuan menghargai orang lain, keyakinan untuk bangkit setelah gagal, ataupun perasaan bahwa dirinya dicintai dan memiliki tempat untuk pulang. Warisan semacam ini tidak selalu terlihat dalam bentuk materi, tetapi dapat menyertai anak ketika ia tumbuh dewasa dan menghadapi berbagai pilihan kehidupan.
Dalam perspektif Islam, tanggung jawab membesarkan anak juga memiliki dimensi spiritual. Anak bukan sekadar penerus keluarga atau aset yang diharapkan berhasil secara akademik dan ekonomi. Anak merupakan amanah yang perlu dijaga, dididik, dan dibimbing agar tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berakhlak baik, serta mampu menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab.
Amanah ini mengingatkan orang tua bahwa keberhasilan pengasuhan tidak cukup diukur dari banyaknya harta yang diwariskan, tingginya pendidikan yang ditempuh, atau besarnya pencapaian yang diraih anak. Ada pula tanggung jawab untuk menanamkan nilai moral, membangun kedekatan dengan Allah, serta membiasakan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu ayat Al-Qur’an yang relevan untuk direnungkan dalam konteks tanggung jawab terhadap generasi penerus adalah Surah An-Nisa ayat 9: Artinya:“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS. An-Nisa [4]: 9, terjemahan Kementerian Agama RI).
Ayat ini mengandung pesan penting tentang kepedulian terhadap keadaan generasi yang akan ditinggalkan. Dalam kaitannya dengan pengasuhan, ayat tersebut dapat menjadi bahan refleksi agar orang tua tidak hanya memikirkan kebutuhan anak hari ini, tetapi juga mempersiapkan bekal bagi kehidupan mereka pada masa mendatang. Anak perlu dibekali dengan pendidikan, kesehatan, rasa aman, kemampuan berpikir, ketahanan menghadapi kesulitan, serta nilai-nilai agama dan moral. Keteladanan dalam bertutur kata, bersikap adil, dan menjalankan tanggung jawab juga merupakan bagian dari lingkungan yang membantu anak bertumbuh.
Tanggung jawab tersebut tidak berhenti pada urusan dunia. Bagi orang tua Muslim, mendidik anak juga merupakan bagian dari ikhtiar menjalankan amanah di hadapan Allah. Kesadaran ini bukan untuk menambah beban atau menimbulkan rasa takut yang berlebihan, melainkan untuk mengajak orang tua memaknai pengasuhan sebagai kesempatan berbuat kebaikan.
Pekerjaan yang dilakukan demi keluarga tetap bernilai penting, tetapi kesibukan mencari nafkah perlu diimbangi dengan upaya menjaga hubungan, mendampingi perkembangan anak, serta memberikan pendidikan moral dan spiritual. Anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu sempurna; mereka membutuhkan orang tua yang bersedia belajar, memperbaiki diri, meminta maaf, dan terus berusaha hadir sesuai kemampuan dan keadaan.
Sejalan dengan pentingnya keterlibatan ayah, pemerintah melalui Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN meluncurkan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI). Program ini diarahkan untuk meningkatkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak dan pendampingan remaja melalui berbagai pendekatan, antara lain layanan konseling, kegiatan berbasis komunitas, desa atau kelurahan, serta sekolah. Inisiatif tersebut menunjukkan bahwa pengasuhan bukan semata-mata urusan privat yang dibebankan kepada ibu, melainkan tanggung jawab keluarga yang perlu didukung oleh lingkungan sosial dan kebijakan publik (ANTARA, 2025).
Pada akhirnya, membicarakan peran ayah bukanlah tentang menuntut setiap ayah melakukan segala sesuatu dengan sempurna. Setiap keluarga memiliki keadaan, keterbatasan, dan perjuangannya masing-masing. Namun, di tengah rutinitas pekerjaan, perubahan sosial, dan perkembangan teknologi, selalu ada ruang untuk memperbaiki cara kita hadir bagi anak.
Mungkin bukan dengan waktu yang berlimpah, melainkan dengan perhatian yang lebih utuh. Bukan dengan nasihat yang panjang, melainkan dengan teladan yang konsisten. Bukan pula dengan memberikan segala sesuatu yang diinginkan anak, melainkan dengan mendampingi mereka belajar membedakan apa yang diinginkan dan apa yang benar-benar dibutuhkan.
Sebab, pada akhirnya, anak tidak hanya mengingat apa yang diberikan ayahnya, tetapi juga bagaimana ia diperlakukan, didengarkan, dan dicintai. Ketika kelak anak tumbuh dewasa, mungkin ia tidak lagi mengingat semua nasihat yang pernah disampaikan. Namun, ia dapat membawa serta nilai-nilai yang ditanamkan melalui keseharian. Di sanalah kehadiran seorang ayah menemukan maknanya: bukan hanya sebagai sosok yang bekerja untuk keluarga, melainkan sebagai bagian dari perjalanan anak mengenal kehidupan, membangun karakter, dan menemukan arah.
Ayah yang hadir hari ini sedang menanam sesuatu yang mungkin baru terlihat hasilnya bertahun-tahun kemudian. Dan ketika suatu saat ia tak lagi berada di sisi anaknya, semoga kebaikan yang pernah ditanamkan tetap terasa, menjadi penguat langkah, dan terus hidup dalam pilihan-pilihan baik yang dibuat anak sepanjang kehidupannya. Wallahu a’lam. (*)
Dadan Saepudin
Sekretaris Forum Ayah KBB
