IPTU Aning Sudirga berada di dalam mobilnya, menerima panggilan darurat. Itu anak buahnya, Briptu Andi. Segera dia menepikan Landrover hijau tua, peninggalan ayahnya, seorang purnawirawan TNI berpangkat Kolonel.

“Ya, ada perkembangan apa?” tanya Aning lugas melalui speaker ponsel.

“Komandan, gawat!” suara Andi terdengar pecah oleh kepanikan. “Dokter Satria menghilang!”

“Menghilang!? Bicara yang jelas! Maksudnya apa menghilang.” Aning spontan menegakkan tubuhnya. Dokter Satria Kesumah adalah dokter yang melakukan autopsi pengusaha Darmono Subrata. Hasil autopsi itu nantinya akan menjelaskan penyebab kematian Darmono.

Iptu Aning mencengkeram stir landrovernya kuat-kuat. “Andi! Jelaskan, menghilang bagaimana?!”

“Tadi saya ke RS Pemda untuk mengambil hasil autopsi resmi almarhum Darmono,” ucap Andi terengah-engah. “Tapi beliau tidak ada di ruangannya. Mobilnya masih di sini. Pihak rumah sakit bilang, dokter sudah meninggalkan rumah sakit sejak subuh tadi usai merampungkan tugasnya.”

Hening panjang menggantung di antara sambungan telepon Jakarta dan mobil Aning. Dari seberang terdengan lagi suara Andi. “Saya curiga… Dokter Satria diculik, Komandan.”

Sorot mata Aning berubah kelam. Sebuah nyawa tak bersalah kini berada di ujung tanduk, terseret dalam pusaran konspirasi yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. “Jangan gegabah menyimpulkan. Tetap di pos, jaga lokasi,” perintah Aning dengan wibawa mutlak. “Saya meluncur ke sana sekarang.”

Sambungan terputus. Tanpa buang waktu, Land Rover hijau tua milik Aning menderu garang, membelah kemacetan jalanan ibu kota dengan kecepatan tinggi dan meninggalkan kepulan debu di belakangnya.

Baca Juga:  Pemkab Pemalang Ajak Warga Wujudkan Ketahanan Pangan dan Pembangunan Daerah

Deru mesin Land Rover hijau tua itu terhenti di halaman RS Pemda, berhenti tepat di samping sedan dr. Satria. Andi berdiri di sana dengan wajah sepucat pualam, napasnya tersengal menahan beban cemas.

“Komandan…” bisiknya lemah saat Aning melangkah turun dari mobil.

Tanpa suara, Aning mengangguk. Tatapannya yang tajam langsung menyapu sekeliling, memindai setiap jengkal area parkir seperti elang yang mengincar mangsa. Langkah kakinya membawanya mendekati sedan dr. Satria. Perlahan, pintu mobil dibuka dan seketika udara di sekitar terasa membeku.

Di jok pengemudi, jejak-jejak kelam itu masih terekam nyata: bercak darah yang mengering pada serat kain, saksi bisu dari sebuah pergulatan yang tak main-main. Di kaca jendela, sebuah anomali tercetak samar, bekas telapak tangan yang tampak seperti tersengat panas ekstrem sebelum akhirnya memudar secara misterius.

“Pintunya tidak terkunci saat saya tiba, Komandan,” ucap Andi bergetar.

Dengan hati-hati berlapis sarung tangan lateks, Aning menyentuh noda merah itu. Rahangnya mengatup rapat. “Ini bukan sekadar luka. Ini adalah sisa perlawanan dari sebuah nyawa yang dirampas secara paksa.”

Iptu Aning menghubungi ponsel dokter Satria, namun yang menyahut suara operator, datar menghancurkan sunyi: “Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi…”

Aning mematikan sambungan itu tanpa emosi, tetapi matanya memancarkan tekad yang kian membara. Langkahnya terarah tegas menuju pos satpam.

Di sana, seorang pria paruh baya duduk dengan gelisah, jemarinya saling meremas menahan takut. “Terakhir kali, bersama siapa Dokter Satria terlihat?” tanya Aning lugas seraya menunjukkan identitasnya.

Baca Juga:  Sifat Lembut Perempuan Minang yang Bikin Dunia Penasaran Berat

“Mas, Mas Bayu, Komandan… teman dekat dokter Satria yang sering berkunjung kesini,” jawab sang satpam terbata-bata.

Nama itu menghentak udara di antara mereka. Aning terpaku sejenak. “Bayu…” gumamnya lirih. “Hmm, Wartawan News Seruni ini, kau selalu selangkah didepanku.”

Ponsel Iptu Aning mendadak bergetar. Pesan singkat WhatsApp masuk ke ponselnya. Matanya langsung berbinar begitu muncul nama sang pengirim pesan. “Bayu Gendeng”. Iptu Aning memang menamai nomor Bayu dengan Bayu Gendeng. Bukan karena kesal tetapi sebuah penghormatan.

Sebuah pin lokasi disertai satu baris kalimat pendek tertera jelas di layar ponsel: “Showroom Mobil Bekas Melani.”

Briptu Rusdi, yang berdiri persis di samping Iptu Aning langsung sigap. “Saya tahu tempatnya komandan. Showroom itu anak cabang PT Subangkit Raya.”

“Kita berangkat sekarang,” perintah Aning mutlak, setelah membalas pesan agar Bayu tidak melakukan gerakan apapun sampai mereka tiba.

Perburuan yang lebih berbahaya telah dimulai. Apakah Iptu Aning berhasil menangkap buruannya? Ikuti terus kisahnya. (bersambung)