PEMALANG, MEDIASERUNI.ID – Ancaman gagal panen kini menghantui ribuan petani di Pemalang setelah Bendung Mejagong tersumbat material pascabanjir besar Februari lalu. Tumpukan batu dan sedimen di hulu bendung membuat aliran air tersendat, memicu krisis irigasi di sejumlah daerah pertanian.

Kondisi ini dibahas dalam rapat darurat para pengelola irigasi (Ulu-ulu Vak) DI Sungapan yang digelar di Sekretariat IP3A Sungapan, Bojongbata, Kamis (30/4/2026). Para petani menyuarakan kekhawatiran serius atas ancaman musim tanam kedua (MT 2) yang terancam berantakan.

Ketua IP3A DI Sungapan, Andi Rustono, mengungkapkan bahwa dampak banjir tidak sekadar merusak, tetapi juga melumpuhkan fungsi bendung. Material batu berukuran besar yang menumpuk menghambat distribusi air ke saluran induk Mejagong—sumber vital bagi sejumlah wilayah irigasi di bawahnya.

Baca Juga:  Pemkab Indramayu Peringati Harlah Pancasila. Pancasila Sebagai Filter Dampak Kemajuan Teknologi

“Debit air turun drastis. Padahal ini urat nadi pertanian, bukan hanya untuk Mejagong, tapi juga Kejene, Lanji Ladang, Rambut, hingga Sungapan,” tegasnya.

Dampak di lapangan sudah terasa. Di wilayah Cipero, petani mulai membatalkan tanam. Bahkan, tanaman MT 1 yang belum dipanen terancam gagal total akibat kekurangan air. Sementara di Sungapan, petani berada dalam situasi serba salah: tetap menanam dengan risiko kekeringan atau menunda dan kehilangan musim tanam.

“Ini bukan lagi sulit, ini darurat. Petani seperti dipaksa bertaruh dengan nasib,” ujar Andi.

Di tengah krisis, kebijakan pembagian air secara bergilir (gilir air) yang diberlakukan DPU SDA justru menuai protes keras. Kebijakan tersebut dinilai tidak masuk akal karena diterapkan sejak awal MT 2, saat kebutuhan air justru sedang tinggi.

Baca Juga:  Mengapa Banyak Smartphone 2026 Tak Lagi Pakai Sensor Kamera 1 Inci

“Baru mulai musim tanam sudah gilir air? Ini tidak wajar. Sama saja mempercepat gagal panen,” katanya.

Petani yang mencoba bertahan dengan menyedot air secara mandiri pun harus menanggung biaya tambahan yang tidak sedikit, memperparah beban di tengah ketidakpastian hasil panen.

IP3A Sungapan mendesak BPSDA Pemali Comal segera turun tangan melakukan normalisasi Bendung Mejagong. Pembersihan material penyumbat dinilai mendesak untuk menyelamatkan musim tanam dan mencegah kerugian yang lebih besar.

“Kalau dibiarkan, ini bukan sekadar gagal panen. Ini soal keberlangsungan hidup petani,” pungkasnya.

Krisis ini menjadi peringatan keras bagi pemerintah daerah. Tanpa langkah cepat dan konkret, sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Pemalang terancam lumpuh.