⁹Bekasi, MEDIASERUNI.ID – Gaya hidup tidak sehat dan kasus diabetes kini menjadi pemicu utama meningkatnya risiko stroke serta neuropati (penyakit saraf tepi) yang ditandai dengan gejala kesemutan dan kebas.
Dokter Syaraf Tranggono Yudo Utomo, Sp.S mengimbau masyarakat untuk lebih ketat menjaga faktor risiko kesehatan demi menekan angka kejadian tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Dokter Tranggono dalam momentum THE 1ST BEKASI REGIONAL ADVANCEMENT IN NEUROLOGY SYMPOSIUM (BRAINS) Saving the Brain, Preserving the Mind: From Stroke to Dementia.
Tranggono menyampaikan itu seiring momentum peringatan Hari Stroke Sedunia pada 29 Oktober dan Hari Jadi Perdossi pada 31 Oktober.
Tranggono mengungkapkan, stroke saat ini menempati urutan kedua penyebab kematian di Indonesia serta peringkat pertama penyebab kecacatan di dunia. Dari berbagai kasus yang ada, jenis iskemik akibat penyumbatan tercatat paling mendominasi dibandingkan jenis hemoragik atau pendarahan.
Dalam penanganan stroke iskemik, ia menekankan pentingnya kecepatan bertindak atau yang dikenal sebagai golden period (waktu emas) selama 4,5 jam. Pada rentang waktu tersebut, pasien dapat diberikan obat alteplase untuk memulihkan fungsi tubuh dan mencegah kelumpuhan permanen.
”Jika lewat dari 4,5 jam, dapat dilakukan tindakan mekanikal trombektomi hingga batas waktu 24 jam di rumah sakit besar seperti RSUD atau RS Siloam,” ujar dr. Tranggono dalam keterangannya, Minggu 1 November 2026.
Guna menekan angka kecacatan dan kematian akibat keterlambatan penanganan, Perdossi saat ini tengah memperkuat kerja sama strategis dengan Kementerian Kesehatan.
Langkah ini difokuskan untuk mengedukasi serta melatih dokter umum di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) agar pasien dengan onset kurang dari 4,5 jam dapat langsung dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas penanganan stroke memadai.
Selain stroke, masyarakat juga diminta mewaspadai ancaman neuropati atau gangguan pada sistem saraf tepi. Kondisi ini umumnya ditandai dengan gejala khas seperti kesemutan, kebas, dan baal, yang kerap dipicu oleh diabetes, saraf terjepit, serta defisiensi vitamin B12.
dr. Tranggono menegaskan, diabetes merupakan faktor risiko terbesar yang dapat memicu kerusakan saraf tepi sekaligus meningkatkan kerentanan pasien terhadap serangan stroke lanjutan.
Untuk mencegah berbagai risiko tersebut, Perdossi mengimbau masyarakat agar konsisten menjaga pola hidup sehat.
Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui rutin berolahraga, mengontrol kadar gula darah dan tekanan darah, menghindari obesitas, serta menghentikan kebiasaan merokok yang kini menjadi salah satu faktor risiko mayor. (damar)
