Bekasi, MEDIASERUNI.ID – Menjaga kualitas dan durasi tidur yang cukup memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan serta daya tahan tubuh. Kebiasaan istirahat yang baik tidak hanya memulihkan energi, tetapi juga membantu tubuh terhindar dari berbagai penyakit berbahaya, termasuk stroke.
Dokter Spesialis Saraf (Neurologi), dr. Rezy Sesareza Prakarsa, membagikan sejumlah kiat penting untuk mendapatkan tidur berkualitas guna menekan risiko stroke. Menurutnya, tidur yang baik membantu menyeimbangkan hormon dan memulihkan stamina secara optimal.
Ia mengingatkan bahwa serangan stroke dapat terjadi kapan saja dan di mana saja karena kerusakan utamanya berpusat di otak. Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk menghindari kebiasaan begadang yang tidak perlu.
”Jadi, jangan begadang, sebaiknya tidur, terkecuali untuk profesi yang bekerja dengan sistem shift,” ujar dr. Rezy.
Pekerja dengan sistem shift malam seperti petugas keamanan (satpam), perawat, dokter, hingga petugas pemadam kebakaran (damkar)memang memiliki tantangan tersendiri dalam mengatur waktu istirahat. Namun, ada trik khusus yang bisa diterapkan.
Ia mencontohkan salah satu pasiennya yang berprofesi sebagai satpam di samping Bekasi Town Square (Betos). Bagi pekerja shift malam, dr. Rezy menyarankan agar tidak langsung tidur setelah pulang bekerja di pagi hari.
”Selepas siang, saya sarankan baru dia tidur sekitar pukul satu siang selama satu sampai dua jam. Durasi satu hingga dua jam itu berfungsi sebagai pengganti waktu tidur yang kurang,” jelasnya.
Selain itu, menjelang masuk shift malam pada pukul 18.00 atau 19.00 WIB, pekerja dianjurkan untuk kembali tidur selama 1–2 jam. Secara keseluruhan, kebutuhan tidur ideal tetap harus memerhatikan kualitas dan kuantitas dengan durasi 6 hingga 8 jam sehari.
Hipertensi dan Gaya Hidup sebagai Faktor Risiko
Selain kurang tidur, dr. Rezy menyoroti faktor medis lain yang memicu stroke, salah satunya adalah hipertensi. Kondisi medis khusus seperti lupus juga meningkatkan risiko karena karakteristik darah yang cenderung lebih kental.
Kendati demikian, ia menegaskan bahwa tidak semua pengidap lupus otomatis terkena stroke. “Dari 70 persen pasien stroke, separuh diantaranya disebabkan oleh hipertensi,” ungkapnya.
Ia juga mengenang kisah salah satu pasiennya sebelum pandemi COVID-19 pada 2019 lalu. Pasien tersebut kini telah kembali pulih dan sehat.
Dahulu, pasien itu berlatar belakang sebagai atlet e-sport yang kerap mengikuti jadwal turnamen internasional, sehingga waktu tidurnya tidak teratur, pola makan kacau, dan berat badannya mencapai lebih dari 120 kilogram akibat kebiasaan buruk yang dimulai sejak masa SMP.
Meluruskan Mitos Makanan untuk Pasien Stroke
Dalam kesempatan yang sama, dr. Rezy turut meluruskan pemahaman keliru yang kerap beredar di tengah masyarakat terkait pantangan makanan bagi penyintas stroke. Banyak orang beranggapan bahwa pasien stroke dilarang keras mengonsumsi daging, telur, atau ayam.
Padahal, sel-sel otak yang sedang dalam pemulihan sangat membutuhkan nutrisi yang lengkap dari berbagai sumber makanan tersebut, terutama protein.
”Makanlah semuanya, yang penting dalam bahasa Inggrisnya in moderation—tidak berlebihan dan secukupnya saja,” tegas dr. Rezy.
Ia menganalogikan, mengonsumsi sate kambing diperbolehkan, asalkan dalam jumlah wajar (misalnya beberapa tusuk saja), bukan menghabiskan satu ekor kambing sekaligus.
”Boleh makan daging? Boleh. Boleh makan ikan? Boleh banget, karena sel-sel otak pasien stroke butuh nutrisi. Kalau sudah kena stroke lalu tidak boleh makan daging, tidak boleh makan telur, tidak boleh makan ayam, lantas otaknya dapat makan apa? Proteinnya itu bagus dan sehat, asalkan tidak berlebihan,” pungkasnya. (damar)
