Bekasi, MEDIASERUNI.ID – Rumah Sakit (RS) Siloam Bekasi Timur menyatakan terus mengejar standar penanganan stroke tercepat dengan tingkat kecacatan serendah mungkin.
Direktur RS Siloam Bekasi Timur, Luxandre Agung, menyebut rumah sakitnya telah meraih Stroke Angels Award sebagai bukti komitmen itu.
Hal tersebut disampaikan Luxandre di sela simposium di Kota Bekasi, Minggu 1 November 2026. “Upaya penanganan secepat mungkin dengan tingkat kecacatan serendah mungkin,” ujar Luxandre, menyampaikan bahwa imej Siloam yang dikenal gercep dalam penanganan kasus.
Fokus Pada Stroke Sumbatan
Menurut Luxandre, stroke terbagi menjadi dua tipe, yaitu sumbatan dan pendarahan. “Jadi pasien stroke itu memiliki banyak tipe, ada yang sumbatan dan ada yang pendarahan,” katanya.
Pasien stroke pendarahan dirawat inap biasa. Jika kondisinya parah, pasien ditangani bedah saraf. Namun, perhatian utama RS Siloam Bekasi Timur tertuju pada stroke sumbatan karena jumlahnya lebih dominan.
Untuk pasien stroke sumbatan yang datang dalam waktu onset tertentu dan memenuhi kondisi medis, dokter memberikan obat pengencer darah untuk membuka sumbatan. Rumah sakit menargetkan dokter spesialis tiba dalam hitungan puluhan menit.
Luxandre menegaskan dokter spesialis siaga sepanjang waktu. “Dokter kami pasti datang,” ujarnya, baik pukul 01.00, pukul 02.00, subuh, maupun malam hari.
“Harus langsung menegakkan diagnosis, langsung obat masuk, dan di situlah letak kunci agar pasien dapat segera pulang,” paparnya.
Klaim 100 persen untuk pasien yang memenuhi kriteria.
Luxandre mengklaim, tahun ini seluruh pasien yang memenuhi kriteria program penanganan stroke akut berhasil ditangani sesuai standar (100 persen). Pasien yang datang terlambat tidak masuk hitungan.
“Memang ada beberapa pasien yang masuknya telat, itu tidak masuk kriteria,” sambungnya. Pasien tersebut tetap dirawat, tetapi hasilnya tidak sebaik pasien yang ditangani dalam hitungan jam.
Pasien lansia pulang tanpa cacat
Ia mencontohkan seorang pasien ibu berusia cukup lanjut yang pulang tanpa kecacatan dan kembali beraktivitas, termasuk berkendara.
Gejala awalnya tidak berupa lumpuh atau sulit bicara. Pasien merasa lingkungan sekitarnya terasa asing, bahkan di sekitar rumahnya sendiri.
Keluarga pasien yang berlatar belakang tenaga medis segera membawanya ke rumah sakit. Menurut Luxandre, penanganan cepat membuat pasien pulih sepenuhnya meski memiliki penyakit penyerta.
Ia mengimbau masyarakat segera membawa anggota keluarga ke rumah sakit jika muncul tanda tidak biasa, misalnya bicara kacau.
Perluasan UGD, kamar operasi, dan tempat tidur.
Luxandre mengatakan RS Siloam Bekasi Timur akan memperluas fasilitas dalam waktu dekat, termasuk penambahan tempat tidur, dokter, spesialis, dan peralatan. Bulan lalu, menurutnya, rumah sakit sempat kehabisan kamar sehingga harus merujuk pasien.
Dalam satu setengah tahun ke depan, UGD direncanakan diperluas sekitar dua hingga dua setengah kali lipat. Kamar operasi juga akan ditambah untuk mengantisipasi stroke pendarahan.
Selain stroke, layanan unggulan lain meliputi layanan ibu dan anak, neurologi, dan klinik bebas nyeri (pain center). “Untuk neurologi ini kan kami menang penghargaan tahun ini, jadi ke depannya pengembangan,” terangnya.
Luxandre menambahkan, simposium tersebut dihadiri tenaga kesehatan dari klinik, puskesmas, dan rumah sakit lain. Ia menyebut hal itu sebagai bentuk berbagi ilmu dan pembinaan relasi antarfasilitas kesehatan di Bekasi, termasuk untuk rujukan pasien. (damar)
