Karawang, MEDIASERUNI.ID – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lodaya Puragabaya Indonesia menggelar Grand Final Pasanggiri Jaipongan Kreasi Singaperbangsa di GOR Panatayudha, Karawang.

Kegiatan, Sabtu 11 Juli 2026 ini digagas untuk melestarikan kebudayaan Sunda ini menjadi pembuktian bagi talenta muda Jawa Barat dalam merawat warisan budaya melalui seni tari.

Ketua LSM Lodaya Nace Permana menjelaskan pemilihan nama “Singaperbangsa” merupakan salah satu metode untuk memperkenalkan seni tari kepada generasi Z dan Alfa.

“Dalam tari, bukan sekadar menggerakkan tubuh saja, namun juga mengingatkan anak-anak terhadap sosok pendiri Karawang, yakni Singaperbangsa,” jelas Nace.

Ia menambahkan, pihaknya mendukung penuh pelestarian budaya Sunda beserta ekosistem penunjangnya. Sebagai contoh, sejak tujuh tahun lalu LSM Lodaya telah menciptakan sejumlah lagu pengiring tari, di antaranya “Bedog Lubug” dan “Nyi Ronggeng”.

Baca Juga:  Bulukumba Lahirkan Doktor Bidang Media, Mahasiswa S3 UIN Alauddin Makassar Asal Bonto Bahari

Nace melanjutkan, saat ini lagu pengiring yang digunakan hanya “Singaperbangsa” yang dirilis pada 2026. Lagu tersebut disebut telah diperdengarkan di sejumlah wilayah di Indonesia, seperti Kalimantan, Sulawesi, Jawa Tengah, dan Sumatera.

“Untuk perhelatan lomba ini kami sudah memulai tiga bulan lalu, jadi tidak setiap hari, dan hari ini grand finalnya,” ujar Nace.

Daftar Pemenang Grand Final Pasanggiri Jaipongan Singaperbangsa
Berdasarkan berita acara nomor 03.5/LSM Lodaya, berikut daftar juara yang berhasil memikat hati dewan juri.

Kategori Anak
Juara 1: Sanggar Tari Putri Ayu, Kota Bandung (Hadiah Rp 7.500.000)
Juara 2: Sanggar Tari Puspa Wangi (Hadiah Rp 5.000.000)
Juara 3: Sanggar Tari Ajaeleang (Hadiah Rp 3.000.000)

Kategori Remaja
Juara 1: Sanggar Tari Tri Arta, Bandung
Juara 2: Sanggar Tari Saca Anakala
Juara 3: Sanggar Tari Graha, Bandung
Harapan 1: Sanggar Tari Saung Berem, Karawang
Harapan 2: Sanggar Tari Putri Ayu, Kota Bandung
Harapan 3: Sanggar Tari Mandala, Bandung
Nace berharap para pelajar, mulai dari jenjang SD hingga SMA, tidak melupakan kebudayaan Sunda di tengah gempuran budaya populer saat ini. (Damar)