KARAWANG, MEDIASERUNI.ID – Di balik Peristiwa Rengasdengklok yang menjadi bagian penting menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, terdapat sosok pejuang lokal yang jasanya belum banyak dikenal masyarakat, yakni Kapten Masrin. Tokoh asal Rengasdengklok, Karawang, ini disebut memiliki peran penting dalam pengamanan Presiden Soekarno, Mohammad Hatta, Fatmawati, dan rombongan saat berada di Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945.
Putra tertua Kapten Masrin, Wiwin Winara, bercerita bahwa Aki Masrin bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA) pada tahun 1945.
“Guna melawan Belanda. Namun, bapak saya memanfaatkan organisasi PETA untuk melakukan perlawanan balik terhadap pihak Jepang,” ujarnya.
Putra dan keluarga Kapten Masrin mengungkapkan bahwa sosok tersebut merupakan salah satu perwira PETA yang memahami kondisi wilayah Rengasdengklok secara detail. Kemampuan itu membuatnya dipercaya mengatur lokasi pengamanan bagi rombongan Soekarno-Hatta menjelang pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Cece Wikana, putra Kapten Masrin, menuturkan bahwa ayahnya pernah menempuh pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) dan Sekolah Rakyat Muhammadiyah di Cikampek. Namun, menurutnya, sang ayah jarang menceritakan kiprahnya selama masa perjuangan.
“Beliau tidak banyak bercerita tentang perjuangannya semasa hidup. Kisah-kisah itu justru saya dengar dari para veteran yang setiap tahun berziarah setelah upacara 16 Agustus,” ujar Cece.
Menurut penuturan keluarga, Kapten Masrin turut menentukan lokasi persembunyian yang dianggap aman bagi Soekarno dan rombongan. Salah satunya adalah rumah milik Djiauw Kie Song yang dipilih karena lokasinya strategis, dekat Sungai Citarum, dan relatif aman dari pengawasan tentara Jepang.
“Jika keberadaan mereka diketahui Jepang, jalur penyelamatan melalui Sungai Citarum sudah diperhitungkan,” kata Cece.
Selain itu, Kapten Masrin disebut menjadi salah satu tokoh yang memimpin dan mengoordinasikan pemuda PETA di Rengasdengklok. Ia juga memahami jalur-jalur pergerakan yang digunakan untuk membawa Soekarno dan Hatta masuk ke wilayah Rengasdengklok tanpa terdeteksi pihak Jepang.
Edi Supriyadi, cucu Dahlan Sutaryo, menilai sejarah perjuangan Rengasdengklok masih belum banyak mendapat perhatian. Menurutnya, kontribusi para pejuang seperti Kapten Masrin, Ki Dahlan Sutaryo, dan Ki Ginun dalam mengamankan para proklamator sering kali tenggelam di balik narasi besar sejarah nasional.
“Kami merasa perjuangan masyarakat Rengasdengklok belum terdokumentasi secara memadai. Sampai hari ini, Karawang belum memiliki museum khusus yang menceritakan perjuangan masyarakat Rengasdengklok secara lengkap,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Duta Baca Kabupaten Karawang, Muhamad Supriyatna Bintang. Ia menilai Peristiwa Rengasdengklok merupakan salah satu episode paling penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia karena menjadi titik krusial yang mendorong lahirnya Proklamasi 17 Agustus 1945.
“Di sinilah salah satu titik penting lahirnya kemerdekaan Indonesia. Peran para pemuda dan tokoh lokal seperti Kapten Masrin, Ki Dahlan Sutaryo, Ki Ginun, hingga masyarakat etnis Tionghoa menunjukkan bahwa kemerdekaan diraih melalui perjuangan bersama,” kata Bintang.
Meski namanya tidak seterkenal tokoh-tokoh nasional lainnya, keluarga berharap jasa Kapten Masrin dapat lebih dikenal masyarakat sebagai bagian dari sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya dalam Peristiwa Rengasdengklok yang menjadi momentum penting menjelang Proklamasi 17 Agustus 1945.
