Karawang, MEDIASERUNI.ID – Pilihan berbeda diambil Omar Bagayoko, mahasiswa internasional Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) asal Mali, Afrika Barat. Di saat mayoritas pemuda di negaranya memilih melanjutkan studi ke Prancis, Omar justru mantap menempuh pendidikan tinggi di Indonesia hingga sukses meraih gelar sarjana.

​Perjalanan 4 tahun Omar di Indonesia bermula dari impian lamanya sejak lulus SMA di Bamako, Mali. Meskipun Mali merupakan negara bekas jajahan Prancis dengan norma pendidikan yang berkiblat ke Eropa, Omar melihat potensi besar dan daya tarik tersendiri dari Indonesia.

​Faktor persamaan agama dan keberagaman budaya menjadi alasan utama Omar berlabuh di Nusantara. Sebagai negara berkebudayaan multikultural dengan mayoritas penduduk Muslim, Indonesia memberikan rasa aman sekaligus pengalaman baru baginya.

​”Pilihan saya memang sedikit berbeda. Dari segi agama, Indonesia sama dengan Mali yang mayoritas Islam. Ini hal yang berbeda sekali dengan orang-orang di Mali yang umumnya menitikberatkan studi ke Prancis,” ujar Omar saat ditemui usai kelulusannya.

​Sebelum menginjakan kaki di Indonesia, Omar telah menguasai beberapa bahasa asing dan mengambil program studi S1 Bahasa Arab. Impian belajar di Indonesia akhirnya terwujud hingga ia menuntaskan studinya di Unsika Karawang.

​Terpikat Budaya Sunda dan Kehangatan Wsrganya

​Selama empat tahun menimba ilmu di Karawang, Omar memanfaatkannya untuk mengeksplorasi keberagaman Nusantara. Ia mengaku takjub dengan kekayaan budaya, pakaian adat, hingga bahasa daerah yang ada di Indonesia.

Baca Juga:  Danlanal Bandung Beserta Prajurit Doa Bersama Jelang Hari Pahlawan

​”Selama berkuliah di Unsika, saya mempelajari beberapa budaya lokal seperti Sunda, Jawa, bahkan Sumatra seperti di Medan. Saya menemukan keunikan luar biasa di Indonesia,” ungkapnya.

​Sebagai satu-satunya mahasiswa asal benua Afrika di angkatannya, Omar mengaku sangat terbantu oleh keramahan dosen dan rekan-rekan sesama mahasiswa, baik mahasiswa lokal maupun internasional yang berasal dari Pakistan, Yaman, Tajikistan, dan Uzbekistan.

​”Masyarakat Indonesia sangat ramah dan antusias terhadap orang asing. Jurusan dan lingkungan kampus sangat menerima keberadaan kami,” tambahnya.

​Teruskan Misi Keluarga

​Darah pendidik mengalir deras dalam diri Omar. Ayahnya adalah seorang ustadz lulusan Universitas Islam Madinah, sedangkan ibunya merupakan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Quartier Niamana, Bamako, Mali. Keluarga Omar mengelola lembaga pendidikan Dar El-Falah yang menaungi jenjang SD hingga SMA.

​Setelah empat tahun tidak pulang ke kampung halaman, Omar berencana mudik sejenak ke Mali sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang magister (S2).

​”Saya ingin melanjutkan program Magister Pendidikan Agama Islam di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) di Depok. Saya ingin meneruskan perjuangan orang tua,” jelas Omar.

​Tak berhenti di situ, Omar memendam cita-cita untuk menempuh jenjang doktoral (S3) di Universitas Islam Madinah seperti sang ayah, serta membuka peluang untuk bekerja di Indonesia setelah lulus magister.

​Potret Isu Pendidikan di Mali

​Kehadiran Omar di Indonesia juga membawa wawasan mengenai dinamika pendidikan di negara asalnya. Di Mali, sistem pendidikan terbagi menjadi dua jalur utama, yaitu sistem berbahasa Prancis dan sistem berbahasa Arab.

Baca Juga:  KPK Hibahkan Barang Rampasan Negara ke Pemkab Indramayu Senilai 10,2 Miliar

​Omar yang tumbuh di keluarga religius memilih jalur pendidikan ala Arab sejak sekolah dasar. Namun, ia tak menampik masih adanya tantangan diskriminasi gender dalam akses pendidikan di Mali.

​”Di Mali masih ada diskriminasi antara laki-laki dan perempuan dalam menempuh pendidikan tinggi. Biasanya laki-laki lebih bebas menempuh pendidikan tinggi di dalam negeri atau ke Prancis, kecuali bagi anak perempuan yang menempuh sistem pendidikan Prancis baru mendapatkan akses lebih luas,” pungkasnya.

​Kehangatan warga dan dinamika akademis di Indonesia telah mencuri hati Omar. Ia berharap ilmu yang didapatnya selama berkuliah di Karawang dapat menjadi bekal berharga untuk memajukan pendidikan di negaranya kelak. (Damar)