MEDIASERUNI.ID – Meta, perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp, berencana melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terhadap 8.000 karyawan globalnya pada 20 Mei 2026. Langkah itu setara dengan 10 persen dari total tenaga kerja perusahaan yang mencapai hampir 79.000 orang per 31 Desember 2025, berdasarkan laporan Reuters, Sabtu (18/4/2026).

PHK ini disebut sebagai yang paling signifikan bagi Meta sejak gelombang perampingan besar pada akhir 2022 dan awal 2023.

Angka Lebih Kecil dari Spekulasi Awal

Isu PHK massal di Meta sebenarnya telah beredar sejak sebulan sebelumnya. Saat itu, informasi yang beredar menyebut angka jauh lebih besar, yakni sekitar 20 persen dari total tenaga kerja global perusahaan.

Angka resmi 8.000 karyawan — atau 10 persen — yang kini dikonfirmasi memang lebih kecil dari spekulasi awal. Namun dalam konteks skala perusahaan sekelas Meta, angka ini tetap mencerminkan pergeseran struktural yang besar.

Tidak ada penjelasan resmi dari Meta mengenai komposisi divisi atau wilayah mana yang paling terdampak. Informasi tersebut dikutip berdasarkan sumber internal yang tidak disebutkan namanya.

Dorongan AI Jadi Pemicu Utama

PHK ini tidak lahir dari krisis finansial. Justru sebaliknya.

CEO Meta Mark Zuckerberg telah menggelontorkan investasi bernilai ratusan miliar dolar Amerika Serikat untuk mempercepat adopsi kecerdasan buatan (AI) di seluruh lini operasional perusahaan. Ambisinya bukan sekadar mengintegrasikan AI sebagai alat bantu, melainkan mengubah secara fundamental cara kerja internal Meta dari akar.

Skala transformasi itu disebut-sebut jauh melampaui apa yang dilakukan perusahaan teknologi lain di industri yang sama. Ketika AI mengambil alih fungsi-fungsi yang sebelumnya dikerjakan manusia, kebutuhan terhadap tenaga kerja konvensional pun menyusut.

Itulah inti dari PHK ini. Bukan karena Meta merugi. Bukan karena pasar sedang lesu.

Efisiensi yang Sudah Diuji Sebelumnya

Ini bukan pertama kalinya Meta menempuh jalan perampingan besar. Pada akhir 2022 hingga awal 2023, Zuckerberg mendeklarasikan apa yang ia sebut sebagai “tahun efisiensi.” Kala itu, Meta memangkas lebih dari 21.000 posisi — sebuah angka yang lebih besar dari gelombang PHK yang akan datang.

Baca Juga:  Project LUCI: Ketika AI Wearable Kini Punya Ingatan Seperti Manusia

Strategi serupa kini diulang, namun dengan narasi yang berbeda. Jika dulu efisiensi dilakukan untuk memulihkan profitabilitas setelah kerugian besar akibat ekspansi metaverse, kali ini efisiensi digerakkan oleh ambisi mendominasi era AI.

Pola ini menunjukkan bahwa Meta secara konsisten menggunakan restrukturisasi tenaga kerja sebagai instrumen transformasi, bukan sekadar respons darurat terhadap tekanan eksternal.

Kinerja Keuangan Tetap Solid

Di tengah rencana PHK besar-besaran ini, kinerja keuangan Meta justru mencerminkan kesehatan yang kuat.

Sepanjang tahun lalu, Meta membukukan pendapatan lebih dari 200 miliar dolar AS — sebuah pencapaian yang menempatkannya di antara perusahaan teknologi paling menguntungkan di dunia. Laba bersih perusahaan menyentuh angka 60 miliar dolar AS, bahkan di tengah pengeluaran besar untuk infrastruktur AI.

Di pasar saham, Meta mencatatkan kenaikan 3,68 persen sejak awal tahun 2026 meski belum kembali ke level tertinggi yang dicapai pada musim panas tahun lalu. Kombinasi antara laba jumbo dan PHK massal ini menyulut kritik dari berbagai kalangan: mengapa perusahaan seprofitable Meta tetap memilih merumahkan ribuan karyawan?

Jawabannya terletak pada logika ekspansi AI. Setiap dolar yang dihemat dari penggajian berpotensi dialokasikan kembali ke infrastruktur komputasi, pengembangan model, dan akuisisi talenta teknis spesifik yang dibutuhkan dalam ekosistem AI.

Tren Industri: Meta Bukan Satu-satunya

Meta tidak bergerak dalam ruang hampa. Gelombang PHK berbasis efisiensi AI kini menjadi fenomena industri yang meluas.

Amazon, salah satu raksasa teknologi lain, dilaporkan telah merumahkan sekitar 30.000 karyawannya dalam langkah efisiensi yang juga didorong oleh otomatisasi berbasis AI. Angka itu jauh melampaui yang dilakukan Meta.

Pola yang berulang di berbagai perusahaan teknologi besar ini mempertegas satu hal: transformasi berbasis AI bukan sekadar wacana. Ia sedang secara aktif mengubah komposisi tenaga kerja global — khususnya di sektor teknologi — dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Baca Juga:  Alpamayo: Gebrakan Nvidia yang Siap Mengubah Dunia Mobil Otonom

Jadwal eksekusi PHK Meta ditetapkan pada 20 Mei 2026.

FAQ

Q: Berapa jumlah karyawan Meta yang akan terkena PHK pada 2026?

A: Sebanyak 8.000 karyawan atau setara 10 persen dari total tenaga kerja global Meta yang berjumlah hampir 79.000 orang per 31 Desember 2025.

Q: Kapan Meta akan melaksanakan PHK massal tersebut?

A: Meta menjadwalkan pelaksanaan PHK massal pada 20 Mei 2026, berdasarkan laporan Reuters pada 18 April 2026.

Q: Apa alasan utama Meta melakukan PHK besar-besaran ini?

A: PHK didorong oleh transformasi internal berbasis kecerdasan buatan (AI). CEO Mark Zuckerberg menggelontorkan ratusan miliar dolar untuk mengubah cara kerja perusahaan secara fundamental menggunakan teknologi AI.

Q: Apakah ini PHK terbesar dalam sejarah Meta?

A: Bukan yang terbesar. PHK terbesar Meta terjadi pada 2022–2023 saat perusahaan memangkas lebih dari 21.000 posisi dalam program yang disebut “tahun efisiensi.”

Q: Apakah perusahaan teknologi lain juga melakukan PHK serupa karena AI?

A: Ya. Amazon dilaporkan telah merumahkan sekitar 30.000 karyawan sebagai bagian dari langkah efisiensi berbasis otomatisasi AI, menjadikan tren ini fenomena industri yang meluas.