Bandung Barat, MEDIASERUNI.ID – Musabaqah Tilawatil Quran dan Hadits (MTQH) ke-XI Tingkat Kabupaten Bandung Barat resmi diselenggarakan pada Kamis, 15 Oktober 2026, di Pesantren P3SB, Cililin.

Mengusung tema “Membumikan Al-Quran, Menanamkan Amanah, Membangun Bandung Barat”, kegiatan Kamis 15 Oktober 2026, menjadi momentum penting memperkuat kecintaan masyarakat terhadap Al-Quran sekaligus meneguhkan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan akhlak mulia dalam kehidupan bermasyarakat.

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 320 peserta dari 16 kafilah kecamatan di Kabupaten Bandung Barat yang berkompetisi dalam berbagai kategori perlombaan. Pembukaan MTQH turut dihadiri Bupati Bandung Barat Jeje Richie Ismail, Wakil Bupati Asep Ismail, pimpinan DPRD Kabupaten Bandung Barat H. Mahdi Idris, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta jajaran pejabat dan undangan lainnya.

Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Daerah Pemilihan Kabupaten Bandung Barat, Hj. Sri Dewi Anggraini, menyampaikan penyelenggaraan MTQH harus dimaknai lebih luas daripada sekadar kompetisi membaca, menghafal, dan memahami Al-Qur’an.

“MTQH bukan sekadar ajang mencari siapa yang terbaik dalam membaca dan menghafal Al-Quran. Lebih dari itu, kegiatan ini adalah ikhtiar bersama untuk menumbuhkan generasi yang mencintai Al-Quran, memahami nilai-nilainya, dan menjadikannya pedoman dalam kehidupan,” ungkapnya.

Menurutnya, keberhasilan MTQH tidak semestinya hanya diukur dari jumlah peserta, kemeriahan pembukaan, atau siapa yang berhasil meraih gelar juara. Lebih penting dari itu adalah sejauh mana kegiatan tersebut mampu menghadirkan perubahan positif dalam perilaku masyarakat, kehidupan keluarga, serta tata kelola pemerintahan yang menjunjung tinggi nilai amanah.

Keluarga sebagai Fondasi Lahirnya Generasi Qurani

Hj. Sri Dewi Anggraini juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam membangun generasi yang dekat dengan Al-Quran. Menurutnya, pendidikan Al-Quran tidak boleh berhenti di pesantren, madrasah, sekolah, maupun arena perlombaan, tetapi harus tumbuh dan menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari di rumah.

“Generasi Qurani lahir dari keluarga yang dekat dengan Al-Quran. Karena itu, semangat MTQH harus kita bawa hingga ke rumah-rumah, agar semakin banyak keluarga yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber nilai, pendidikan karakter, dan tuntunan dalam membangun kehidupan yang penuh keberkahan,” tuturnya.

Baca Juga:  PWRI Sukabumi Santuni Lansia dan Vaksinasi Hewan Sambut 1 Muharram 1448

Pesan ini menjadi pengingat bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak cukup hanya melalui pendidikan formal. Diperlukan keteladanan orang tua, lingkungan yang mendukung, serta pembiasaan nilai-nilai kebaikan agar generasi muda tumbuh dengan karakter yang kuat, berintegritas, dan memiliki kepedulian sosial.

Menanamkan Amanah, Kunci Membangun Bandung Barat

Tema MTQH ke-XI tahun ini memiliki pesan yang relevan dengan tantangan pembangunan daerah. Frasa “menanamkan amanah” menegaskan bahwa nilai-nilai Al-Qur’an harus hadir dalam tindakan nyata, baik pada tingkat individu, keluarga, masyarakat, maupun pemerintahan.

Amanah berarti menjalankan tanggung jawab dengan jujur, menjaga kepercayaan, menunaikan kewajiban, serta tidak menyalahgunakan kewenangan. Nilai tersebut perlu diwujudkan oleh seluruh elemen masyarakat, termasuk pemimpin, aparatur pemerintahan, tokoh agama, pendidik, dan generasi muda.

Dalam konteks pembangunan Kabupaten Bandung Barat, semangat membumikan Al-Qur’an seharusnya berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pelayanan publik, penguatan pendidikan karakter, kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan, serta pembangunan yang berorientasi pada kemaslahatan bersama.

Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya dibaca dan dilantunkan dengan indah, tetapi juga menjadi inspirasi untuk membangun kehidupan yang adil, beradab, dan penuh tanggung jawab.

Pesan untuk Peserta dan Generasi Muda

Kepada seluruh peserta MTQH ke-XI, Hj. Sri Dewi Anggraini berpesan agar menjadikan ajang ini sebagai kesempatan untuk terus belajar, memperdalam pemahaman, dan meningkatkan kecintaan terhadap Al-Qur’an.

“Kepada seluruh peserta MTQH, teruslah belajar dan mencintai Al-Qur’an. Jadikan musabaqah ini sebagai bagian dari perjalanan untuk terus memperbaiki diri. Karena sejatinya, keberhasilan bukan hanya tentang meraih juara, tetapi tentang sejauh mana nilai-nilai Al-Qur’an hadir dalam akhlak dan kehidupan kita,” pesannya.

Ia berharap para peserta yang berkompetisi tidak hanya membawa pulang prestasi, tetapi juga menjadi teladan di lingkungan masing-masing. Para qari, qariah, hafiz, hafizah, dan peserta dari berbagai cabang lomba diharapkan mampu menjadi bagian dari generasi yang menginspirasi masyarakat melalui ilmu, akhlak, dan pengabdian.

Baca Juga:  DPRD Sahkan Perda Trantibumlinmas, Parkir Liar hingga Reklame Jadi Sorotan

Dari Seremoni Menuju Gerakan Nyata

Penyelenggaraan MTQH ke-XI Kabupaten Bandung Barat hendaknya menjadi titik awal untuk memperluas gerakan literasi Al-Qur’an, memperkuat pembinaan generasi muda, menghidupkan pendidikan Al-Qur’an dalam keluarga, serta membangun budaya amanah di tengah masyarakat.

Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, pesantren, organisasi kemasyarakatan, dan seluruh elemen masyarakat memiliki peran penting agar semangat MTQH tidak berhenti ketika acara penutupan selesai. Perlu ada keberlanjutan melalui pembinaan peserta, dukungan terhadap lembaga pendidikan Al-Qur’an, dan program yang mendorong pengamalan nilai-nilai Qur’ani dalam kehidupan sehari-hari.

Menutup pernyataannya, Hj. Sri Dewi Anggraini menyampaikan harapan agar MTQH ke-XI benar-benar melahirkan generasi yang membawa manfaat bagi masyarakat.

“Harapan saya sederhana, semoga MTQH ke-XI ini tidak hanya melahirkan para juara, tetapi juga semakin banyak pribadi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dalam kehidupannya. Sebab, generasi Qur’ani bukan hanya mereka yang mampu melantunkan ayat-ayat Allah dengan indah, tetapi juga mereka yang menghadirkan keindahan nilai Al-Qur’an melalui perilaku dan kepeduliannya kepada sesama.”

MTQH ke-XI Kabupaten Bandung Barat pada akhirnya membawa pesan bahwa kemajuan daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas akhlak, integritas, dan tanggung jawab masyarakatnya.

Membumikan Al-Qur’an berarti menghadirkan petunjuk-Nya dalam kehidupan. Menanamkan amanah berarti menjaga kepercayaan dalam setiap tanggung jawab. Dan membangun Bandung Barat berarti bersama-sama mewujudkan daerah yang maju, berakhlak, adil, dan membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat. (Candra)