MEDIASERUNI.ID – Matahari sore memantulkan cahaya kemerahan di atas deretan mobil mewah yang berjejer rapi di Showroom Melani. Suasana di dalam ruang kerja ber-AC lantai dua terasa begitu kontras dingin, kaku, dan penuh tekanan.

Bayu duduk berhadapan langsung dengan Umar Khartayam, sosok yang disebut-sebut sebagai Sang Naga. Sosok pengusaha bertubuh tegap itu memancarkan aura wibawa yang keras, menatap tajam sang jurnalis dengan sorot mata penuh selidik.

“Katakan, apa yang ingin kau konfirmasi?” suara Sang Naga Umar Khartayam memecah sunyi. Sorot matanya tajam menatap Bayu, namun dia merasa aneh, wibawanya seperti ada yang meredam saat beradu tatap dengan Bayu.

Bayu terlihat tenang, meletakkan perekam suara di atas meja kayu yang mengkilap sambil berucap jelas. “Mohon izin, merekam pak Umar.”

Umar Khartayam, pengusaha berjuluk Sang Naga cuma melirik dan menjawab sekedarnya. “Silahkan.”

“Mohon izin, informasi yang saya dapat almarhum Darmono Subroto ditemukan tewas di dalam mobilnya. Dan registrasi kendaraan itu… terdaftar atas nama Bapak Umar Khartayam.”

Umar tertegun, seringai dingin menghiasi bibirnya. “Kau sedang menuduh saya?”

“Saya hanya mencari kebenaran, Pak,” jawab Bayu tegas. “Apakah Bapak punya alibi?”

“Dua hari terakhir hingga malam kejadian, saya bersama keluarga di rumah. Silakan buktikan sendiri,” balas Umar dingin.

Baca Juga:  Lurah Widuri Tri Rayan Abdul Malik Siap Genjot Pajak hingga 100 Persen demi PAD dan Pelayanan Publik

“Lalu, bagaimana menjelaskan mobil Bapak yang berada di lokasi?” Bayu kembali bertanya.

Umar terdiam. Rahangnya mengetat, menyimpan amarah yang mendidih di balik ketenangannya. Namun, alih-alih marah, justru balik bertanya. “Apakah akan kau tulis bahwa korban tewas tanpa tanda-tanda kekerasan fisik… Korban kehilangan oksigen secara mendadak, tapi paru-parunya normal, benar, bukan?”

Bayu terperanjat. Bagaimana Umar bisa tahu detail forensik itu? Apa telah terjadi sesuatu dengan dokter Satria? Pertanyaan itu seakan menari dibenaknya. Namun Bayu berusaha menahan diri. “Saya tidak menulis seperti yang bapak ucapkan. Bapak yang lebih tahu nampaknya ketimbang dokter yang melakukan forensik.” Suara Bayu berat, sorot mata tajam, menerbarkan energi siap bertarung.

Akan tetap, Umar Khartayam tiba-tiba kepalkan tangan. Bibirnya bergetar menahan amarah, rahangnya mengeras. “Bajingan…” geramnya tertahan. Kalian mau korbankan aku.” Umar lantas berdiri dengan penuh amarah yang meluap. “Maaf dek, wawancara selesai, silahkan pergi.”

Beberapa menit kemudian, mobil Umar melesat keluar dari halaman showroom dengan decitan ban yang memekakkan telinga. Dari seberang jalan, di balik bayang-bayang minimarket, Bayu mengamati gerak-gerik Umar Khartayam.

Baca Juga:  Pewaris Langit Terakhir (6): Wartawan Disarang Penyamun

Bagi seorang jurnalis berpengalaman, gestur itu bukan kepanikan seorang penjahat, melainkan kemarahan seseorang yang baru sadar dirinya dijadikan bidak catur dalam permainan kotor orang-orang berkuasa.

Bayu mengendarai motor trail hitamnya, menjaga jarak aman di tengah kemacetan senja Jakarta, hingga akhirnya mobil Umar berbelok memasuki sebuah basement gedung pencakar langit yang menjulang angkuh: PT SUBANGKIT RAYA.

Bayu mematikan mesin motornya di seberang jalan. Matanya menatap tajam gedung megah tersebut, tempat di mana akar segala konspirasi ini bermula. Jemarinya dengan cepat mengetik sebuah pesan dan mengirimkan pin lokasi terkini kepada Iptu Aning.

“Permainan baru saja dimulai,” bisik Bayu pada angin malam, sebelum melangkah menyusup ke dalam sarang musuh.

Apa rahasia besar yang disembunyikan di balik nama PT Subangkit Raya? Dan mampukah Aning mengungkap kebenaran sebelum semuanya terlambat? Ikuti terus kisahnya. (Bersambung)