MEDIASERUNI.ID – SENJA baru saja tergelincir ketika mobil sport berwarna hitam metalik memasuki halaman sebuah vila di daerah puncak, Bogor. Vila itu tersembunyi dari vila-vila lainnya. Seorang lelaki tua bernama Mang Kusni tergopo-gopo menyambut Umar Khartayam, pengusaha showroom mobil berjuluk Sang Naga.
Memasuki bangunan utama, seorang perempuan setengah baya menyambutnya hormat. Umar Khartayam, terlihat sopan bertanya lembut pada wanita yang dipanggilnya Bi Sumi. “Bagaimana kondisi kesehatan dokter Satria, Bi.”
Bi Sumi menyahut hormat. “Alhamdilillah, sudah membaik, Den. Sekarang beliau menunggu Den Umar di ruang tamu utama.”
Umar buru-buru melangkah, dan mendapat dokter Satria di ruang tamu utama sedang membaca sebuah berita berjudul “Aroma Jejak Hantu Pembunuh Sudarmono Mulai Tercium” di media online News Seruni.
Umar hanya bergumam pendek ketika dokter Satria menyinggung berita itu. “Belum satu jam saya diwawancarai beritanya sudah muncul.”
Dokter Satria tersenyum tipis, dan menjawab. “Seperti itulah dia, cepat dan tajam.”
“Dokter sepertinya kenal baik dengan wartawan itu.”
“Bukan cuma kenal, saya malah sangat yakin, pada saat ini, ia pun sudah berada di sekitar vila bung Umar.”
Umar langsung kerutkan dahi. Rasanya mau menolak, terlebih dirinya itulah Sang Naga, pewaris Ilmu Naga yang menguasai ajian Naga Kabut. Dengan ajian itu, bahkan dia bisa membuat dirinya tidak terlihat mata kasat.
Namun sejak beradu tatap untuk pertama kali, sebetulnya diapun merasa ada yang aneh dalam diri Bayu. Dihadapan Wartawan News Seruni itu, aura Naga miliknya sama sekali tidak berarti. Hmm, wartawan bernama Bayu itu, sepertinya bukan manusia biasa.
Umar pun keluarkan ajian Sirep Naga. Dengan ajian itu dia bisa mengetahui keberadaan siapapun yang dia inginkan dalam radius 1 kilometer. Dan, diapun sontak terkejut. Energi yang dipancarkannya seperti tersedot dan lenyap begitu saja. Wajahnya spontan pucat. “Dokter, siapa sesungguhnya anak muda itu.”
Dokter Satria menghela napas, lalu berucap pelan. “Siapa dirinya, diluar statusnya sebagai wartawan, aku tak tahu persis. Tapi setahuku penciuman dan penglihatannya tajam. Makanya dia kumintai pendapat soal hasil forensik almarhum pak Sudarmono.”
Umar cuma terdiam di tempat duduknya, sebelum dokter Satria menatapnya tajam. “Maaf bung Umar, soal penyerangku itu, apa bung Umar mengenalnya.”
Dokter Satria menyinggung dua lelaki tinggi besar yang menyergapnya di halaman Rumah Sakit Pemda dua hari lalu sambil menodongkan pistol rakitan. “Mereka profesional dan sangat terlatih. Sepertinya sudah terbiasa melakukan pekerjaannya. Beruntung bung Umar segera muncul, kalau tidak mungkin aku sudah jadi mayat.”
Umar Khartayam cuma melirik kecil, dan menjawab. “Akupun tidak mengenal mereka, tapi ajian yang digunakan melukai dokter aku mengenalnya. Saran saya sebaiknya dokter fokus pada pemulihan kesehatan, sisanya biar aku yang urus. Dokter aman disini. Mang Kusni dan Bi Sumi akan menjaga dokter.”
Umar Khartayam berhenti sejenak, sebelum menarik napas dalam-dalam. “Soal hasil forensik itu, dokter yakin diagnosanya seperti itu.”
“Seratus persen yakin.”
Umar Khartayam berdiri dari kursinya dan melangkah menuju dinding berkaca tebal di ruang vila. Kaca itu didesain khusus bisa tembus melihat keluar, sedang dari luar tidak bisa melihat ke dalam.
Tangannya Umar Khartayam mendadak terkepal dan rahangnya mengeras, sorot matanya tajam, dan berguman pelan dengan nada suara bergetar. “Keparat! Subangkit, kalian benar-benar keparat! Kalian yang berbuat tapi melemparkan dosa ke wajahku.”
Namun gumaman itu hanya sebentar, meski dadanya dipadati emosi yang hebat, tetapi dialah Sang Naga, pendekar yang batinnya telah ditempah. Karenanya ia masih bisa menyembunyikan emosinya. “Lalu, dua orang itu, meski berhasil lolos, aku tahu betul itu ajian Cakar Getar. Dan, ajian itu yang membunuh Sudarmono.”
Umar Khartayam diam sejenak, jelas sekali kerut-kerut tebal di dahinya. “Siapa sebenarnya mereka… Apakah orang-orang Subangkit? Hmm, aku yakin Subangkit tahu siapa mereka. Selain aku, hanya Subangkit yang menguasai ilmu naga.”
Selagi menduga-duga begitu, dari luar vila mendadak terdengar bentakan-bentakan keras, suara orang berkelahi. Umar Khartayam yang menyaksikan dari balik kaca, melirik ke arah dokter Satria yang sudah berdiri disampingnya sambil berucap pelan. “Saya percaya, bung Umar bukan pelakunya. Pergilah, polisi-polisi itu temannya Bayu, aku menjelaskan ke mereka.”
Umar Khartayam sama sekali tak bereaksi. “Baiklah. Terima kasih, saya akan selesaikan urusan ini.”
Selesai bicara Umar Khartayam menyelinap ke ruang sebelah. Dan, sosoknya lenyap dibalik tatakan lemari dan lukisan-lukisan besar di ruang itu, dan begitu muncul sudah berada di halaman belakang vila. Namun dia seketika terkesiap, begitu menyaksikan sosok tubuh diatas motor trail hitamnya, hanya berkisar 40 meter dari motor besar yang akan dikendarainya.
“Bayu…” Umar Khartayam membatin. “Anak ini, siapa sesungguhnya dia, seperti bisa membaca pikiranku.” Akan tetapi Bayu sama sekali tidak bereaksi. Cuma menatap tajam dari kejauhan. Merasa Bayu tak berniat menghalangi Umar langsung menggeber motornya dan melesat menembus gelapnya malam. Bayu menyusul dibelakang.
Iptu Aning yang mendengar suara motor meraung langsung mengejar. Tapi ia terlambat. Buruannya sudah lenyap entah kemana. Matanya kemudian mencari-cari Bayu. “Sial, kemana anak itu. Jangan-jangan sudah kabur juga. Hmm, kalau ketemu nanti.”
Iptu Aning merepat panjang pendek, sebelum ponselnya berbunyi. Hatinya pun begitu muncul nama Bayu di layar ponsel. “Buruan ke PT Subangkit Raya, bakal ada tontonan seru.”
Iptu Aning masih merutuki Bayu. “Sialan kau Bayu, kabur gak bilang – bilang. Jangan -j angan membuntuti Umar Khartayam. Tapi mau apa Umar ke PT Subangkit.”
Khawatir terjadi kenapa-napa pada Bayu, Iptu Aning perintahkan anak buahnya membawa Mang Kurni dan Bi Sumi ke kantor, sedang dokter Satria di evakuasi ke rumah sakit. Aning sendiri bergerak ke PT Subangkit bersama dua orang anak buahnya. (Bersambung)
