UDARA di ruang rapat lantai dua gedung pencakar langit Subangkit Raya mendadak panas. Suhu udara yang mestinya menebarkan hawa dingin menurun drastis, seakan tersedot hawa panas yang memancar dari tubuh dua orang yang saling berhadapan. Mereka Umar Khartayam dan pria bernama Cakra.
Keduanya tangan kanan pengusaha nasional yang dikenal dengan nama Subangkit. Lantai dua gedung itu merupakan sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang properti. Pemilik perusahaan itu adalah Cakra, lelaki yang kini tegak angkuh.
Sedangkan lantai paling atas merupakan Perusahaan Subangkit Raya, perusahaan induk yang memiliki banyak anak perusahaan, dua diantara perusahaan yang dikelola Umar Khartayam dan Cakra.
Umar Khartayam berdiri tegak, napasnya memburu namun terkontrol. Di balik ketenangannya, darah panasnya bergolak membawa amarah yang menggebu-gebu. Sorot matanya tajam seperti mau menguliti orang didepannya.
Cakra menyeringai, memperlihatkan deretan gigi yang terkatup rapat. Urat-urat di lehernya menonjol, menahan aliran darahnya yang bergejolak hebat bercampur rasa penasaran tingkat tinggi.
Umar tertawa pendek, dan berucap. “Kalian membangun perusahaan raksasa di atas mayat orang-orang yang kalian khianati. Dan sekarang, kalian pikir lingkaran dosa ini bisa ditutup begitu saja dengan mengorbankan orang lain?”
“Maksudmu, Sudarmono?!”
Wajah Umar membeku. “Kalian menghabisinya!”
“Orang tua itu semakin lemah, dan berniat keluar dari lingkaran korporat. Sudah diperingatkan tapi keras kepala, dia pantas menerima hukuman.”
“Sudarmono yang berjuang untuk korporat ini, tanpa dia, kalian tak akan bisa sebesar ini.”
“Dunia ini tidak butuh orang berjasa, Umar! Dunia butuh kekuatan!”
“Kekuatan yang kalian bangun diatas keringat dan darah orang yang kalian khianati.”
Cakra menggeram. “Umar! Lebih baik kau diam, jangan ikut campur. Ini urusan korporat.”
“Keparat kalian! Kau suruh aku diam, lalu memikul dosa-dosa kalian! Itu maksudmu?!”
Cakra terdiam. Bibirnya yang sedikit tebal tertarik ke samping membentuk seringai kecil. “Aku tak mengerti maksudmu!”
Umar menahan amarah. “Kalian benar-benar srigala! Sudarmono kalian yang habisi, tapi menjebakku sebagai pelaku! Bajingan kalian!”
Sampai disitu, Cakra tertawa keras. Tubuh berguncang, namun dialah seorang yang cerdik, sambil memperlihatkan senyum sinis dia berucap pelan. “Jangan lempar batu sembunyi tangan. Bukankah polisi sedang memburumu. Mobil dan namamu bukti kuat untuk memastikan kaulah pembunuh Sudarmono.”
Umar tertawa kecil, lalu berucap keras. “Kalian mengira aku begitu bodoh. Tidak semudah itu. Korban tewas bukan tanpa gejala. Polisi saat ini sudah memegang bukti forensik, dan itu cukup untuk memastikan siapa pembunuh sebenarnya.”
Ucapan itu terdengar datar, tapi ditelinga Cakra laksana petir yang menyambar. Namun dia berusaha menyembunyikan keterjutannya. Karena dia tahu, itulah kalimat yang menjebak. Dia tidak akan menyebut mustahil forensik bisa mengungkap gejala kematian Sudarmono, karena akan mengundang kecurigaan kepada dirinya.
Namun dibalik itu, diapun mulai berhitung terhadap lelaki di depannya. Umar Khartayam tidak sesederhana yang dipikirkannya. Namun dia tak ingin semua itu terungkap, maka sambil tertawa datar, diapun berucap. “Makan boleh asal tapi bicara jangan sembarangan. Hasil forensiknya sudah keluar, tentulah akan memperkuat tuduhan kau pelakunya.”
Umar tersenyum, lelaki dihadapannya ternyata cerdas. Tadinya berharap Cakra hilang kendali lalu menyebut satu nama sang pemilik ilmu naga, Subangkit sebagai satu-satu yang tahu penyebab kematian Sudarmono. “Sepertinya tak perlu lagi berbasa basi, lebih baik minggir, aku mau bertemu Subangkit!”
Cakra tak bergeming, tetap berdiri kokoh menghadang. Umar tak sabar lalu melangkah maju. Pada saat itulah tanpa aba-aba, Cakra menerjang, setelah barusan jari-jarinya mendadak kaku dan membentuk cakar. Kecepatannya bagai sambaran kilat di tengah badai. Telapak tangannya menyambar ganas.
Umar yang sedari tadi sudah siaga hanya menggeser sedikit tubuhnya, dengan gerakan melingkar yang anggun namun mematikan, ia menyambut hantaman itu menggunakan telapak tangannya yang berisi tenaga dalam tingkat tinghi.
Namun betapa kagetnya Umar begitu dua tenaga dalam itu beradu, dia berseru kaget seketika merasakan gelombang kejut yang dahsyat merambat melalui jemarinya, hingga menciptakan hawa panas dan gatal.
“Keparat! Kau pelakunya!”
Umar Mundur selangkah, lalu menetralisir aliran darahnya sebelum melepas hawa murni menetralkan racun yang dilepas Cakra lewat jemarinya. Setelah mengemposkan napasnya, Umar berucap tenang. “Namanya bangkai, serapat apapun disembunyikan baunya akan menyeruak juga. Barusan kau gunakan Ajian Cakar Getar. Ajian itu yang membunuh Sudarmono.”
Gantian Cakra yang kaget. Bagaimana mungkin orang didepannya tahu nama ajian yang digunakannya barusan, dan Umar bisa menahannya. Sadar kesitu, terbukalah matanya, orang didepannya bukan manusia biasa. Namun Cakra berusaha bersikap tenang.
“Jadi, kaulah pewaris garis keturunan ilmu naga itu? Selama ini kami mencari ke mana ujungnya, dan ternyata bersembunyi di balik bayang-bayang perusahaan yang kau kelola. Pandai sekali kau bersembunyi.”
Selesai bicara Cakra kembali tertawa, namun jari – jarinya sudah kembali membentuk cakar naga. Senyum sinis terbentuk dibibirnya. “Terus kenapa kalau pewaris ilmu naga.”
Sedetik kemudian Cakra sudah menerjang. Jari-jari tangannya yang berbalut hawa panas menebar bau belerang menyambar dengan ganasnya. Namun Umar berhasil mengelak, disusul gerakan yang sama, Cakar Naga Umar menyambar tak kalah ganas.
Beberapa jurus berlalu. Dua naga yang bertarung belum memperlihatkan siapa lebih unggul. Keduanya tampak imbang, dan sama-sama hebat, meliuk dan berputar-putar lincah serta saling serang dengan jurus-jurus mematikan.
Hawa panas yang memancar dari pengerahan kekuatan batin pemikik ilmu silat naga yang bertempur membuat udara di ballroom perusahaan properti di lantai 2 gedung Subangkit Raya semakin panas. Udara dingin ruangan ber AC tersebut seperti tergulung, dan tersedot dalam balutan hawa panas.
Umar Khartayam membentak keras, namun dia terkesima, Cakra dengan liukan naganya berhasil melompat sambil lepaskan ajian Bayu Geni, menciptakan lapisan tipis kabut kelabu yang sangat panas. Umar kaget, dan cepat memapak pukulan dengan ajian yang sama.
Sesaat terdengar benturan keras. Baik Umar maupun Cakra sama-sama terjajar kebelakang. Dari mulut keduanya merembes darah segar. Sambil menormalkan aliran darah yang tak beraturan Cakra berucap keras. “Julukan Sang Naga bukan nama kosong. Pak Umar memang hebat.”
Umar Khartayam tak menyahut, cuma matanya menyorot tajam. “Tak perlu basa basi. Bersihkan namaku!”
“Soal bebersih nama bukan urusanku. Perintahku cuma memberi hukuman kepada Sudarmono. Selebihnya aku tak tahu.”
“Jangan berdalih! Bukankah pak Cakra yang membawa mobilku ke hotel dan memesan kamar hotel atas namaku!”
“Terserah pak Umar mau percaya atau tidak, yang aku katakan seperti itulah memang. Perintahku cuma menghukum Sudarmono.”
Umar mendengus. “Huh! Lebih baik pak Cakra sampaikan itu ke polisi!” Umar mendahului menerjang. Cakra mengelak, lalu membalas menerjang. Umar memapak dengan jurus Naga Membelah Samudera. Dalam posisi membelakangi tiba-tiba lengannya mengibas ke belakang, laksana ekor naga menghempaskan musuhnya.
Cakra kaget, tapi dialah seorang yang menguasai ilmu silat yang sama, sehingga serangan ganas itupun berhasil dielakan dengan mudah, disusul gerakan cepat melepas ajian Naga Langit Ketujuh. Tapak tangan dengan telunjuk tegak lurus diatas kepala ditarik hingga sejajar telinga, begitu didorong kedepan hawa yang sangat panas menyerbu ganas.
Umar tak mau ambil risiko, dengan gerakan cepat, tapak tangan terangkap didepan dada ditarik setengah lengan, begitu diputar hawa panas laksana bergulung dan menyerbu ganas. Umar melepas ajian Pukulan Sinar Rembulan. Pukulan Sinar Rembulan merupakan tataran ketujuh dari delapan tataran dalam ilmu silat Delapan Tapak Naga. Ajian ini satu tingkat diatas Naga Langit Ketujuh.
Sekejap itu terdengar suara benturan keras. Cakra terbanting ke lantai, mulutnya menyemburkan darah segar. “Pak Umar, kau.. Apakah itu Pukulan Sinar Rembulan.” suara Cakra terputus-putus, dia nampak terkejut.
Dihadapan Cakra, pengusaha bernama Umar Khartayam tegak dengan wajah membesi. Sorot matanya tajam, rahangnya masih mengeras menandakan kemarahannya belum reda. “Tak perlu kau tahu apa namanya. Serahkan dirimu, dan akui semua dosa-dosamu!”
Umar melangkah mendekati. Tapak tangan mengeras berwarna biru sebatas siku. Umar bersiap melepas ajian Bayu Geni yang bisa membuat Cakra tewas seketika dengan tubuh membiru. Cakra hanya bisa pasrah sambil menahan sekujur tubuhnya yang seperti terpanggang.Tulang-tulang ditubuhnya serasa remuk.
Cakra menunggu kematiannya. Namun sesaat lagi Umar hantamkan tapak tangan, dari belakang terdengar bentakan keras. “Pak Umar, sebaiknya menyerah, kami harap bapak bisa bekerjasama!” Yang membentak ternyata Iptu Aning. Disampingnya dua anak buahnya menodongkan pistol ke arah Umar Khartayam.
Umar termasuk dalam jajaran pengusaha-pengusaha nasional ibu kota, terhadap Iptu Aning tentu saja kenal. Makanya begitu melihat lemunculan polwan itu, dia lantas tertawa kecil. “Ibu Iptu, saya tidak bersalah. Harap ibu menyelidiki”
“Sampaikan nanti di kantor! Kami hanya menjalankan tugas! Harap pak Umar tidak mempersulit” Iptu Aning membentak kembali, meminta Umar diam ditempat.
Bagi praktisi spiritual seperti Umar, untuk meloloskan diri dari sergapan Iptu Aning bisa saja dia lakukan. Tapi ia tidak mau menambah persoalan.Terlebih lagi saat ini dirinya calon kuat tersangka. Semua bukti kejahatan mengarah kuat pada dirinya.
Iptu Aning sendiri sama sekali tidak memberi kesempatan padanya untuk membela diri. Meski pada saat itu pembunuh sesungguhnya jelas-jelas berada dihadapannya. Rasanya tidak adil. Tapi Umar tak bisa berbuat apa-apa. Dihadapan Iptu Aning semua alibinya jadi mentah.
Umar menghela napas panjang. Sejenak dia melirik Bayu yang berdiri tak jauh dari Iptu Aning sebelum alihkan pandang ke arah Cakra yang sudah berdiri sambil pegangi dadanya yang serasa mau pecah. “Baiklah, saya menyerah!” ucap Umar sambil menyodorkan tangannya.
Iptu Aning melangkah mendekat diikiti dua anak buahnya yang tetap menodongkan pistol. Iptu Aning bersiap memborgol Umar ketika tiba-tiba terdengar suara berat Cakra. “Bukan dia pelakunya.”
Cakra melangkah mendekati Iptu Aning yang saat itu kerenyitkan dahi. Cakra menyodorkan tangan. “Borgol saya, Sudarmono saya yang menghabisi. Pak Umar tidak bersalah.”
Iptu Aning kebingungan lalu alihkan pandang kearah Umar. “Apa maksudnya ini.”
Umar Tertawa kecil lalu melangkah mendekati Cakra. “Terima kasih, masih tersisa rupanya jiwa kesatriamu.”
Cakra hanya menunduk. Sesaat tadi terlihat dia meringis sambil pegangi bagian dada yang sakit sebelum berucap pelan. “Pak Umar, saya titip anak istri saya.”
Umar Khartayam terdiam sejenak. Amarahnya masih tersisa. Ingin ditumpahkannya saat itu juga, tapi Cakra kembali memohon. “Saya bersalah, tapi anak istri saya tidak tahu apa-apa.”
Amarah Umar Khartayam akhirnya mereda dan berucap tegas. “Jawab dengan jujur, bagaimana mobil dan namaku ada di hotel itu.”
“Sejak awal saya sudah jujur. Soal mobil dan nama Pak Umar saya tidak tahu. Perintah saya cuma untuk menghukum Sudarmono.” Suara Cakra terdengar terbata-bata.
Umar akhirnya melemah, meski dia sadar permintaan Cakra bukan hal mudah untuk dilakukan. Terlebih setelah sadar sosok yang akan dihadapi adalah orang yang sangat berkuasa. “Baiklah. Anak istrimu tidak bersalah. Aku akan jaga seperti menjaga anak dan istriku.”
Mendengar itu Cakra menunduk hormat. “Terima kasih.” Ucap Cakra lalu alihkan pandang pada Iptu Aning. “Saya siap.” Cakra melangkah menuju mobil polisi di halaman Gedung Pencakar Langit Subangkit Raya. (Tamat)
