MEDIASERUNI.ID – Malam belum benar-benar menyerah kepada pagi. Di Rumah Sakit Pemda, lorong menuju ruang forensik masih lengang. Lampu-lampu neon menggantung pucat di langit-langit, sebagian berkedip pelan, seolah ikut menahan kantuk yang menggantung di udara.

Aroma antiseptik menusuk hidung. Dari kejauhan terdengar bunyi monitor jantung seorang pasien. Bip… bip… bip… Lalu sunyi kembali.

Di balik pintu bertuliskan FORENSIK, Dokter Bambang Satria berjalan mondar-mandir.
Sudah hampir satu jam ia melakukan itu.
Map hasil autopsi berada di tangannya. Sudutnya telah kusut karena terlalu sering diremas. Di atas meja, beberapa lembar foto jenazah Darmono Subroto terbuka.

Pengusaha itu ditemukan tewas di dalam mobilnya. Kasusnya seharusnya sederhana. Setidaknya, itulah yang diyakini semua orang. Namun Satria tahu, kematian Darmono menyimpan sesuatu yang tidak sederhana.

Ia berhenti. Tatapannya jatuh pada salah satu foto. Wajah Darmono tampak tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang disebut meninggal karena kekurangan oksigen di dalam kendaraan.

Satria menelan ludah. “Ini tidak masuk akal…”
Suaranya nyaris seperti bisikan. Ia mengambil foto tersebut dan mendekatkannya ke lampu. “Luka seperti ini…” Kalimatnya terputus. Satria menutup mata sesaat.

Selama bertahun-tahun menjadi dokter forensik, ia telah melihat kematian dalam berbagai bentuk. Kecelakaan. Pembunuhan, bunuh diri, kekerasan, racun, bahkan jenazah yang nyaris tak lagi bisa dikenali.

Baca Juga:  Kerenlah! 18 Unit SPKLU PLN Siap Sukseskan HUT RI ke 79 di IKN Nusantara

Kematian selalu meninggalkan jejak. Dan tugasnya adalah membaca jejak tersebut.
Namun kali ini berbeda. Ada sesuatu yang hilang. Bukan dari tubuh Darmono. Melainkan dari penjelasan tentang bagaimana tubuh itu berhenti hidup.

Satria kembali membuka berkas. “Tidak ada luka, apalagi bekas senjata, tidak ada racun, tapi organ dalam tubuhnya luluh lantak. Sungguh tidak masuk akal…”

Tangannya mulai bergetar. Sejenak ia terlihat seperti melamun, ketika mendadak matanya membentur ponsel diatas meja. Nama Aria langsung terlintas di benaknya. “Ah, sebaiknya aku kasih tahu Aria…”

Dokter Bambang Satria merasa seperti berburu dengan waktu. Lengannya yang kurus langsung penyambar ponsel. Sekejap itu nada sambung terdengar.

Sekali. Dua kali. Tiga kali. “Aria… angkat.”
Empat kali. “Tolong…”

Telepon tersambung. Suara Aria terdengar ringan. “Hallo, Dokter. Tumben subuh-subuh begini telepon.”

Satria langsung menjawab. “Aria, aku butuh bantuanmu.”

Nada suaranya membuat Aria yang baru selesai menunaikan salat Subuh langsung berubah serius. “Ada apa?”

Satria tak langsung menjawab, sebaliknya menatap kembali berkas di hadapannya. Dari seberang suara Aria kembali terdengar. “Dokter, ada apa…”

Baca Juga:  Prasetyo Widiatmoko, S.I.P. Ucapkan Selamat Hari Bhayangkara ke-80, Apresiasi Dedikasi Polri untuk Masyarakat

Satria seperti tersentak. “Oh, maaf, Aria, pokoknya segera kau kesini. Ada sesuatu pada kematian Darmono.”

“Darmono… Pengusaha ibukota yang ditemukan meninggal di mobilnya.”

“Iya, aku yang mengautopsi mayatnya. bukankah kau sedang menelisuri kasusnya.”

“Iya dok, aku sedang menelusuri kasus itu, apa yang dokter temukan.”

“Firasatku mengatakan… Ini pembunuhan, dan dilakukan dengan cara yang tak biasa.”
Satria mengusap wajahnya. “Aku ingin kau datang ke sini, dan melihatnya langsung.

“Serius?”

“Sangat serius.

“Siap. Lima belas menit aku sampai.”

Telepon terputus. Satria meletakkan ponsel.
Untuk pertama kalinya malam itu, napasnya sedikit lega. Namun hanya sedikit. Karena di dalam dirinya, ada satu pertanyaan yang justru semakin besar. Apa sebenarnya yang membunuh Darmono? (Bersambung)