Karawang, MEDIASERUNI.ID – Sebanyak 10 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terbaik di Karawang mengikuti pitching bisnis dalam rangkaian Pekan Literasi Daerah Karawang 2026 di Resinda Park Mal.

Kegiatan Sabtu 29 Agustus 2026, digelar Pemerintah Kabupaten Karawang melalui Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus) bersama Pokja Literasi Keuangan dan Kewirausahaan atau Pokja 4.

Program UMKM Naik Kelas turut berkolaborasi dalam kegiatan tersebut dengan menghadirkan panggung pitching bisnis sekaligus bazar produk unggulan lokal.

Pendamping UMKM Naik Kelas 2026, Diantika, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pelaku UMKM agar tidak hanya mampu memasarkan produk, tetapi juga memahami pengelolaan dan pengembangan bisnis.

“Pekan Literasi ini terdiri dari beberapa Pokja. Untuk UMKM, kami berada di Pokja 4, yaitu Literasi Keuangan dan Kewirausahaan,” kata Deanti.

Menurutnya, UMKM yang mengikuti pitching merupakan peserta yang sebelumnya telah mendapatkan pendampingan selama tiga bulan.

Dalam pendampingan tersebut, para pelaku usaha diberikan berbagai materi, termasuk penyusunan Business Model Canvas (BMC), pengenalan operasional bisnis, hingga kemampuan mempresentasikan usaha di hadapan calon investor.

“Kami membawa UMKM yang sudah didampingi selama tiga bulan untuk berkolaborasi dalam kegiatan ini. Setelah mendapat pendampingan, para pelaku usaha kami dorong untuk membuat materi presentasi bisnis atau pitching,” ujarnya.

Persiapan pitching dilakukan selama sekitar satu bulan di Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Karawang. Dari sekitar 40 UMKM yang mengikuti pelatihan, dipilih 10 peserta terbaik untuk tampil dalam ajang tersebut.

“Karena lokasinya di Resinda Park Mall yang dikunjungi berbagai kalangan, momen ini sekaligus menjadi ajang promosi produk mereka,” ungkapnya.

Sebanyak 10 UMKM tersebut kemudian mempresentasikan bisnisnya di hadapan tiga juri yang berasal dari unsur akademisi, Pokja, serta Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop UKM) Karawang.

Baca Juga:  Kios Tani Milik Anggota DPRD Indramayu di Desa Kedungdawa Diduga Jual Pupuk Subsidi Diatas HET

Penilaian terhadap peserta masih dalam proses pengolahan. Para pemenang nantinya akan mendapatkan hadiah dari Bunda Literasi Karawang, Vida. Selain mengikuti pitching, para peserta juga memasarkan produknya melalui stan bazar UMKM.

Menurut Deanti, strategi tersebut membuat kegiatan pitching sekaligus menjadi sarana promosi langsung. Setelah mempresentasikan bisnisnya, peserta mengarahkan pengunjung untuk melihat dan membeli produk mereka di stan bazar.

“Di akhir pitching, mereka mengarahkan penonton, produk saya dijual di bazar sana. Pengunjung jadi tertarik dan langsung berburu produk ke bazar UMKM,” tuturnya.

Tak hanya 10 peserta pitching, sejumlah UMKM hasil kurasi lainnya juga turut memamerkan produk dalam bazar tersebut.

Antusiasme pengunjung disebut cukup tinggi. Bahkan, sejumlah produk dilaporkan telah habis terjual sekitar pukul 11.00 WIB sehingga pelaku usaha harus menambah stok.

“Ini efektif sekali untuk branding. Bahkan tadi sekitar jam 11.00 WIB sudah banyak produk yang sold out dan mereka harus mengambil stok tambahan. Antusiasmenya sangat luar biasa,” katanya.

Didorong Adaptif di Era Digital

Selain pitching bisnis dan bazar, program UMKM Naik Kelas juga memberikan pendampingan kepada pelaku usaha agar mampu beradaptasi dengan perkembangan digital.

Selama tiga hingga empat bulan pendampingan, pelaku UMKM mendapatkan materi mulai dari legalitas usaha, manajemen keuangan, hingga digitalisasi.

Pendampingan tersebut juga melibatkan sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika), Universitas Buana Perjuangan (UBP) Karawang, Horizon, Kiansantang, dan Telkom Bandung.

Deanti mengatakan pelaku UMKM saat ini dituntut untuk terus beradaptasi karena tren pemasaran digital berubah dengan cepat.
“Prinsip kami sekarang bukan lagi berkompetisi, melainkan kolaborasi. Pelaku UMKM didorong untuk saling bekerja sama,” jelasnya.

Baca Juga:  Penjabat Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin Tinjau Korban Puting Beliung di Bogor

Menurutnya, strategi pemasaran juga mengalami perubahan. Pelaku usaha tidak cukup hanya aktif membuat konten, tetapi perlu memahami bagaimana aktivitas digital tersebut dapat dikonversi menjadi penjualan.

“Dulu harus posting tiap hari, sekarang polanya berbeda. Fokusnya langsung ke konversi penjualan. Dulu personal branding sangat dominan, sekarang product branding juga tak kalah krusial,” katanya.

Saat ini terdapat sekitar 54 UMKM yang aktif mengikuti program pendampingan dan terbagi dalam dua kelompok. Jumlah tersebut, kata Deanti, disesuaikan agar proses pendampingan tetap efektif.

Program UMKM Naik Kelas juga kerap dilibatkan dalam berbagai kegiatan Pemerintah Kabupaten Karawang. Mulai dari kegiatan kuliner, event olahraga, hingga agenda yang digelar perangkat daerah.

Pemkab Karawang juga memberikan sejumlah fasilitas bagi pelaku UMKM, seperti pendampingan legalitas Nomor Induk Berusaha (NIB) melalui OSS, sertifikasi halal, pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), hingga fasilitasi pengujian Informasi Nilai Gizi.

“Pemkab Karawang sangat memfasilitasi UMKM. Mulai dari legalitas NIB, sertifikasi halal, HAKI, hingga pengujian Informasi Nilai Gizi,” ujarnya.

Deanti berharap pendampingan tersebut dapat membuat UMKM di Karawang terus berkembang dan memberikan dampak yang lebih luas.

“Harapannya UMKM terus tumbuh. Tidak sekadar jualan, tetapi juga memberi dampak positif bagi diri sendiri, keluarga, lingkungan sekitar, dan khususnya Kabupaten Karawang,” pungkasnya. (Damar)