LAMPU neon di ruang forensik itu berdengung lirih, berkedip-kedip lemh seolah kehabisan napas di tengah malam yang kian pekat. Suara ketukan pelan pada pintu baja dingin laksana hantu memecah keheningan, mengantar langkah kaki yang membawa serta aroma malam dan rasa penasaran yang membara.
Satria Kesumah, seorang dokter yang biasanya berdiri gagah dan tenang di hadapan maut, menyambut tamunya, dengan perasaan lega. Di ambang pintu, berdiri Bayu Permana, Wartawan investigasi News Seruni, dengan jaket cokelat khasnya, yang masih menyisakan sisa-sisa angin luar, matanya tajam menyelidik, menatap wajah sang dokter yang tak lagi menyembunyikan ketegangan.
Bayu memang wartawan News Seruni. Dia belum lama ganti nama. Sebelumnya Aria Laksana, namun entah kenapa teman-temannya mendadak memanggil Bayu Aria, padahal nama sesungguhnya adalah Bayu Permana, putra Jaka Permana, seorang pemilik perkebunan Kembang Seruni di Lembah Seruni, di daerah dingin Lembang, Bandung Barat.
Setelah menyesuaikan udara dingin AC di ruang dokter Satria, Bayu bertanya pelan, namun tetap dengan suara menyelidik. “Ada apa dok, biasanya dokter selalu tenang menghadapi mayat, tapi barusan melihatku seperti akan mayat,” ucap Bayu menggoda, disusul tawa renyahnya, memecah sepi, menyusup ke dalam ruangan yang suhunya seakan menembus tulang. “Baru kali ini wajah Dokter kelihatan tegang, kayak habis lihat hantu.”
Tanpa senyum, tanpa gurauan balasan, Satria menyodorkan sebuah map autopsi. Kertas-kertas di dalamnya sedikit bergetar dalam genggaman tangannya yang kaku. “Baca ini.”
Bayu kerenyitkan dahi, dia melihat jemari dr. Satria gemetar. Bayu pun sadar yang dihadapi sang dokter saat ini bukanlah kasus biasa. Tanpa bertanya lagi maf itu langsung diterima, membalik lembar demi lembar dengan cepat, mencari celah dari sebuah kematian yang oleh polisi dianggap sepele. “Polisi bilang korban mati karena kehabisan oksigen di dalam mobil yang terkunci.” Suara Bayu tenang.
“Kesimpulan itu terlalu cepat diambil,” potong Satria dingin, suaranya berat menahan beban pikiran yang menghujam.
“Kenapa, Dok?”
Satria menarik Bayu mendekat pada meja periksa, menunjuk deretan foto klinis yang terekam kamera forensik. “Lihat ini, seperti Hantu. Tidak ada patah tulang. Tidak ada luka tusuk. Organ dalamnya sempurna tanpa cacat kronis.”
Bayu mengernyit, dahi berkerut dalam. “Berarti spekulasi keracunan benar?”
“Skrining toksikologi negatif,” tandas Satria pelan. “Tidak ada sianida, arsenik, maupun zat asing. Jantungnya memang berhenti, tapi itu bukan akar masalahnya. Paru-parunya menunjukkan hipoksia berat, seolah tubuhnya dirampas oksigennya seketika. Tapi anehnya… saluran napasnya bersih total. Tidak ada sisa perjuangan, tidak ada kejang-kejang penderitaan fisik yang lazim pada orang yang mati lemas.”
Mendengar itu, udara di ruangan forensik terasa semakin menipis. Bayu menelan ludah, dadanya mulai bergemuruh oleh rasa ngeri yang merayap pelan. “Jadi… seolah-olah oksigen di dalam tubuhnya hilang begitu saja?”
Satria terdiam. Ia mengangkat kemungkinan-kemungkinan medis yang mulai kehilangan akal sehat: racun canggih, gas misterius, hingga anomali elektromagnetik. Namun, semua itu runtuh oleh satu kenyataan pahit yang tersurat di tubuh korban.
“Kemungkinan keempat adalah yang paling tidak ingin kuucapkan,” bisik Satria, suaranya bergetar hebat. “Sebagai dokter, aku diajarkan logika. Tapi… luka mikro di jaringan leher dan dada Darmono… pola itu tidak pernah ada dalam literatur kedokteran mana pun di muka bumi ini. Ini perbuatan hantu.”
Ruang forensik itu seolah tenggelam dalam keabadian yang mencekam. Ada batas tipis di mana ilmu pengetahuan berhenti, dan sesuatu yang gelap, asing, serta menakutkan mengambil alih.
Bayu menatap foto jenazah Darmono yang kaku di dalam map. Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang pencari berita yang keras kepala, ia merasakan ketakutan yang bukan berasal dari ancaman pisau pembunuh, melainkan dari sebuah teka-teki abadi yang melampaui nalar manusia.
Perburuan telah dimulai, melangkah ke dalam lorong gelap tanpa ujung, di mana bayang-bayang kebenaran siap menelan siapa saja yang berani mendekat. Lantas, apa yang dilakukan Bayu? Terus ikuti kisahnya. (bersambung)
