PEMALANG, MEDIASERUNI.ID – Razia boleh rutin digelar, tapi praktik yang satu ini seperti tak pernah benar-benar hilang. Di sekitar Terminal Induk Pemalang hingga Jalur Lingkar Pantura, dugaan aktivitas prostitusi terselubung masih santer terdengar dan disebut-sebut tetap beroperasi.

Dari pantauan di lapangan, kawasan tersebut mulai hidup menjelang tengah malam. Warung remang-remang yang tampak biasa saja, menjual kopi dan minuman, diduga menyimpan “layanan tambahan” bagi pengunjung tertentu.

Seorang pengunjung berinisial SJ (35) blak-blakan soal tarif. Menurutnya, transaksi di lokasi itu berada di kisaran Rp150 ribu hingga Rp200 ribu sekali pertemuan.

Baca Juga:  PLN Apel Siaga, Akan All Out Sukseskan Upacara HUT RI ke-79 di IKN Besok

“Bervariasi, tergantung kesepakatan. Tapi rata-rata segitu,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).

Pengakuan serupa datang dari JN. Ia menyebut beberapa titik, termasuk area yang dikenal warga sebagai “Calam”, menyediakan fasilitas karaoke sekaligus perempuan pemandu hiburan.

“Ada tempatnya, ada orangnya. Tinggal pilih saja, harganya sekitar 200 ribuan,” katanya.

Kondisi ini memunculkan tanda tanya besar di tengah masyarakat. Pasalnya, penertiban oleh Satpol PP Kabupaten Pemalang disebut rutin dilakukan. Namun di sisi lain, aktivitas yang sama diduga tetap berlangsung, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terbuka.

Baca Juga:  Anggota DPRD Jabar Jenal Aripin Serap Aspirasi Warga Desa Cintaasih Karawang, Infrastruktur Jadi Sorotan

Publik pun mulai mempertanyakan: apakah razia hanya formalitas? Atau ada celah yang membuat praktik ini terus lolos?

Hingga kini, pihak Satpol PP belum memberikan pernyataan resmi terkait temuan di lapangan maupun langkah konkret untuk menutup rapat aktivitas tersebut di jalur Pantura.