Bandung Barat, MEDIASERUNI.ID – Krisis pengelolaan sampah dan konflik ruang sosial mencuat di RW 17 Jati Baru, Desa Jati Endah Kecamatan Cilengkrang Kabupaten Bandung. Warga yang selama lebih dari 15 tahun membangun sistem pengelolaan sampah mandiri, kini menghadapi ancaman pengosongan lahan yang selama ini digunakan sebagai pusat aktivitas lingkungan dan sosial masyarakat.

Pegiat Pager Saguling Haris Bunyamin, menilai persoalan tersebut bukan lagi sekadar masalah sampah, melainkan menyangkut masa depan ruang hidup masyarakat, dan keberlangsungan gerakan lingkungan berbasis komunitas.

“Ketika masyarakat yang menjaga lingkungan justru kehilangan ruang sosialnya, maka yang dipertaruhkan bukan hanya persoalan sampah, tetapi masa depan hubungan antara pembangunan, masyarakat, dan lingkungan hidup itu sendiri,” ujar Haris Bunyamin, Sabtu 23 Mei 2026.

Selama bertahun-tahun, warga RW 17 Jati Baru membangun sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat secara swadaya. Gerakan tersebut bahkan sempat menjadi perhatian berbagai pihak dan dijadikan lokasi studi banding tingkat ASEAN maupun internasional.

Baca Juga:  Proyek Pemeliharaan Jalan Jenderal Sudirman Capai 70 Persen — City Walk Siap Percantik Wajah Kota Pemalang

Namun dalam beberapa tahun terakhir, sistem pengelolaan mulai melemah akibat rusaknya fasilitas, lemahnya pengawasan, dan menurunnya disiplin lingkungan masyarakat. Kondisi itu memicu pencemaran dan keluhan warga.

Sejak kepengurusan RW baru dilantik pada 27 Maret 2026, pembenahan mulai dilakukan melalui penataan pengangkutan sampah, penguatan partisipasi warga, serta evaluasi fasilitas pengolahan yang rusak.

Di tengah proses tersebut, muncul tuntutan penghentian aktivitas dan pengosongan lahan yang disebut sebagai aset milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan direncanakan untuk pembangunan masjid. Warga menilai belum ada solusi alternatif yang jelas bagi keberlangsungan aktivitas sosial dan pengelolaan lingkungan masyarakat.

Situasi itu kemudian melahirkan gerakan Pangauban Gerakan Santri Gugus Lingkungan (PAGER SAGULING), sebuah gerakan yang menggabungkan nilai religius, budaya lokal, dan kepedulian lingkungan.

Baca Juga:  Kapolres Tasikmalaya Kota Tanam Palawija, AKBP Joko ; Dukung Program Ketahanan Pangan

“Persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan teknologi dan proyek besar. Kesadaran masyarakat dan ruang sosial warga justru menjadi fondasi utama penyelamatan lingkungan,” kata Haris.

Menurutnya, komunitas penggerak lingkungan berbasis masyarakat harus mendapat perlindungan dan dukungan nyata, di tengah darurat sampah yang sedang dihadapi Bandung Raya. (Dadan)