Pendapatan Naik 50%, Tiga Studio Animasi Indonesia Ungkap Dampak Nyata AI
MEDIASERUNI.ID – Industri animasi Indonesia tengah berada di titik transformasi. Tiga studio membuka data bisnis mereka — dan angka yang muncul menggambarkan pergeseran yang tidak bisa diabaikan: efisiensi produksi drastis, lonjakan pendapatan, sekaligus pertanyaan besar tentang masa depan para animator.
Kontroversi Iklan MBG Jadi Titik Api Perdebatan
Semua bermula dari kontroversi yang sempat ramai di awal 2025. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) merilis iklan program Makan Bergizi Gratis dalam format animasi berbasis AI — langsung memicu pertanyaan publik: mengapa pemerintah memilih AI ketimbang berkolaborasi dengan studio animasi profesional lokal?
Dugaan penghematan anggaran menguat, mengingat teknologi AI mampu memangkas waktu produksi dan menekan jumlah SDM yang terlibat. Wakil Menteri Komdigi, Nezar Patria, merespons singkat.
“Itu kan bagian dari kreativitas. Saya kira tidak ada salahnya menggunakan AI,” ujar Nezar, pada Februari 2025.
Setahun berselang, konten animasi AI makin sering ditemui di berbagai medium. Tidak hanya dalam bentuk konten amatir (AI slop), melainkan juga iklan pemerintah, iklan swasta, hingga film layar lebar sci-fi Pelangi di Mars yang tayang di bioskop pada Maret 2026.
Demokratisasi Animasi: Antara Ideologi dan Bisnis
Fenomena maraknya animasi AI dibaca oleh kalangan akademisi sebagai pergeseran struktural industri. Lecturer Specialist DKV Binus University sekaligus Deputi Edukasi AINAKI, Dermawan Syamsuddin, menyebutnya sebagai demokratisasi — dari eksklusif menjadi inklusif.
Ia melihat dua perspektif yang saling berseberangan, namun keduanya sama-sama punya pijakan argumen yang kuat.
“Dari segi ideologis, AI dianggap mengancam [industri animasi] karena pembuatan animasi seharusnya merujuk ke pakem-pakem yang selama ini digunakan. Dari segi bisnis, apa pun yang menguntungkan itu yang dipilih. Mengharamkan AI jadinya tidak relevan,” kata Dermawan kepada CNBC Indonesia.
Dermawan menegaskan pernyataannya merupakan opini pribadi, bukan posisi resmi AINAKI. Organisasi tersebut, menurutnya, belum menentukan arah formal terkait penggunaan AI dalam industri animasi.
Visorra: Dari 12 Hari Kerja Jadi 5, tapi Transisi Butuh Satu Tahun Penuh
Salah satu studio yang sudah merasakan dampak langsung AI adalah Visorra, unit bisnis di bawah PT Sora Kreatif Indonesia yang berbasis di Cijantung, Jakarta. Perusahaan ini mulai mengimplementasikan AI dalam proses animasi sejak pertengahan 2024.
Transisinya tidak berjalan mulus. Direktur PT Sora Kreatif Indonesia, Shinta Puspita Kencanasari, mengungkap bahwa tim animatornya sempat enggan karena AI justru menambah tahapan pekerjaan baru, yaitu prompting. Ditambah lagi, visual yang dihasilkan AI kerap masih memiliki distorsi sehingga membutuhkan proses quality control yang jauh lebih detail dibanding pengerjaan manual.
Setelah melewati masa transisi satu tahun, hasilnya mulai terukur.
“Kalau tipe animasi sederhana, bisa memakan waktu 12 hari kerja dengan proses full manual. Sementara kalau pakai AI, bisa 5-10 hari kerja sampai selesai,” Shinta menjelaskan.
Dari sisi harga, Visorra mematok Rp2,5–4 juta per menit untuk video animasi AI level sederhana-menengah, dan Rp8,5–10 juta per menit untuk kompleksitas lebih tinggi. Sementara animasi teknis yang membutuhkan konsistensi visual tinggi masih dikerjakan secara manual — dengan harga Rp18–20 juta per menit dan waktu pengerjaan rata-rata 2–3 bulan.
Unicam Studio: Pendapatan Meroket 50%, Animator Justru Bertambah
Unicam Studio dari Yogyakarta punya cerita berbeda — dan angkanya lebih mencolok. Studio ini mengadopsi AI pada 2024 melalui anak usahanya, Unimasi, dan awalnya bukan karena strategi bisnis yang direncanakan, melainkan murni karena permintaan klien.
CEO Unicam Studio, Andri Saputro, menceritakan momen awalnya secara langsung.
“Waktu itu Oktober 2024 ada klien yang mau dibuatkan film dokumenter tanpa shooting. Saya sanggupi permintaan dia dan ternyata hasilnya memuaskan. Dari situ nama saya dikenal dan makin banyak permintaan untuk membuat proyek animasi AI dari universitas, rumah sakit, dan berbagai industri. Bahkan, baru-baru ini brand dari Australia juga yang meminta kami untuk membuatkan animasi AI […]. Bulan Juli nanti saya akan ke Rusia juga untuk pameran menampilkan video AI kami,” kata Andri.
Efisiensi biaya yang dihasilkan AI terbilang drastis. Andri membandingkannya langsung lewat proyek nyata.
“Masalah bujet jauh banget bedanya. Sangat-sangat ekonomis ketika menggunakan AI. Misalnya saya ada proyek dengan perusahaan sawit yang ingin memperlihatkan suasana masa depan. Kalau bikin 3D-nya mungkin bisa sampai Rp500 juta atau miliaran karena sangat kompleks dan detail. Ketika menggunakan AI, bujet bisa ditekan sampai hanya dua digit. Mungkin bisa tinggal 10% dari anggaran yang semestinya dikeluarkan dengan proses manual,” Andri menjelaskan.
Hasilnya terukur dalam laporan bisnis. Unicam mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 50% setelah mengintegrasikan AI, dibandingkan 2023 saat animasi masih sepenuhnya manual.
Yang menarik, alih-alih merumahkan karyawan, Unicam justru berencana menambah rekrutmen baru seiring lonjakan permintaan. Dari 15 karyawan yang ada, 4 di antaranya adalah animator — posisi yang disebut Andri sangat krusial untuk memaksimalkan penggunaan software AI.
“AI itu mau nggak mau tidak bisa kita lawan, tetapi harus dirangkul. Kalau mau dilawan, ya susah,” ujarnya.
Epic Anima: 70% Klien Potensial Sudah Minati Animasi AI
Berbeda dari dua studio sebelumnya, Epic Anima yang berdiri sejak 2017 baru mulai menawarkan jasa animasi AI pada awal 2026. Pendirinya, Nurul Maagrufah, menceritakan bahwa diskusi internal soal AI sudah dimulai sejak akhir 2025.
“Keputusan ini [menggunakan AI] didorong dua hal. Pertama, kami melihat perkembangan AI yang sangat progresif dan mulai membentuk kebutuhan baru di pasar. Kedua, sebagai perusahaan kreatif, kami perlu beradaptasi dan mempersiapkan diri terhadap arah industri ke depan,” Nurul menjelaskan.
Hingga kuartal pertama 2026, porsi proyek Epic Anima masih didominasi animasi manual — 60% manual berbanding 40% AI. Namun sinyal pasar sudah berbicara: sebanyak 70% klien potensial lebih berminat ke animasi AI, berbanding 30% untuk manual.
Nurul mengakui Epic Anima masih lebih nyaman di jalur manual, terutama untuk proyek-proyek yang membutuhkan kontrol kualitas ketat, integrasi branding yang konsisten, dan kepastian hasil akhir yang terukur.
Animator Punah, atau Justru Berevolusi?
Data dari tiga studio ini menghadirkan gambaran yang lebih bernuansa dari sekadar pertanyaan soal kepunahan profesi. Ketiganya tidak melakukan PHK; dua di antaranya bahkan menambah rekrutmen.
Yang berubah bukan kebutuhan terhadap animator, melainkan sifat pekerjaannya. Kemampuan dasar animasi tetap dibutuhkan — untuk mengontrol output AI, menjaga konsistensi visual, dan memastikan kualitas yang dihasilkan platform seperti Midjourney, Google Veo 3, Runway, dan Kling sesuai standar profesional.
Demokratisasi animasi yang disebut Dermawan Syamsuddin terbukti sedang berjalan: akses ke produksi animasi meluas, biaya turun drastis, dan klien dari berbagai segmen kini bisa menjangkau jasa yang sebelumnya eksklusif untuk anggaran besar. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah AI akan masuk industri — melainkan seberapa cepat para pelakunya mampu bertransformasi.
FAQ
Q: Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat animasi AI dibanding manual?
A: Menurut Visorra, animasi sederhana yang biasanya memakan 12 hari kerja secara manual dapat diselesaikan dalam 5–10 hari kerja menggunakan AI. Untuk animasi teknis kompleks, proses manual masih diperlukan dengan waktu pengerjaan rata-rata 2–3 bulan.
Q: Berapa harga jasa pembuatan animasi AI di Indonesia?
A: Berdasarkan data Visorra, harga animasi AI level sederhana-menengah dipatok Rp2,5–4 juta per menit. Untuk kompleksitas lebih tinggi, berkisar Rp8,5–10 juta per menit. Sementara animasi teknis yang masih dikerjakan manual dihargai Rp18–20 juta per menit.
Q: Apakah penggunaan AI di studio animasi menyebabkan PHK animator?
A: Berdasarkan pengalaman studio yang diwawancarai CNBC Indonesia, tidak ada PHK yang terjadi. Unicam Studio bahkan berencana menambah rekrutmen baru. Peran animator tetap dibutuhkan untuk mengontrol output AI dan memastikan kualitas visual sesuai standar profesional.
Q: Seberapa besar penghematan biaya produksi animasi dengan teknologi AI?
A: CEO Unicam Studio Andri Saputro menyebut penggunaan AI dapat menekan biaya produksi hingga hanya 10% dari anggaran yang biasanya dikeluarkan secara manual. Sebuah proyek 3D yang bisa menelan biaya Rp500 juta hingga miliaran rupiah dapat dikerjakan dengan anggaran dua digit menggunakan AI.
Q: Apa saja platform AI yang digunakan studio animasi Indonesia?
A: Studio animasi Indonesia memanfaatkan berbagai platform AI generatif seperti Midjourney, Google Veo 3, Runway, dan Kling untuk proses produksi animasi. Pemilihan platform disesuaikan dengan kebutuhan proyek dan tingkat kompleksitas visual yang diinginkan klien.

Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, dan pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK). Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.
