Karawang, MEDIASERUNI.ID – Kehadiran industri migas berskala besar di Kecamatan Cilamaya, Kabupaten Karawang, belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar. Pemerintah kecamatan menyoroti kontribusi perusahaan terhadap pembangunan infrastruktur dan kebutuhan sosial warga, terutama melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR).
Camat Cilamaya Nurhassan mengatakan, pihaknya masih merasakan kekecewaan terhadap kontribusi salah satu perusahaan, yakni Pertagas. Menurut dia, keberadaan perusahaan tersebut belum memberikan manfaat yang dirasakan secara optimal oleh masyarakat di wilayah operasionalnya.
“Kekecewaan kerap kami rasakan dari perusahaan Pertagas, sebab eksistensi mereka selama ini belum membawa kebaikan atau manfaat yang dirasakan masyarakat sekitar,” ujar Nurhassan, Selasa 3 November 2026.
Ia mencontohkan, pihaknya pernah menyampaikan proposal bantuan untuk kegiatan peringatan Hari Kemerdekaan secara langsung kepada perusahaan. Namun, hingga saat ini, menurut dia, belum ada tanggapan atas pengajuan tersebut.
“Bahkan Pertamina tidak memberikan reaksi apa pun saat dikirimi proposal kemerdekaan, padahal proposal sudah disampaikan secara langsung,” katanya.
Sebaliknya, Nurhassan menilai Jawa Satu Power (JSP) telah menunjukkan kontribusi terhadap masyarakat, meskipun perusahaan tersebut relatif lebih baru beroperasi di wilayah Cilamaya.
Di luar persoalan bantuan sosial, Nurhassan juga menyoroti kebutuhan infrastruktur dasar masyarakat, khususnya penyediaan air bersih. Meski kondisi kekurangan air dan sanitasi di Cilamaya belum separah sejumlah wilayah lainnya, kebutuhan terhadap fasilitas tersebut tetap perlu mendapat perhatian.
Salah satu persoalan yang dihadapi warga adalah fasilitas pengeboran air yang digunakan secara bersama-sama. Tingginya intensitas pemakaian membuat sejumlah peralatan lebih cepat mengalami kerusakan.
Menurut dia, masyarakat sebenarnya telah berupaya mengumpulkan iuran untuk menyediakan titik pengeboran baru. Namun, warga berharap dukungan perusahaan dapat membantu menyediakan fasilitas dengan kualitas dan daya tahan yang lebih baik.
“Kami menyadari bahwa pemerintah kabupaten tidak mungkin membiayai 100 persen seluruh pembangunan di desa. Karena itu, tidak ada salahnya jika CSR perusahaan turut membantu mengentaskan persoalan yang dihadapi masyarakat,” ujarnya.
Selain penyediaan air bersih, Nurhassan menyebut sejumlah kebutuhan infrastruktur lain yang memerlukan perhatian, di antaranya penanganan pendangkalan sungai, pengendalian pertumbuhan eceng gondok, hingga pengadaan alat berat untuk mendukung pekerjaan di lingkungan masyarakat.
Ia juga menyoroti perlunya pemerataan penyaluran program CSR di wilayah Kecamatan Cilamaya. Sebab, menurut dia, sejumlah desa seperti Cilamaya, Mekarmaya, dan Muara telah menerima bantuan perusahaan dengan menyesuaikan kapasitas serta kemampuan pendanaan masing-masing perusahaan.
Sementara itu, beberapa desa lainnya masih menghadapi keterbatasan dukungan untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur dan sosial masyarakat.
Nurhassan berharap perusahaan-perusahaan yang beroperasi di kawasan Cilamaya dapat meningkatkan komunikasi dengan pemerintah desa dan kecamatan. Dengan demikian, program CSR dapat disalurkan berdasarkan kebutuhan riil masyarakat serta menjangkau wilayah yang selama ini belum memperoleh dukungan secara memadai. (damar)
