Karawang, MEDIASERUNI.ID – Perasaan trauma menjadi momok menakutkan bagi anak-anak maupun remaja yang menjadi korban kejahatan seksual, khususnya kasus pedofilia. Kepedihan mendalam yang mereka panggung tak jarang menyisakan bayang-bayang dendam di masa depan.

Staf Ahli Psikologi UPTD PPA Kabupaten Karawang, Cempaka Putrie Dirnala, mengungkapkan bahwa anak-anak yang pernah menjadi korban pelecehan seksual berisiko mengulangi pola serupa di kemudian hari jika tidak ditangani dengan tepat.

“Korban pelecehan seksual pada anak di bawah umur atau pedofilia cenderung membalaskan rasa sakit mereka pada korban berikutnya. Efeknya ibarat fenomena zombie, di mana korban berpotensi berubah menjadi pelaku,” ujar Cempaka kepada Mediaseruni, Kamis 5 November 2026.

Cempaka menjelaskan perbedaan respons psikologis antara anak-anak dan remaja saat mengalami pelecehan. Anak di bawah usia 12 tahun umumnya belum memahami secara utuh apa yang terjadi pada diri mereka.

Sementara itu, anak usia remaja biasanya sudah menyadari bahwa tindakan tersebut salah, namun diliputi rasa takut yang luar biasa.

Ia juga menggarisbawahi bahwa proses pemeriksaan atau interogasi yang meminta korban menceritakan kembali kronologi kejadian secara berulang justru berpotensi memantik trauma baru (retraumatization).

“Dari segi emosional, anak-anak korban pedofilia akan mengalami perubahan drastis, seperti menjadi mudah marah, sensitif, hingga mengalami tantrum,” terangnya.

Oleh karena itu, penyediaan edukasi dan pendampingan psikologis sejak dini menjadi krusial. Tanpa intervensi yang tepat, siklus kekerasan ini akan terus berulang ibarat bola salju.

Baca Juga:  Masjid An-Nahl PCM Gununghalu Diresmikan: Muhammadiyah KBB Teguhkan Arah Kaderisasi Ulama

Pola Pendekatan Predator Seksual

Dalam kasus penanganan kasus kekerasan anak yang melibat kan tersangka berinisial FRPP, Cempaka membeberkan modus operandi yang kerap digunakan pelaku.

FRPP diketahui mengincar anak-anak yang memiliki sifat ramah, komunikatif, hingga anak yang cenderung ingin menyenangkan orang lain (people pleaser).

Di balik penampilannya yang ramah di lingkungan warga, pelaku kerap melancarkan aksi bejatnya di tempat usaha warnet milik keluarganya. AP bahkan mengaku kerap dilecehkan secara berulang, mulai dari perabaan alat kelamin hingga tindakan eksibisionisme di balik etalase kaca.

Meski demikian, aksi pelaku tidak selalu berhasil. Beberapa anak bertindak tegas menolak atau menghalau tangan pelaku saat mencoba meraba paha mereka.

“Ada anak-anak yang dengan tegas menolak ajakan pelaku dengan alasan hendak makan, atau langsung menepis tangan pelaku sambil berkata tegas,” tutur Cempaka.

Ia menambahkan, ancaman fisik juga menjadi alat yang digunakan pelaku untuk membungkam para korban. Mengingat postur tubuh pelaku yang lebih besar, anak-anak merasa takut dan tertekan untuk melapor.

Kasus ini berdampak luas pada berbagai usia, mulai dari anak berusia 9 tahun hingga remaja jenjang SMP.

Pada salah satu kasus anak berusia 9 tahun, korban mengalami demam tinggi secara mendadak setiap kali hendak berangkat sekolah akibat ketakutan dan trauma mendalam yang dirasakannya.

Baca Juga:  Bantuan Kacer Tahun Ini Rp 4,89 Miliar Diluncurkan Bupati di Telagasari

Peran Penting Orang Tua dan Lingkungan

Menanggapi maraknya ancaman kekerasan seksual pada anak, Cempaka menegaskan pentingnya edukasi seks (sex education) sejak dini yang melibatkan peran aktif orang tua, guru, dan lingkungan terdekat.

Edukasi ini penting agar anak memahami batasan tubuh mereka, serta mampu mengenali tindakan apa yang pantas dan tidak pantas dilakukan oleh orang lain.

Selain itu, orang tua diimbau untuk tidak menerapkan gaya pengasuhan yang terlalu kaku (strict parenting) agar anak merasa aman dan nyaman untuk bercerita, terutama saat menghadapi situasi sulit.

Orang tua juga harus peka dan rajin mengobservasi setiap perubahan perilaku anak. Jalin komunikasi dua arah secara terbuka.

“Orang tua juga perlu menyadari luka atau pola pengasuhan masa lalu agar bisa beradaptasi dengan tantangan zaman. Masa remaja adalah fase yang penuh pergolakan emosi dan hormonal, sehingga pendekatan yang tepat sangat dibutuhkan,” pungkas Cempaka. (damar)