Bandung, MEDIASERUNI.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat provinsi ini mengalami deflasi sebesar 0,05 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Juli 2026. Penurunan harga sejumlah bahan pokok menjadi faktor utama yang menekan laju inflasi.

“Komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, dan daging ayam ras,” kata Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, Senin 3 Agustus 2026.

Kondisi tersebut dipengaruhi panen raya di sejumlah daerah sentra produksi, seperti Kabupaten Bandung dan Garut, serta pasokan dari luar Jawa Barat.

Selain itu, menurunnya permintaan telur dan daging ayam selama masa libur sekolah, seiring berhentinya sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG), turut memicu deflasi.

Baca Juga:  HUT Purwakarta ke 194, Dedi Mulyadi Dorong  Purwakarta Kabupaten Terdepan di Jawa Barat

Komoditas penyumbang deflasi terbesar pada Juli 2026 meliputi bawang merah, cabai merah, emas perhiasan, cabai rawit, dan telur ayam ras. Sementara itu, kenaikan harga bensin, ketimun, biaya sekolah dasar, bawang putih, dan mobil menjadi penyumbang inflasi pada periode yang sama.

Meski mengalami deflasi bulanan, secara tahunan (year-on-year/yoy) Jawa Barat masih mencatat inflasi sebesar 2,72 persen. Inflasi tahunan terutama didorong kenaikan harga emas perhiasan, bensin, minyak goreng, beras, dan rokok kretek mesin.

Di sisi perdagangan, BPS mencatat neraca perdagangan Jawa Barat sepanjang Januari hingga Juni 2026 masih mencetak surplus sebesar USD 13,79 miliar. Nilai ekspor mencapai USD 19,60 miliar, meningkat 5,11 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, sedangkan impor tercatat USD 5,81 miliar.

Baca Juga:  Kodim 0612/Tasikmalaya Gelar FGD Pentahelix Untuk Pencegahan Bencana Alam

Amerika Serikat menjadi tujuan utama ekspor nonmigas Jawa Barat, disusul Filipina dan Jepang. Sementara itu, Tiongkok masih menjadi negara asal impor terbesar, diikuti Korea Selatan dan Jepang. (*)