MEDIASERUNI.ID – Sejarah penyebaran Islam di Tatar Sunda merupakan khazanah peradaban yang kaya dan terus menjadi bahan kajian para sejarawan. Di tengah berkembangnya berbagai pandangan mengenai asal-usul dakwah Islam di Jawa Barat, masyarakat diharapkan mampu menyikapinya secara arif, mengedepankan semangat persatuan, serta menjadikan sejarah sebagai sumber pembelajaran, bukan pemecah persaudaraan.
Dalam sebuah rangkuman sejarah, Aang Miftahudin dari Gesantara Kota Cimahi mengajak masyarakat mengenal beberapa tokoh yang diyakini memiliki peran penting dalam perjalanan dakwah Islam di tanah Sunda.
Menurut sejumlah riwayat, Rakeyan Sancang (670 M), putra Prabu Kertawarman dari Tarumanagara, dikenal sebagai salah satu tokoh awal penyebaran Islam di wilayah Sancang, Garut. Jejak komunitas muslim awal disebut masih dapat ditelusuri di kawasan Gunung Nagara, Kabupaten Garut, meskipun kajian mengenai periode ini masih terus berkembang.
Memasuki abad ke-14, muncul sosok Pangeran Bratalegawa (1350-1420 M), putra Prabu Bunisora dari Sunda Galuh. Ia dikenal sebagai saudagar yang memperoleh julukan Haji Purwa karena diyakini sebagai muslim pribumi Galuh pertama yang menunaikan ibadah haji. Setelah tidak lagi berada di lingkungan istana, ia disebut membangun komunitas muslim awal di wilayah Cirebon.
Perjalanan sejarah kemudian bersinggungan dengan sosok Prabu Siliwangi atau Jayadewata (1401-1521 M). Berbagai literatur memuat beragam versi mengenai perjalanan keyakinannya. Sebagian menyebut beliau pernah memeluk Islam sebelum menjadi Raja Pajajaran, sementara versi lain, khususnya dari tradisi Kesultanan Cirebon, menyatakan beliau kembali memeluk Islam setelah turun takhta.
Terlepas dari perbedaan tersebut, banyak pihak sepakat bahwa pada masa pemerintahannya tercipta kehidupan yang relatif harmonis antara masyarakat Hindu, Sunda Wiwitan, dan Islam di bawah naungan Kerajaan Pajajaran.
Tokoh berikutnya adalah Pangeran Walangsungsang (1423-1529 M), putra Prabu Siliwangi yang memeluk Islam dan dikenal sebagai pendiri sekaligus Raja Cirebon pertama. Perannya menjadi tonggak penting dalam berkembangnya pusat dakwah Islam di pesisir utara Jawa Barat.
Selanjutnya hadir sosok Sunan Gunung Jati (1448-1568 M), cucu Prabu Siliwangi yang menjadi Sultan Cirebon sekaligus anggota . Melalui dakwah yang santun, pendekatan budaya, dan pembangunan pemerintahan, beliau memberikan kontribusi besar terhadap penyebaran Islam di wilayah Jawa Barat dan Nusantara.
Aang Miftahudin juga menyampaikan bahwa masih terdapat rentang waktu sekitar 700 tahun antara era Rakeyan Sancang hingga Pangeran Bratalegawa yang belum sepenuhnya terungkap dalam literatur sejarah.
Selain itu, sejumlah peneliti menemukan adanya pengaruh nilai-nilai Islam dalam sebagian tradisi kepercayaan Sunda Wiwitan, termasuk penggunaan nama-nama tokoh seperti Nabi Adam, Nabi Sulaiman, dan Nabi Muhammad. Kajian mengenai hal tersebut masih terus menjadi bahan penelitian akademik.
Di tengah munculnya berbagai wacana mengenai perubahan nama Provinsi Jawa Barat menjadi Sunda maupun usulan pembentukan Provinsi Galuh, masyarakat diajak untuk tidak mudah terprovokasi. Perbedaan pandangan sejarah hendaknya menjadi ruang dialog ilmiah yang memperkaya wawasan, bukan memecah persatuan.
Sejarah adalah warisan yang harus dipelajari dengan hati yang terbuka, menghormati berbagai sumber, serta mengedepankan persaudaraan. Dengan demikian, nilai luhur Tatar Sunda, semangat kebangsaan, dan ajaran Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam dapat terus menjadi perekat persatuan bangsa. Wallahu a’lam bishawab. (*)
Penulis
Aang Miftahudin, Gesantara Kota Cimahi
