MEDIASERUNI.ID – Hujan semalam masih menyisakan aroma aspal basah ketika halaman parkir Hotel bintang lima Mercusuar berubah menjadi lautan lampu biru dan kilatan kamera. Garis polisi membelah deretan mobil mewah, sementara wartawan berebut posisi untuk mengabadikan satu peristiwa yang akan mengguncang ibu kota.

Di dalam sebuah sedan hitam, Darmono Subroto, pengusaha ternama ibukota, ditemukan tak bernyawa. Tak ada darah. Tak ada luka. Hanya wajah yang membeku dengan jemari menggenggam keras seolah menahan rasa sakit yang hebat.

Saat mobil forensik membawa jenazah pergi, terlihat kerumunan wartawan mewawancarai Iptu Aning Sudirga, Polwan cantik berusia 27 tahun, wajahnya berbentuk oval, alis mata tipis, rambut panjang sebatas leher, memakai jaket warna gelap dan celana jeans warna biru, memakai sepatu sport warna putih, sorot matanya tajam mencerminkan watak yang keras dan tegas.

Sikapnya tenang dan tidak memperlihatkan emosi. Semua pertanyaan dijawab singkat. “Benar, identitas korban telah kami pastikan sebagai Bapak Darmono Subroto.”

“Apakah ada dugaan pembunuhan?”

“Penyebab kematian belum dapat dipastikan. Kami menunggu hasil autopsi.”

“Apakah ditemukan luka di tubuh korban?”

“Tidak ada luka luar.”

“Bekas muntah? Darah? Tanda-tanda keracunan?”

“Sejauh pemeriksaan awal, tidak ditemukan.” Iptu Aning menarik napas pendek.

Aria Laksana, wartawan muda berusia 22 tahun, memakai celana jeans belel warna hitam dan jaket berwarna coklat tua dengan tulisan NEWS SERUNI disebelah kiri bagian dada jaket, membawa ransel kecil seperti ransel tentara warna hijau tua di punggung.

Wajah ganteng berbentuk lonjong, alis mata tebal dengan sorot mata tajam dan tenang mencerminkan kecerdasan, tak segera beranjak pergi begitu sesi wawancara selesai. Aria menatap dalam-dalam wajah sang letnan. “Apa benar belum ada petunjuk sama sekali?”

Baca Juga:  Memanas! Diduga Puluhan Preman Bayaran Serang Warga, 2 Mobil Terbakar

Iptu Aning menghela napas. “Petunjuk selalu ada, tapi petunjuk bukan berarti kesimpulan.”

Aria nyengir. “Jawaban itu tidak terdengar seperti ‘belum tahu’. Terdengar seperti ada sesuatu yang belum bisa mbak ungkap.”

Iptu Aning tersenyum tipis, lalu berucap datar. “Aria… Aria, kau memang beda dengan kawan-kawanmu. Kau tetap saja sulit dibohongi.”

Aria kembali nyengir. “Berarti instingku benar?”

Iptu Aning kembali tersenyum. “Insting seorang wartawan bukan alat bukti. Saat ini, yang bisa saya sampaikan kami masih menunggu hasil autopsi.”

Iptu Aning kedipkan mata sambil tertawa kecil. Aria cuma nyengir memperhatikan Iptu Aning yang berbalik dan masuk ke mobil land rover warisan orang tuanya.

Aria masih berdiri memandang land rover Iptu Aning yang bergerak meninggalkan halaman parkir hotel bintang lima Mercusuar.

“Tidak ada luka… tidak ada tanda-tanda keracunan, tapi jari-jarinya seperti orang yang menahan rasa sakit luar biasa. Hmm, Iptu Aning… apa yang sebenarnya sedang kau sembunyikan…”

Aria menghela napas. Matanya tertuju pada mobil-mobil yang berjajar acak di halaman parkir. “Sebaiknya aku mulai dari halaman parkir.”

Pandangan Aria beralih ke pos parkir di bangunan bagian samping halaman perparkiran. “Hmm, bang Tendi… Mudah – mudahan ada petunjuk. Eh, tapi sebaiknya ku telepon saja.”

Aria mengeluarkan ponsel dari kantong celana, dan menelepon Tendi. Tendi, lelaki bertubuh gempal, dia kepala perparkiran Hotel Bintang Lima Mercusuar. Terdengar suara dari seberang. “Hallo dek, tumben telepon abang.”

“Hee, he, kangen sama abang.” Suara Aria di ponsel.

“Alaaah, gayamu dek, tak usah kau basa basi, hapal abang gaya kau. Apa yang bisa abang bantu.”

“Tahu aja abang, hehee. Mohon izin bang, minta data mobil-mobil yang parkir dalam 24 jam terakhir yang keluar sebelum kejadian tadi pagi.”

Baca Juga:  Dandim dan Kejati “Turun Gunung”! Proyek Irigasi di Pemalang Disisir, Pastikan Tak Ada yang Main-main

Dari seberang telepon terdengar tawa kecil Tendi. “Baru kau ini dek, wartawan yang tanya ini, polisi aja tadi langsung ngeloyor pergi.”

“Insting wartawan, bang.”

“Apalah kau sebut itu. Tapi abang dukung kau. Kaulah satu-satunya wartawan yang gak bisa dikelabihi. Tunggu sebentar, nanti abang WA data yang kau minta.”

“Aciaaap, terimakasih abangku, kapan-kapan aku traktir minum kopi Aceh.”

“Nah! Mantap itu, kapan-kapan abang tagih kopi Acehya, hehehee.”

Telepon putus. Tak lama, ponsel Aria berbunyi. Ada pesan masuk. “Mobil plat nomor atas nama Umar Khartayam keluar dua jam sebelum kejadian.”

“Umar Khartayam… Hmm, Umar Khartayam, siapa dia…” Aria bergumam sambil ketuk-ketuk dahinya. Lama dia begitu sebelum melanjutkan. “Ah, Sebaiknya kutanyakan ke bang Gugun.”

Selesai menyebut nama Gugun Wartawan News Seruni itu beranjak ke motor tuanya. Sekejap kemudian terdengar gerungan motor lalu bergerak meninggalkan halaman parkir hotel bintang lima Mercusuar.

Angin malam menerpa ketika Aria memacuh motor tuanya menyusuri jalan ramai ibu kota. Di balik helmnya, benak Aria kembali bekerja. Satu pertanyaan yang terus berputar: Siapa sebenarnya Umar Khartayam? (bersambung)